Perubahan iklim, infrastruktur perkotaan yang buruk, polusi dari urbanisasi cepat dan kerusakan lingkungan telah menurunkan kualitas air.
Negara ini menyimpan 21% cadangan air tawar di Asia Pasifik. Namun hampir separuh penduduk tidak memiliki akses air bersih. Lebih dari 70% bergantung pada sumber air yang berisiko tercemar.
Kualitas air yang buruk berkaitan langsung dengan kemiskinan, karena warga miskin tidak mampu membeli air minum yang aman.
USAID bekerja sama dengan pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan. Program ini mengatasi penyebab kualitas air buruk dengan memperkuat keanekaragaman hayati. Selain itu, USAID meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim untuk menjaga sumber daya air.
Perubahan Iklim
Perubahan iklim berpotensi mengganggu pola musiman sehingga memengaruhi kualitas air. Musim kemarau bisa menjadi lebih kering dan meningkatkan kebutuhan air, sementara musim hujan mungkin menumpuk curah hujan dalam waktu singkat, memperbesar risiko banjir dan mengurangi kemampuan untuk menangkap serta menyimpan air.
Banjir yang semakin sering dan hujan deras mempermudah penyebaran penyakit di wilayah yang penduduknya kekurangan akses air bersih dan sanitasi.
USAID bermitra dengan pemerintah untuk memperkuat ketahanan daerah rentan terhadap perubahan iklim, membangun kapasitas pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil agar memahami dampak perubahan iklim dan menerapkan solusi di bidang pertanian, pengelolaan air serta pengelolaan sumber daya alam.
Lebih dari 13.000 orang telah dilatih dalam strategi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. USAID bermitra dengan lebih dari 360 komunitas untuk menyusun rencana aksi menghadapi dampak perubahan iklim, yang pada akhirnya membantu memperbaiki kualitas air.
Kerusakan Lingkungan
Pembangunan tak terkendali dan penggundulan hutan merusak lingkungan, membuat banyak wilayah sangat rentan terhadap longsor, tsunami dan banjir.
Bencana lingkungan memperburuk lingkaran kemiskinan dengan mengurangi akses masyarakat terhadap sumber daya; dalam 50 tahun terakhir, tutupan hutan negara ini menyusut sekitar 72%.
Luas perbukitan tandus dan lapisan tanah yang mudah tererosi saat hujan deras meningkatkan kemungkinan serta keparahan banjir. Ketika banjir terjadi, infrastruktur perkotaan cepat kewalahan sehingga limbah meluap dan kontaminasi bertambah.
Untuk mengatasi kerusakan lingkungan dan memperbaiki kualitas air, USAID berupaya melindungi serta memperkuat keanekaragaman hayati dengan meningkatkan kapasitas lembaga pemerintah nasional dan daerah serta organisasi masyarakat sipil, serta menjalin kemitraan untuk mendorong praktik pengelolaan lahan berkelanjutan di empat provinsi.
USAID mengembangkan proyek untuk melindungi hamparan luas hutan dataran rendah dan gambut yang kaya keanekaragaman hayati.
Polusi
Perkembangan ekonomi dan urbanisasi yang pesat menjadikan Indonesia pusat polusi; limbah komersial dan industri kian mencemari air tanah dan permukaan sehingga menurunkan kualitas air. Selain itu, permukiman kumuh perkotaan kekurangan fasilitas pengolahan air limbah, memperburuk polusi.
Fasilitas sanitasi dasar yang bisa mencegah pencemaran pasokan air oleh tinja nyaris tidak ada; banyak rumah tangga membuang limbah domestik langsung ke sungai.
Banyak warga miskin yang tak memiliki sambungan air bersih terpaksa memakai air sungai untuk minum, mandi dan mencuci. Sekitar 53% penduduk mengandalkan sumber air yang tercemar limbah mentah, sehingga meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan lewat air.
Dalam upaya mengatasi polusi dan memperbaiki kualitas air, USAID telah menyediakan akses air bersih bagi lebih dari dua juta orang serta layanan sanitasi dasar untuk lebih dari 200.000 orang.
Langkah-langkah tersebut membuka peluang tambahan bagi masyarakat keluar dari kemiskinan, karena keterbatasan pendapatan tidak lagi menghalangi mereka memperoleh air minum yang aman.