Kerja Sama Pertahanan Jepang–Indonesia Tuai Kekhawatiran

Jepang dan Indonesia pekan ini membahas upaya mempererat hubungan pertahanan, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan pada Kamis. Pada 4 Agustus, pejabat tinggi pertahanan Jepang bertemu mitra Indonesia untuk membahas penguatan kerja sama pertahanan kedua negara. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Wakil Menteri Pertahanan Jepang, Ro Manabe, memimpin pertemuan tersebut. Kesamaan kepentingan mendorong Indonesia dan Jepang mempererat kerja sama pertahanan dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia berupaya meningkatkan kemampuan maritim dan udara untuk menjalankan patroli laut, operasi penyelamatan, dan tugas lainnya. Indonesia juga meminta Jepang menjadi salah satu mitra dalam memperkuat kapasitas tersebut. Jepang juga memperkuat hubungan dengan negara ASEAN, termasuk Indonesia, serta membuka peluang ekspor teknologi pertahanan. Kebijakan itu menguat setelah Jepang melonggarkan larangan lama penjualan alutsista internasional pada April 2014.

Konvergensi kepentingan tersebut secara bertahap mendorong berkembangnya kerja sama yang semakin erat. Setelah kunjungan Joko Widodo pada awal 2015, Indonesia dan Jepang memperkuat kemitraan strategis dengan fokus pada keamanan maritim. Keduanya juga menandatangani nota kesepahaman untuk memperluas kerja sama pertahanan dan pertukaran. Pada Desember 2015, kedua negara memulai dialog keamanan dua-plus-dua yang melibatkan Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sebenarnya telah menyepakati mekanisme itu sejak 2013. Dialog tersebut menjadi yang pertama antara Jepang dan negara Asia Tenggara. Sebelumnya, Jepang telah memiliki mekanisme serupa dengan Amerika Serikat dan Australia. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat untuk memulai perundingan mengenai perjanjian transfer peralatan dan teknologi pertahanan.

Pada tahun 2016, kedua negara terus mengeksplorasi berbagai peluang kerja sama, dan pertemuan pada pekan itu menjadi salah satu wujudnya. Berdasarkan pernyataan Kementerian Pertahanan, Jepang mengungkapkan keinginan untuk memperkuat hubungan pertahanan, terutama dalam bidang keamanan siber dan pengadaan pesawat amfibi. Ro Manabe menyatakan bahwa Jepang ingin menjalin kerja sama secara aktif dalam sektor keamanan siber dan pesawat amfibi, serta berupaya merealisasikan kolaborasi dalam proyek US-2.

Pesawat Amfibi

Pesawat amfibi US-2 bukanlah isu baru dalam kerja sama pertahanan bilateral kedua negara. Pada tahun sebelumnya, Ryamizard Ryacudu telah menyatakan bahwa Indonesia tengah mempertimbangkan pembelian pesawat amfibi ShinMaywa US-2 dari Jepang. Rencana akuisisi pesawat ini dinilai cukup masuk akal karena US-2, yang merupakan pesawat amfibi bersayap tetap dan telah digunakan oleh Pasukan Bela Diri Jepang, sangat cocok untuk misi pencarian dan penyelamatan. Seperti disampaikan Ryamizard, pesawat ini tidak memerlukan infrastruktur darat karena dapat lepas landas dan mendarat di laut, sebuah keunggulan yang sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Selain itu, US-2 juga memiliki jangkauan operasional yang luas, sehingga mampu menjangkau pulau-pulau terpencil di Indonesia dengan cepat ketika dibutuhkan. Dalam pertemuan ini, Ryamizard kembali menegaskan ketertarikan Indonesia terhadap pesawat tersebut. Namun, ia juga menyampaikan bahwa meskipun proses pengadaan memungkinkan untuk dilakukan, keputusan tersebut tetap perlu dibahas dan dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak militer Indonesia.

Ia juga mengungkapkan harapan agar hubungan pertahanan antara Indonesia dan Jepang semakin kuat di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Jepang yang baru, Tomomi Inada. Inada menggantikan Jenderal Nakatani setelah perombakan kabinet pada pekan tersebut dan sebelumnya menjabat sebagai ketua kebijakan partai berkuasa.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *