Ahok: Penghargaan Kontroversial, Kepercayaan Publik Terkikis

Citra Basuki Tjahaja Purnama di mata publik Indonesia melonjak tajam. Tugasnya kini adalah membuktikan kelayakan memimpin ibu kota setelah Jokowi ke istana. Jalan menuju jabatan ini penuh tantangan bagi pria pilihan GlobeAsia. Ia, kelahiran Belitung, resmi menjadi Gubernur Jakarta ke-17 pada 19 November. Dewan kota melantik mantan wakil gubernur ini setelah intrik politik dan protes kelompok Muslim radikal. Pelantikan itu menandai tonggak baru bagi Jakarta. Presiden melantiknya secara langsung. Ia menjadi gubernur pertama yang langsung presiden lantik dan gubernur kedua setelah Ali Sadikin yang presiden lantik di Istana Negara. Ahok menjadi fenomena politik karena gaya kepemimpinan tegas dan blak-blakan. Ia juga menandai inklusivitas sebagai gubernur Tionghoa non-Muslim pertama di ibu kota dalam lima dekade.

Soekarno melantik pendahulu itu, Henk Ngantung, pada 1964; Henk menjabat satu tahun lalu terguling saat politik bergolak. Rakyat Indonesia tetap menjunjung demokrasi meski mayoritas Muslim, berbeda dari banyak negara mayoritas Muslim di wilayah lain. Hanya India dan Amerika Serikat yang memiliki jumlah penduduk lebih besar daripada negara ini. Amerika Serikat juga memilih banyak gubernur minoritas, termasuk Bobby Jindal, mantan gubernur Louisiana keturunan India. Partai Republik yang konservatif jarang mendukung Jindal. Jindal, seperti Ahok, sering bersuara dan mendorong reformasi etika yang luas. Pada 22 Desember, Arientha Primanita dari GlobeAsia mewawancarai Ahok di Balai Kota Jakarta. Sebelum menjawab, Ahok menatap lukisan mantan gubernur dan menanyakan kepada ajudannya di mana lukisannya akan dia gantung.

Foto Pendahulu

Pria yang memulai karier profesionalnya di sektor pertambangan pada akhir 1980-an ini juga menanyakan di mana foto pendahulunya, Jokowi, berada. Ia mengangguk ketika asistennya menjawab bahwa foto tersebut masih dalam proses pengecatan. Ahok tertawa lalu berujar bahwa lukisan‑lukisan ini sangat indah dan tampak seperti foto, dan ia menduga lukisannya nanti akan berbeda dari wajah aslinya. Ahok, yang terpilih bersama Jokowi pada 2012, akan menyelesaikan masa jabatannya pada 2017. Pertanyaannya adalah apakah ia akan mencalonkan diri lagi dan apakah warga Jakarta akan memilihnya kembali. Jawaban ini sangat bergantung pada apa yang berhasil ia capai selama tiga tahun tersisa di Balai Kota. Saat menjalankan tugas, Ahok tak pernah tersisih oleh kehadiran Jokowi. Ketika Jokowi berkeliling ke permukiman kumuh dan gang-gang sempit untuk bertemu warga dan mendengar keluhannya, Ahok tetap berada di Balai Kota, fokus mengurus urusan pemerintahan dan persoalan internal Jakarta.

Dengan Djarot Saiful Hidayat yang baru menjabat sebagai wakil gubernur di sampingnya, Ahok memilih tetap berada di kantor untuk menerima tamu, mengurus berkas, memimpin rapat, dan memastikan administrasi kota berjalan lancar. Ahok menyelesaikan konflik dengan gaya khasnya, berbeda dari Jokowi yang lebih tenang dan terukur. Kamera berita dan video YouTube sering merekam cara bicaranya yang mudah memanas, dan pernyataannya yang keras sering memicu kemarahan para pengkritik, termasuk anggota dewan kota. Luhut Binsar Pandjaitan, mantan jenderal bintang tiga dan penasihat dekat Jokowi, meyakini bahwa Jakarta membutuhkan sosok pemimpin seperti ini. Luhut mengatakan ia tak mempermasalahkan etnis, agama atau penampilan; bahkan jika orang ini hantu, asalkan mampu menyelesaikan pekerjaan, ia akan memilihnya.

