WHO Puji One Health, Kepemimpinan Diragukan

Saat Hari Kesehatan Sedunia

Saat Hari Kesehatan Sedunia, WHO menyoroti kemajuan dalam mengurangi risiko penyakit zoonosis melalui penguatan pendekatan One Health. Pendekatan ini menegaskan bahwa semua pihak harus menangani bersama keterkaitan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Dengan kepemimpinan pemerintah dan dukungan WHO serta mitra, negara ini memperluas langkah pencegahan, pengawasan dan respons bersama di berbagai sektor.

Dr N. Paranietharan, perwakilan WHO, mengatakan Indonesia memperlihatkan bahwa aksi multisektoral terkoordinasi efektif mengurangi risiko penyakit zoonosis sehari-hari. Ia menambahkan kolaborasi lintas sektor kesehatan, pertanian, kedokteran hewan, dan lingkungan sangat penting. Pihak berwenang harus memperkuat deteksi dini dan meningkatkan respons untuk melindungi kelompok paling berisiko.

Zoonosis adalah infeksi yang menular dari hewan ke manusia, biasanya melalui kontak dekat atau lingkungan yang tercemar. Di tingkat global, lebih dari 60% penyakit menular yang dikenal dan hingga 75% penyakit baru bersumber dari hewan. Penyakit zoonosis memengaruhi lebih dari dua miliar orang dan menyebabkan lebih dari dua juta kematian setiap tahun. Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia menghadapi peningkatan risiko zoonosis. Risiko itu dipicu bencana iklim, perubahan lingkungan, dan interaksi intens antara manusia, hewan, serta alam.

Penyakit Zoonosis

Program One Health menargetkan penyakit zoonosis prioritas seperti flu burung, leptospirosis, antraks dan rabies; pada 2025 WHO mendukung uji coba pengawasan flu burung One Health terintegrasi di lima provinsi prioritas dengan pasar unggas tradisional sebagai titik peringatan dini; untuk leptospirosis, penguatan pengawasan terpadu, penilaian risiko bersama, deteksi cepat, pengobatan segera dan peningkatan kesadaran publik telah memperkuat kerja lintas sektor, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan menurunkan kematian di daerah rawan banjir; WHO juga mendukung pelatihan petugas garis depan dan pemantauan kejadian akut untuk mengurangi dampak antraks; sementara untuk rabies, dukungan WHO berfokus pada pengawasan, manajemen kasus, pemberdayaan masyarakat dan penguatan kolaborasi antar sektor.

Pengalaman ini mencerminkan meningkatnya perhatian regional dan global terhadap pendekatan One Health, seiring negara-negara menghadapi beban kesehatan yang kian berat akibat perubahan iklim, kerusakan lingkungan dan munculnya penyakit menular baru; tantangan bersama tersebut menegaskan perlunya kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan yang mengaitkan tindakan lokal dengan solusi regional dan global.

Pemerintah terus memimpin pengembangan One Health di ASEAN dan wilayah sekitarnya. Komitmen ini akan menjadi fokus KTT One Health, yang mempertemukan kepala negara dan menteri untuk memperkuat dukungan politik tingkat tinggi serta mengubah komitmen menjadi tindakan terkoordinasi demi melindungi kesehatan seluruh masyarakat.

Forum Global Pusat Kolaborasi WHO menekankan pentingnya investasi dan kemitraan berkelanjutan dalam sains dan kedokteran. Forum ini merayakan jaringan global WHO yang mencakup lebih dari 800 Pusat Kolaborasi, termasuk dua pusat di Indonesia untuk keperawatan dan kebidanan serta pencegahan ketulian dan gangguan pendengaran. Lembaga-lembaga ini melakukan penelitian dan kegiatan penting yang menyelamatkan nyawa, membantu negara mendeteksi wabah lebih awal, memperkuat sistem laboratorium, meningkatkan keamanan pangan, serta membangun tenaga kesehatan yang lebih tangguh.

Visited 8 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *