Setelah beberapa insiden saat menyelam, Gusnar Ismail beralih menggunakan kangkung yang tumbuh di beting pasir Sulawesi Utara.
“Jika saya tersengat atau tertusuk hewan laut, saya segera mencari ubi jalar untuk dijadikan obat,” ujar Gusnar pada 14 Maret.
Di berbagai belahan dunia, masyarakat pesisir telah lama memanfaatkan batata, sebutan Gusnar, sebagai pengobatan mandiri untuk penyakit umum. Batata (Ipomoea pes-caprae), tanaman merambat yang terkenal sebagai morning glory pantai, menjalar di bukit pasir dan berbunga fuchsia.
Di Australia, masyarakat Aborigin sejak lama memanfaatkan pucuk dan daun tanaman ini untuk mengobati sengatan di perairan setempat. Di India, masyarakat menggunakan tanaman tersebut sebagai bagian dari ritual untuk mengusir roh jahat.
Dalam studi 2022 di jurnal Marine Drugs, peneliti Korea Selatan mengidentifikasi pemanfaatan morning glory pantai di pesisir tropis dan subtropis.
Di Nigeria, masyarakat memakai daun tanaman ini untuk radang sendi; di Indonesia, masyarakat merebusnya dengan minyak kelapa untuk luka.
Morning glory pantai tumbuh sebagai tanaman merambat yang kuat dan melimpah, menutupi kawasan pesisir tropis di berbagai belahan dunia. Namun, aktivitas perkebunan, penambangan pasir, pembangunan infrastruktur, erosi parah dapat menghilangkan tunas hijau serta bunga ungu tanaman ini dari pantai.
Gusnar mengaku telah lama menyaksikan berkurangnya keberadaan ubi jalar di kawasan pesisir.
Sebagian warga di pesisir utara Sulawesi memandang hilangnya tanaman obat sebagai tanda kerusakan lingkungan akibat persaingan global nikel.
Pengobatan tradisional menempati posisi ambigu dalam kesehatan global, mencakup praktik takhayul hingga terapi dengan manfaat medis terbukti atau potensial.
Perubahan ini mulai terlihat melalui upaya tenaga kesehatan global menciptakan kolaborasi, menyoroti pengobatan efektif seperti batata untuk meredakan racun ringan.
Desember lalu, praktisi pengobatan tradisional dan lebih dari 800 delegasi dunia berkumpul di New Delhi untuk KTT Global Kedua WHO.
Dr. Sylvie Briand menyatakan pesatnya perkembangan pengobatan tradisional sering tidak ada bukti kuat, regulasi memadai, maupun tata kelola berkelanjutan.
Kesenjangan Pengobatan
Briand menyatakan bahwa WHO membentuk Kelompok Penasihat Strategis dan Teknis baru untuk menjembatani kesenjangan pengobatan tradisional, komplementer, dan integratif.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa pengobatan tradisional dapat berperan dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan modern, termasuk meningkatnya penyakit tidak menular, ketimpangan akses layanan kesehatan dan dampak perubahan iklim.
Peneliti laboratorium telah membuktikan khasiat obat morning glory pantai, tetapi peneliti belum mengujinya melalui uji klinis plasebo buta ganda pada manusia.
Pada 2024, peneliti di Provinsi Aceh mengidentifikasi sifat antimikroba melalui studi laboratorium yang bertujuan mencari pengobatan bagi bakteri Staphylococcus aureus, penyebab infeksi serius seperti pneumonia dan sepsis.
Studi dari Korea Selatan di jurnal Marine Drugs mencatat bahwa analisis fitokimia sebelumnya telah mengidentifikasi berbagai senyawa aktif farmakologis pada tanaman tersebut, termasuk alkaloid, glikosida, steroid, terpenoid dan flavonoid.
Dalam pengobatan tradisional, tanaman ini dipercaya memiliki beragam khasiat, mulai dari meredakan nyeri sendi hingga mengatasi gastroenteritis, serta dianggap bersifat antimikroba dan antihistamin.
Para peneliti menyimpulkan bahwa senyawa fitokimia tersebut berperan dalam menciptakan beragam aktivitas biologis pada bagian tanaman dan ekstrak I. pes-caprae.
Gusnar membelah batang daun muda tanaman morning glory pantai, lalu mengoleskan getah bening yang keluar ke permukaan kulitnya.
Ia menjelaskan bahwa nelayan yang tersengat ubur-ubur atau menginjak ikan batu—kejadian yang bisa berakibat fatal—menggunakan cara ini sebagai upaya sederhana untuk meredakan rasa sakit.
Gusnar mengatakan bahwa jika seseorang tertusuk duri ikan lele—yang dalam bahasa Gorontalo disebut tola lo huwa—mereka akan segera mencari tanaman tersebut.
Namun di Gorontalo, tanaman merambat ini tidak hanya berperan bagi kesehatan manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Morning glory pantai berperan sebagai spesies perintis yang menstabilkan pesisir dengan mengikat pasir. Layaknya akar pohon yang menahan tanah dari longsor, tanaman merambat ini membantu mencegah erosi pantai berpasir.
Peran Krusial
Peran ini kian krusial seiring meningkatnya ancaman terhadap kawasan pesisir global akibat perubahan iklim dan aktivitas pembangunan manusia.
Sebuah penelitian yang terbit pada 2018 di Scientific Reports memperkirakan bahwa abrasi pantai telah menghilangkan sekitar 28.000 kilometer persegi daratan global, setara dengan sekitar 10 kali luas China. Sementara itu, studi lain pada 2020 memperingatkan bahwa banjir pesisir berpotensi mengubah garis pantai secara drastis sepanjang abad ke-21.
Secara global, jumlah penduduk pesisir meningkat dari 1,6 miliar menjadi 2,5 miliar dalam kurun tiga dekade, menurut Program Lingkungan PBB. Lebih dari 75 persen di antaranya bermukim di negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.
Gusnar mengatakan bahwa ketika lapisan batuan dasar pesisir hilang, abrasi akan melanda pantai serta kawasan muara sungai.
Pengalaman di Gorontalo mencerminkan kondisi serupa di berbagai wilayah dunia. Di Mauritius, Samudra Hindia barat daya, proyek Liane Batatran yang digagas Coral Garden Conservation telah menanam 19.000 tanaman Ipomoea pes-caprae hasil pembibitan di pantai-pantai strategis untuk menahan erosi sekaligus mendukung proses alami ekosistem pesisir.
Para pengelola proyek melaporkan tingkat keberhasilan mencapai 81 persen dan memperkirakan upaya ini akan menjaga sekitar 826 metrik ton pasir pantai.
Dalam ringkasan proyeknya, organisasi nirlaba tersebut menyatakan bahwa Coral Garden Conservation berhasil menciptakan model perlindungan garis pantai berkelanjutan dengan memadukan restorasi ekologi dan keterlibatan masyarakat.
Di Gorontalo, Gusnar menunjuk sebuah desa di Kecamatan Sumalata yang kini telah tersapu abrasi pantai. Ia mengatakan permukiman lain menghadapi ancaman serupa, dengan rumah dan lahan yang dulu dihuni perlahan-lahan amblas ke laut.
Gusnar menyebut tanaman ini kerap dipandang sebelah mata. Namun baginya, tanaman tersebut bukan gulma, melainkan pelindung pesisir sekaligus penopang kehidupan.