Pemerintah Jakarta selalu kesulitan mengatur kota ini. Selama bertahun-tahun, warga semakin kecewa karena pemerintah lambat melaksanakan pembangunan. Kemacetan parah, banjir berulang, dan perencanaan tata ruang yang kacau memperburuk kondisi kota. Di saat yang sama, Jakarta tetap berperan sebagai pusat bisnis dan keuangan nasional serta ibu kota negara.

Mencerminkan Kekecewaan

Luhut menyatakan bahwa perasaannya mencerminkan kekecewaan warga Jakarta, yang sudah lama menginginkan pemimpin tegas yang mampu menghadirkan terobosan dan menegakkan ketertiban di kota yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa. Menurutnya, Ahok tetap mampu menumbuhkan harapan serupa meskipun Jokowi tidak mendampinginya di Jakarta. Saat mendapat pertanyaan tentang hubungannya dengan Jokowi, Ahok tersenyum dan mengatakan ia beruntung memiliki presiden sebagai sahabat dekat. Ia mengenang perjalanan bersama Jokowi setelah pelantikan, ketika pihak istana meminta dia mendampingi kunjungan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 19 Desember. Jokowi menempatkan Ahok duduk di sampingnya di pesawat kepresidenan selama perjalanan; mereka banyak berbincang dan saling bertukar kabar. Ahok yakin kedekatannya dengan presiden akan menguntungkan Jakarta. Saat menjadi wakil gubernur, ia mendorong Jokowi maju sebagai calon presiden. Ia berpendapat persoalan Jakarta tidak bisa selesai hanya oleh seorang gubernur, sehingga pemerintah pusat dan provinsi sekitar harus bekerja sama.

Dia mengatakan bahwa berkat dukungan presiden, ia bisa langsung menghubungi presiden untuk menyampaikan kebutuhannya. Ahok, pemimpin yang berorientasi pada aksi, lahir di Manggar, Belitung Timur, pada 29 Juni 1966. Ia memulai karier politik sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur pada 2004, lalu setahun kemudian terpilih menjadi bupati. Di sana ia membangun reputasi sebagai pemimpin tegas dan berorientasi tindakan, dan keterampilan itu menentukan keberhasilannya di Jakarta. Ia menyatakan bahwa pada 2015 ia memprioritaskan penanggulangan kemacetan dan banjir parah di Jakarta. Ia juga memprioritaskan memastikan para pejabat bekerja. Ahok menunjukkan ketegasan setara Jokowi dalam menindak pejabat publik berkinerja buruk. Jokowi, yang pernah menjabat Wali Kota Solo, Jawa Tengah, memberhentikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI, Manggas Rudy Siahaan, karena tidak menjalankan tugas dengan baik, dan mengganti Kepala Dinas Perhubungan, Udar Pristono, yang kemudian menerima dakwaan terkait korupsi pengadaan bus TransJakarta.

Reformasi Birokrasi

Ahok juga tegas mendorong reformasi birokrasi; pada akhir 2014 ia mengumumkan rencana memberhentikan lebih dari 1.000 pejabat. Tujuannya supaya sekitar 72.000 pegawai negeri sipil di Jakarta bekerja lebih giat. Soekarno melantik Henk Ngantung sebagai pendahulu pada 1964; Henk menjabat satu tahun lalu terguling saat politik bergolak. Rakyat Indonesia tetap menjunjung demokrasi meski mayoritas Muslim, berbeda dari banyak negara mayoritas Muslim di wilayah lain. Hanya India dan Amerika Serikat yang memiliki jumlah penduduk lebih besar daripada negara ini. Amerika Serikat juga memilih banyak gubernur minoritas, termasuk Bobby Jindal, mantan gubernur Louisiana keturunan India. Partai Republik yang konservatif jarang mendukung Jindal. Jindal, seperti Ahok, sering bersuara dan mendorong reformasi etika yang luas. Pada 22 Desember, Arientha Primanita dari GlobeAsia mewawancarai Ahok di Balai Kota Jakarta. Sebelum menjawab, Ahok menatap lukisan mantan gubernur dan menanyakan kepada ajudannya di mana lukisannya akan digantung.

