Industri pencitraan diagnostik global mengalami perkembangan signifikan. Pasar akan tumbuh dengan CAGR 4,7% antara 2013–2018 dan mencapai $27,1 miliar pada 2018. Amerika Serikat mendominasi pasar pada 2013 dengan kontribusi 34%, sedangkan negara-negara Eropa mengikuti. Kawasan Asia-Pasifik mencatat pertumbuhan lebih cepat, sekitar 5,9% pada periode yang sama. Potensi ekspansi besar karena negara-negara di kawasan ini siap mengadopsi teknologi pencitraan diagnostik modern.
Pada 2013, nilai pasar alat kesehatan Indonesia mencapai $593 juta, dengan 35% berasal dari segmen pencitraan diagnostik. Segmen ini mencakup teknologi CT scan, MRI, fluoroskopi, sistem sinar-X, film pencitraan, mamografi, dan ultrasonografi. Karena keterbatasan produksi alat medis berteknologi tinggi, Indonesia sangat bergantung pada impor. Sekitar 97,2% dari total perlengkapan medis berasal dari luar negeri. Studi terkini mengungkapkan bahwa pasar pencitraan diagnostik di Indonesia, meski masih berkembang, menghadapi sejumlah tantangan sekaligus membuka berbagai peluang.
1. Keterbatasan Anggaran
Di Indonesia, banyak rumah sakit mengoperasikan sistem sinar-X yang sudah melewati usia pakai, bahkan lebih dari 10 tahun. Kondisi ini menghambat penetrasi produk premium karena rumah sakit memiliki keterbatasan anggaran untuk investasi besar. Meski menjadi hambatan, situasi ini membuka peluang pengembangan atau pemasaran peralatan dengan keseimbangan antara kualitas dan biaya.
2. Infrastruktur
Amerika Serikat menyediakan akses internet berkecepatan tinggi secara luas, sehingga lebih banyak orang terhubung dan adopsi teknologi DR meningkat pesat. Sebaliknya, wilayah pedesaan Indonesia masih kekurangan fasilitas internet. Banyak rumah sakit belum memiliki konektivitas memadai, sehingga belum bisa mengimplementasikan teknologi DR. Meski begitu, Indonesia terus maju. Pemerintah meningkatkan pendanaan infrastruktur, dan akses internet menjangkau mayoritas penduduk, termasuk daerah terpencil. Karena itu, saat ini tepat untuk berinvestasi pada teknologi CR dan bertahap beralih ke DR seiring kesiapan infrastruktur.
3. Kebutuhan yang Menggerakkan Pasar
Di Amerika Serikat, keputusan pembelian perangkat pencitraan diagnostik oleh rumah sakit dan ahli radiologi umumnya didasarkan pada efisiensi alur kerja. Mereka mencari teknologi yang menghemat waktu dan biaya sekaligus memaksimalkan nilai dari peluang yang tersedia.
Sementara itu, Indonesia—dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa—hanya memiliki sekitar 1.000–1.500 radiolog dan kurang dari 2.000 rumah sakit. Banyak fasilitas kesehatan belum memiliki perangkat pencitraan medis, sehingga efisiensi alur kerja belum menjadi prioritas. Ketiadaan teknologi pendukung menjadi kendala utama, menyebabkan rendahnya adopsi sistem PACS dan teknologi DR, dengan pangsa pasar DR di bawah 10%. Saat ini, teknologi CR dianggap praktis karena menghilangkan proses cetak di ruang gelap. Namun, seiring bertambahnya rumah sakit, tenaga radiologi, dan pasien, sistem layanan kesehatan Indonesia harus segera bertransformasi menuju efisiensi dan modernisasi yang lebih tinggi.
Membandingkan pasar pencitraan diagnostik di AS dan Indonesia memang sulit karena AS merupakan pasar yang matang dibandingkan dengan pasar Indonesia yang sedang berkembang. Namun, Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan seiring dengan kematangan negara ini menuju teknologi perawatan kesehatan yang lebih baik, lebih maju dan lebih andal. Terlepas dari tantangan yang mungkin dihadapi negara muda ini, seperti yang telah ditunjukkan, terdapat banyak peluang yang tersedia dan diperkirakan akan terwujud di masa mendatang.