Presiden Joko Widodo berusaha menghindari sorotan publik saat berkunjung kepada Megawati Soekarnoputri pada Idul Fitri. Langkah itu diduga meredam kritik yang menuding Megawati mengendalikan kepresidenan, bukan Jokowi. Selama Idul Fitri, Presiden mengunjungi Aceh dan Jawa Tengah. Sejumlah staf dekat Presiden menolak berkomentar soal pertemuan dengan Presiden kelima RI tersebut. Setelah kembali ke Jakarta, Jokowi menjadwalkan pertemuan dengan menteri kabinet dan pejabat tinggi pada Rabu. “Pertemuan ini hanya melibatkan pejabat pemerintah,” kata Staf Presiden Teten Masduki pada Selasa. Meski kunjungan Jokowi minim sorotan, Megawati kembali menunjukkan pengaruhnya di hadapan para pemimpin nasional. Megawati tampaknya tidak ingin menjadikan momentum tersebut sebagai acara terbuka. Kediamannya tertutup untuk umum, bahkan terdapat pemberitahuan di gerbang depan bertuliskan “Tidak ada open house”.
Pemberitahuan itu tidak menghentikan pejabat tinggi dan politisi datang ke kediaman Megawati di Teuku Umar. Wakil Presiden Jusuf Kalla termasuk di antara tokoh yang hadir. Tamu lainnya berasal dari Koalisi Merah Putih sebagai kubu oposisi. Mereka mencakup Prabowo Subianto dari Gerindra dan Aburizal Bakrie dari Golkar. Megawati juga menerima tokoh partai pendukung pemerintah. Mereka meliputi Surya Paloh, Agung Laksono, dan Muhammad Romahurmuziy dari PPP. Sejumlah menteri kabinet turut hadir dalam kesempatan tersebut. Mereka antara lain Retno LP Marsudi, Marwan Jafar, Rahmat Gobel, dan Saleh Husin. Marwan Jafar dikenal sebagai politikus PKB, sementara Saleh Husin berasal dari Partai Hanura. Hadir pula dua menteri dari PDIP, yakni Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly.
Pengakuan Masyarakat
“Megawati jelas masih mendapat pengakuan luas dari masyarakat,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Ahmad Basarah. “Kami berharap beliau dapat menjadi sosok pemersatu bangsa.” Basarah kemudian menekankan bahwa kedatangan para tokoh penting ke kediaman Megawati lebih dipengaruhi oleh posisi kulturalnya, bukan karena kekuatan politiknya. Di tengah isu perombakan kabinet yang disebut-sebut akan dilakukan setelah Idul Fitri, kedatangan berbagai tokoh ke kediaman Megawati juga dinilai mencerminkan besarnya pengaruhnya dalam penentuan susunan kabinet. Hal ini berkaitan dengan posisinya sebagai ketua umum partai yang memimpin koalisi pendukung Jokowi dan JK. Namun, Megawati menepis anggapan bahwa dirinya memiliki peran besar dalam pembentukan maupun perombakan kabinet. “Saya tidak terlibat dalam perombakan ini,” ujar Megawati ketika menjawab pertanyaan wartawan pada Rabu, di sela-sela acara pertemuan PDIP.
Namun, putri Presiden pertama RI, Soekarno, ini mengakui bahwa Jokowi pernah meminta pandangannya mengenai penyebab lambatnya laju perekonomian pada masa pemerintahannya. Megawati secara terbuka menyampaikan isi pertemuan terbarunya dengan Presiden. Ia menilai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi salah satu persoalan utama karena banyak pejabat pemerintah merasa terlalu takut terhadap lembaga antikorupsi tersebut. Selain itu, ia juga menyebut budaya koruptif dalam birokrasi sebagai masalah lain yang perlu mendapat perhatian. “Mereka takut berbuat salah, sehingga enggan bekerja. Mereka khawatir tindakan yang terlalu menonjol dapat membuat mereka menjadi sasaran KPK. Akibatnya, mereka memilih diam karena tidak memahami dengan jelas mana yang benar dan mana yang keliru,” ujar Megawati saat membuka pertemuan partai di Depok, Jawa Barat.