Ketergantungan Hijau Mengancam Masa Depan Hilirisasi Indonesia

Pada 29 April 2026 Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama 13 proyek pengolahan sumber daya senilai $7,2 miliar. Ia menegaskan hilirisasi sebagai jalan menuju kebangkitan nasional. BUMN Danantara kini mengoordinasikan 18 proyek hilir bernilai sekitar Rp600 triliun, fokus pada nikel. Gagasannya: mengolah mineral mentah di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah lebih besar. Langkah itu juga bertujuan melepaskan negara dari jebakan pendapatan menengah.

Pada 2023 Indonesia naik menjadi negara berpenghasilan menengah atas dengan PDB per kapita $4.810. Angka itu masih jauh dari ambang negara berpenghasilan tinggi sebesar $13.935. Pertumbuhan ekonomi bertahan sekitar 5% lebih dari satu dekade dan mencapai 5,11% pada 2025. World Development Report 2024 menyatakan negara keluar dari jebakan pendapatan menengah dengan investasi, adopsi teknologi, dan inovasi domestik.

Para pendukung hilirisasi mengajukan pokok argumen ini. Jika mampu menyerap teknologi asing dan menyalurkannya ke perusahaan domestik, hilirisasi bisa membantu keluar dari stagnasi. Pengembangan lebih lanjut melalui inovasi memperkuat kemampuan lokal dan memastikan manfaat jangka panjang. Namun, persoalannya terletak pada arsitektur kebijakan saat ini yang lebih berorientasi pada peningkatan volume produksi daripada penguatan kapasitas.

Di titik inilah perangkap ketergantungan hijau mulai terlihat. Negara itu membangun kapasitas pengolahan tetapi tetap subordinat karena bergantung pada satu mitra asing untuk teknologi dan bahan impor. Permintaan mineral tertentu bisa menurun saat transisi hijau beralih ke bahan atau teknologi alternatif.

Kisah Relevan

Kisah ini sangat relevan. Meskipun negara ini menambang sekitar 60% nikel dunia, pemangku kepentingan asal China menguasai sekitar 75% kapasitas pemurnian dan memasok sebagian besar mesin berat serta asam sulfat untuk pabrik peleburan. Pada April 2026, kelangkaan sulfur akibat gangguan di Laut Merah dan Selat Hormuz memaksa produsen nikel memangkas produksi. Larangan ekspor nikel 2014 meningkatkan nilai tambah domestik pada ekspor besi dan baja, tetapi harga yang terlalu rendah menarik perusahaan kurang produktif dan menurunkan produktivitas keseluruhan.

Justru permintaan yang memperkuat ketergantungan ini. Baterai lithium besi fosfat—yang bebas nikel—menyumbang lebih dari separuh pangsa baterai kendaraan listrik global pada 2025, naik dari kurang dari 10% pada 2020. Merek mobil listrik terlaris di dalam negeri seperti Wuling, Chery dan BYD memakai tipe baterai ini, sementara Indonesia tengah membangun ekosistem industri di sekitar teknologi kimia yang banyak konsumen globalnya tinggalkan.

Namun Indonesia yang menanggung konsekuensi dari pembangunan industri tersebut. Polusi udara dari sektor nikel diperkirakan akan menyebabkan hampir 5.000 kematian dini setiap tahun pada 2030, dengan kerugian ekonomi tahunan sekitar $2,6–3,4 miliar. Lebih dari tiga perempat kapasitas pembangkit batu bara juga digunakan untuk memasok pengolahan logam. Angka ekspor utama menyusut setelah memperhitungkan keringanan pajak dan repatriasi keuntungan, menurut analisis Lowy Institute 2025. Pada Februari 2026 Moody’s menurunkan prospek peringkat kedaulatan menjadi negatif, diikuti Fitch pada Maret, yang sama‑sama mengutip menurunnya kepastian kebijakan dan kekhawatiran atas melemahnya kredibilitas kebijakan di bawah pengambilan keputusan yang terpusat.

Investasi Asing

Investasi asing yang mengejar rente sumber daya mendorong keluar perusahaan lokal yang seharusnya bisa menyerap pengetahuan asing. Pabrik peleburan berbahan bakar batu bara di dalam negeri mengunci pola produksi yang sangat intensif karbon, sementara Mekanisme Penyesuaian Batas Karbon Uni Eropa mulai memasukkan biaya karbon ke dalam akses pasar. Kebijakan seperti kuota produksi, peralihan ke royalti progresif pada 2025 dan pemangkasan kuota pertambangan sepertiga pada 2026 hanya merombak pembagian keuntungan, bukan memperkuat kemampuan produksi yang sebenarnya.

Pendekatan yang benar adalah melihat besarnya investasi sebagai alat, bukan tujuan akhir. Ini berarti menerapkan aturan konten lokal yang disertai kewajiban transfer teknologi yang mengikat; menjalin kemitraan yang lebih beragam di luar China; mengarahkan investasi domestik ke riset sel dan kimia baterai daripada menambah pabrik peleburan yang hanya mengejar permintaan yang datar; serta memasukkan standar lingkungan ke dalam proses perizinan.

Tantangannya bukan mengekstrak lebih banyak pendapatan dari satu logam yang peranannya dalam transisi energi semakin berkurang. Tantangannya adalah memanfaatkan momentum nikel untuk membangun kapabilitas yang bertahan jauh melampaui periode ini. Proyek‑proyek yang didukung Danantara dan dimulai pada 2026 akan tetap ada pada 2045, tahun emas keseratus. Ketergantungan di sekitarnya mungkin tetap ada, tetapi permintaan nikel yang mendanai proyek‑proyek ini bisa saja menghilang.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *