Pemerintah menyalurkan makanan bergizi gratis yang membuat hampir 200 siswa di Surabaya menunjukkan gejala keracunan setelah memakannya.
Laporan media Minggu (17 Mei) menyebutkan siswa dari 12 TK, SD, dan SMP di Kecamatan Tembok Dukuh jatuh sakit. Mereka sakit setelah mengonsumsi makanan yang petugas sajikan pada 11 Mei.
Kebanyakan siswa mengeluhkan pusing, mual dan muntah. Petugas medis memeriksa sebagian besar siswa secara ringan. Beberapa siswa menjalani perawatan di Rumah Sakit Ibu dan Anak IBI Surabaya.
Sampai sore 11 Mei, belum ada laporan siswa yang harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, Tiyas Pranadani, mengonfirmasi dugaan keracunan. Ia mengatakan dugaan itu terkait makanan bergizi gratis yang Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi bagikan.
Di lobi Rumah Sakit IBI, ia mengatakan pada Minggu, beberapa sekolah menerima makanan dari satu SPPG. Hampir semua sekolah mengeluh dan melaporkan gejala setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Tiyas menyatakan kecurigaan awal tertuju pada hidangan daging yang SPPG sajikan pada 11 Mei.
Tiyas mengatakan, berdasarkan pemantauan dan laporan guru, makanan itu biasanya tanpa daging. Petugas menduga daging menjadi sumber keracunan karena siswa belum pernah menerima daging sebelumnya.
Petugas mengumpulkan sampel makanan dan mengirimkannya ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) bersama Dinas Kesehatan Surabaya untuk diuji, guna menentukan penyebab gejala pada anak-anak.
Tiyas mengatakan mereka sedang melakukan pengecekan ulang; sampel di lokasi sudah mereka ambil dan kirim ke BBLK untuk pengujian.
Beberapa siswa mengaku mengalami efek buruk setelah menyantap hidangan daging sapi; Gibran dari SD Raden Wijaya mengatakan makanannya beraroma sedap namun dagingnya terasa pahit.
Ia mengatakan tidak menghabiskannya dan menaruh sisa itu kembali ke kotak bekalnya.
Cicilia, siswa SDN Tembok Dukuh III yang harus menerima infus, mengatakan ia hanya mencicipi sedikit lalu membuangnya.
Chafi Alida Najla, Kepala SPPG Tembok Dukuh, meminta maaf secara terbuka setelah menarik semua sisa makanan.
Permohonan Maaf
Dia menyatakan, mewakili SPPG Tembok Dukuh Bubutan, permohonan maaf yang mendalam kepada semua pihak terdampak, termasuk siswa dan guru yang mengalami keracunan akibat makanan yang mereka sediakan.
“Kami akan menanggung sepenuhnya perawatan medis serta seluruh kegiatan pemantauan di lapangan.”
Chafi menegaskan unitnya akan menghentikan kegiatan sampai hasil uji laboratorium keluar, dan menyatakan SPPG telah bersertifikat dari Badan Gizi Nasional sejak mulai beroperasi pada Februari 2026.
Walau menghentikan operasional, SPPG masih berhak menerima dana harian Rp6 juta dari BGN dan berjanji menanggung seluruh biaya pengobatan siswa yang terdampak.
Program pemberian makanan bergizi gratis senilai Rp335 triliun yang diinisiasi Prabowo diluncurkan Januari lalu dengan target memberi makan hampir 90 juta anak dan ibu hamil.
Sejak program ini dimulai, ribuan anak di berbagai daerah dilaporkan jatuh sakit karena diduga keracunan makanan.