Pejabat berusaha meyakinkan pasar bahwa kondisi ekonomi tetap kuat setelah rupiah menyentuh rekor terendah. Namun langkah Presiden Prabowo Subianto meredam penurunan rupiah mendapat kritik dari ekonom dan pengguna media sosial.
Pada Selasa, rupiah melemah ke 17.720 per dolar, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini.
Jakarta Composite Index (JCI) anjlok 3,46% pada hari itu. MSCI dan FTSE Russell menghapus beberapa perusahaan dari indeks global utama, sehingga memperparah penurunan.
Saat berbicara dengan warga desa di Jawa Timur pada Sabtu, Prabowo menilai peringatan tentang kondisi ekonomi berlebihan. Menurutnya, warga desa tidak langsung terpapar transaksi dolar.
Beberapa orang terus memperingatkan Indonesia akan runtuh dan terjadi kekacauan karena kondisi rupiah dan dolar. Mereka mengatakan warga desa tidak memakai dolar, sehingga mereka menganggap dampaknya tidak langsung. Yang akan pusing justru mereka yang sering bepergian ke luar negeri.
Prabowo menyatakan kondisi ekonomi dan fundamental kuat. Ia menegaskan tak perlu khawatir selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tersenyum.
Pada Senin, Purbaya meyakinkan pasar bahwa meski mata uang melemah, negara tidak akan mengulang dampak krisis keuangan Asia 1997.
Ia mengatakan kepada wartawan bahwa ada anggapan kita akan mengalami pola serupa seperti 1997–1998. Ia menambahkan bahwa kebijakan keliru dan ketidakstabilan sosial-politik memicu krisis setelah setahun resesi.
Purbaya membela pernyataan Prabowo, mengatakan presiden berbicara kepada warga desa untuk menghiburnya, bukan untuk menanggapi pelemahan mata uang.
Menurutnya, presiden paham soal rupiah dan memang ahli di bidang ini.
Klaim Prabowo bahwa pelemahan rupiah tak memengaruhi masyarakat biasa mendapat kecaman. Ekonom dan publik menunjukkan banyak kebutuhan pokok terkait pasar global.
Seorang pengguna media sosial menilai pemerintah seharusnya memberi jaminan lewat kebijakan terkoordinasi, namun merespons berlebihan. Pengguna lain mengingatkan meski warga desa tak membayar dolar langsung, mereka mengonsumsi tempe dari kedelai impor AS.
Impor Kedelai
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan pada Senin bahwa Indonesia mengimpor sekitar 2,4 juta ton kedelai tiap tahun. Kebutuhan dalam negeri mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun.
Ekonom Yanuar Rizky dari Lembaga Penelitian Aspirasi Indonesia menilai pernyataan Prabowo terlalu percaya diri dan menyatakan ini sama dengan menyangkal kenyataan yang dihadapi publik.
Ia mengutip data Otoritas Jasa Keuangan yang menunjukkan total utang masyarakat pada pinjaman online mencapai Rp103,03 triliun per Maret, menandakan banyak orang telah menghabiskan tabungan untuk menutupi dampak inflasi.
Dia mengatakan pemerintah seharusnya mengakui adanya tekanan dan fokus membangun kembali kepercayaan investor; saat ini mereka tampak tak menyadari adanya krisis.
Yusuf Rendy Manilet, peneliti di Pusat Reformasi Ekonomi Indonesia, menyatakan sektor manufaktur kian tertekan karena sekitar 90% dari total impor berupa barang modal dan bahan baku.
Ia menyatakan bahwa Indonesia sangat bergantung pada impor untuk kebutuhan pangan pokok, antara lain gandum, kedelai dan bawang putih.
Yusuf menambahkan bahwa pabrik-pabrik yang tak mampu menahan kenaikan biaya bahan baku akan meneruskan beban ini ke harga jual, sehingga seluruh masyarakat di kota maupun desa akan merasakan dampaknya.
Ia menilai pernyataan Prabowo terlalu menyederhanakan masalah dan disampaikan pada waktu yang kurang tepat; seharusnya komunikasinya lebih terencana.
Kementerian Keuangan menyatakan akan mendukung bank sentral menstabilkan rupiah lewat berbagai langkah, termasuk intervensi di pasar obligasi untuk menahan arus keluar modal asing.
Purbaya menyatakan pemerintah berencana menyuntikkan lebih dari $113 juta setiap hari ke pasar obligasi dengan harapan mendorong sentimen positif di kalangan investor asing.
Dia mengatakan bahwa pemerintah akan masuk ke pasar obligasi secara bertahap, mengikuti langkah investor asing, sehingga diharapkan terjadi stabilisasi dalam beberapa minggu ke depan.
Sumber pendanaan masih tersedia; ini cuma soal pengelolaan arus kas, jadi saya yakin tidak akan menjadi masalah.
Terus Melemah
Para ekonom memperingatkan rupiah berpotensi terus melemah dalam beberapa minggu ke depan, disebabkan oleh tekanan harga minyak, ketegangan geopolitik dan kekhawatiran yang meningkat terhadap pengeluaran pemerintah.
Yusuf mengatakan sejak Februari lembaga pemeringkat sudah memperhatikan kebijakan fiskal; jika investor menilai kredibilitas pemerintah menurun, mereka akan memindahkan modalnya.