Jumat lalu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pertumbuhan ekonomi semester pertama terkuat dalam lebih dari satu dekade. Ia mengatakan pertumbuhan bisa mencapai 6% pada akhir tahun meski ada ketidakpastian global. Ia menegaskan perluasan ekonomi harus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidup. Di hadapan parlemen dalam pidato kenegaraan tahunan, Prabowo mengatakan ekonomi terbesar Asia Tenggara tumbuh 5,61% pada kuartal pertama. Ia menambahkan pertumbuhan semester pertama mencapai 5,45% tahun ini. Prabowo mengatakan pertumbuhan kuartal pertama dan semester pertama ini adalah yang tertinggi dalam 13 tahun. Ia yakin, dengan kebijakan yang tepat, rasional, dan berakal sehat, pertumbuhan bisa mencapai 6% akhir tahun. Prabowo menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan investasi bukan tujuan akhir. Pemerintah mengukur keberhasilan berdasarkan sejauh mana keduanya meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Prabowo mengatakan pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir. Tujuan utama adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat; pertumbuhan tinggi yang tidak mayoritas nikmati tidak berguna. Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia, ia menegaskan setiap rupiah investasi harus menciptakan lapangan kerja dan menaikkan taraf hidup. Prioritasnya adalah masyarakat berpenghasilan rendah, melalui penciptaan peluang kerja dan perluasan akses layanan dasar serta bantuan pemerintah. Prabowo menyebut ini bukti investasi tetap kuat di tengah ketidakpastian global. Realisasi investasi tahun lalu mencapai Rp1.931 triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja. Pada semester pertama tahun ini investasi tercatat Rp1.010 triliun, menghasilkan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja tambahan.
Program Andalan
Prabowo juga menyinggung beberapa program andalan pemerintah yang menurutnya memberi manfaat langsung kepada masyarakat, termasuk program Makan Bergizi Gratis, skema bantuan sosial dan kebijakan untuk meningkatkan pengolahan sumber daya alam di dalam negeri. Ia mengatakan pemerintah telah menjalankan janji tentang makanan bergizi, bantuan sosial, dan hilirisasi pengolahan; masyarakat kini merasakan manfaatnya. Pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis tahun lalu untuk menangani gizi buruk; program ini menargetkan hampir 90 juta anak sekolah dan ibu hamil serta menjadi salah satu kebijakan utama Prabowo. Pemerintah menyatakan program ini bertujuan memperbaiki gizi, mendorong permintaan produk pertanian lokal, serta mendukung penciptaan lapangan kerja di sepanjang rantai pasok pangan. Namun, program ini mendapat sorotan tajam setelah insiden keracunan makanan yang menimpa ribuan siswa di berbagai daerah.
Pada Kamis, sekitar 269 siswa dari tiga sekolah menengah di Kabupaten Karo, Sumatra Utara dilaporkan diduga keracunan makanan setelah menyantap hidangan yang disediakan dalam program tersebut. Sejumlah ekonom meragukan apakah angka pertumbuhan yang dipublikasikan pemerintah benar-benar mencerminkan kondisi yang dialami mayoritas rakyat Indonesia. Nailul Huda, peneliti di Center of Economic and Law Studies (Celios), menyatakan bahwa melambatnya konsumsi rumah tangga, meningkatnya PHK, dan kesulitan mencari pekerjaan menunjukkan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi tidak tersebar merata. Ia mengatakan bahwa menurunnya kepercayaan konsumen dan kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja mengindikasikan adanya kesenjangan antara angka pertumbuhan makro dan kondisi nyata yang dihadapi banyak rumah tangga, terutama keluarga berpenghasilan rendah. Nailul mengatakan bahwa meskipun pemerintah sering mengklaim ekonomi tumbuh kuat, masyarakat berpenghasilan rendah tidak merasakan manfaatnya.