Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak langkah Bank Dunia yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2026 dari 4,8% menjadi 4,7%. Ia menyebut revisi ini sebagai kekeliruan serius yang berpotensi menggerus kepercayaan pasar dan investor.
Pada Februari, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa ekonomi berpeluang tumbuh 5,6% tahun ini, melampaui target resmi pemerintah sebesar 5,4%.
Saat berbicara kepada wartawan di Kementerian Keuangan pada Kamis (9 April), Purbaya menyatakan revisi proyeksi Bank Dunia tidak tepat dan tidak sejalan dengan data pemerintah, yang menurutnya justru menunjukkan penguatan ekonomi, bukan perlambatan.
Purbaya menilai asumsi harga minyak global yang tinggi turut menekan proyeksi pertumbuhan itu. Ia menambahkan, kondisi tersebut tidak akan bertahan lama, dan perkiraan pertumbuhan akan membaik seiring normalnya kembali harga energi.
Purbaya mengatakan Bank Dunia telah memunculkan sentimen negatif. Ia menambahkan bahwa ia akan menanti permintaan maaf saat harga minyak kembali normal dan mereka merevisi proyeksi ekonomi.
Menurutnya, jika pada kuartal pertama 2026 pertumbuhan sudah berada di kisaran 5,5–5,6%, maka proyeksi setahun penuh Bank Dunia secara implisit menunjukkan kontraksi pertumbuhan pada kuartal-kuartal selanjutnya.
“Bank Dunia seolah berasumsi ekonomi kita akan melambat tajam setelah kuartal pertama. Menurut saya, perhitungannya keliru,” tambahnya.
Ia menegaskan pemerintah akan terus memaksimalkan seluruh instrumen yang tersedia untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia mengatakan Bank Dunia berpeluang terbukti tepat di kemudian hari, meski ia belum dapat memastikannya. Menurutnya, data yang tersedia menunjukkan tren membaik dan pemerintah akan menjaga momentum tersebut.
Proyeksi Bank Dunia Tak Perlu Menjadi Perdebatan
Dalam Laporan Pembaruan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik edisi April 2026, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan dari 4,8% menjadi 4,7%. Bank Dunia mengaitkan penyesuaian itu dengan tekanan eksternal, termasuk kenaikan harga minyak global dan meningkatnya kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional.
Namun, Bank Dunia juga menilai bahwa sebagian tekanan tersebut dapat ditekan oleh penerimaan dari komoditas serta berbagai inisiatif investasi yang digerakkan pemerintah. Lembaga ini menambahkan, Indonesia masih memiliki bantalan ekonomi—termasuk ekspor komoditas—yang dapat membantu meredam dampak jangka pendek dari kenaikan biaya energi.
Berbeda dengan Purbaya, Airlangga menilai penurunan peringkat tersebut sebagai bagian dari tren global yang lebih luas. Ia juga menekankan bahwa banyak negara mengalami revisi serupa akibat ketegangan geopolitik dan konflik bersenjata yang menekan perekonomian dunia.
“Kalau melihat angkanya, pertumbuhan ini masih melampaui rata-rata global yang sekitar 3,4%,” ujarnya pada Kamis, seraya menambahkan bahwa hal ini mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat.
Airlangga mengingatkan agar proyeksi Bank Dunia tidak dibaca secara berlebihan. Ia menekankan bahwa angka tersebut disusun berdasarkan sejumlah asumsi dan bisa jadi belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
“Mereka punya proyeksi sendiri, tetapi dalam banyak kasus capaian kami justru melampaui perkiraannya,” katanya.
Pada 2025, perekonomian mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 5,11%, sedikit melampaui proyeksi Bank Dunia yang berada di angka 5%.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mencampuri proyeksi yang disusun lembaga internasional. “Kita tidak perlu ikut campur,” ujarnya.