Dalam kebijakannya, ia meluncurkan inisiatif kota pintar untuk menerima, memantau dan menindaklanjuti laporan serta keluhan warga; program ini mencakup enam aspek: ekonomi, mobilitas, lingkungan, kemanusiaan, mata pencaharian dan administrasi. Pemerintah DKI berencana memasang 4.000 kamera pengawas di seluruh kota, dimulai dengan 2.500 unit tahun ini. Langkah ini bertujuan mempermudah pemantauan jalan, sungai serta kinerja pejabat kota, dan warga diharapkan memberi masukan serta dapat mengakses informasi tersebut lewat smartphone. Wakil Gubernur Djarot akan turun ke lapangan untuk melanjutkan kunjungan Jokowi ke berbagai daerah. Ahok merasa tidak khawatir mantan Wali Kota Blitar ini akan melampaui popularitasnya. Ia menegaskan bahwa yang paling penting adalah menyelesaikan misi untuk Jakarta; jika warga menilai Djarot lebih baik darinya, hal ini justru menguntungkan karena ia mendapat wakil gubernur yang lebih baik.

Saat wawancara berlangsung, kerumunan demonstran ramai berkumpul di luar Balai Kota; puluhan orang yang dipimpin penyelenggara berorasi lewat pengeras suara mengkritik larangan Ahok terhadap sepeda motor melintas di Jl. M. H. Thamrin dan Jl. Medan Merdeka Barat.

Pengemudi Ojek

Mayoritas pengunjuk rasa adalah pengemudi ojek yang menuduh Ahok telah mengambil alih sumber penghasilannya. Babak, koordinator aksi, menyinggung bahwa pembelian mobil semakin meningkat dan mempertanyakan keberanian Ahok melarang kendaraan; ia menuntut penjelasan mengapa sepeda motor dilarang padahal kebijakan ini membuat pengemudi ojek kehilangan mata pencaharian. Gaya bicara blak-blakan Ahok juga kerap menjadi sasaran protes rutin dari kelompok garis keras Front Pembela Islam (FPI). Meskipun mereka mengaku menentangnya karena ia beragama Kristen, banyak pihak meyakini penolakan ini juga dipengaruhi oleh etnis China-nya. Salim bin Umar Alatas, Ketua Cabang FPI Jakarta, menyatakan Ahok terlalu sombong untuk menjadi pejabat publik dan menuduhnya sebagai musuh Islam. Aksi protes kelompok ini bahkan melancarkan serangan terhadap DPRD Jakarta saat menuntut agar para anggota dewan menolak suksesi Ahok sebagai gubernur. Pada awal Desember, FPI mencalonkan Fahrurrozi Ishaq, seorang guru Al-Quran dan anggota FPI, sebagai gubernur bayangannya.

Kritik juga datang dari anggota DPRD; Johnny Simanjuntak dari PDIP menilai Ahok terlalu blak-blakan, menyebut gaya gubernurnya yang keras menimbulkan kegaduhan di pemerintahan kota namun belum banyak meningkatkan kualitas layanan publik. Ia menyoroti bahwa banyak program di Jakarta, termasuk upaya mitigasi banjir dan pengelolaan lalu lintas, kurang efektif karena arahan dari pejabat atas tidak sampai ke tingkat bawah administrasi. Ahok mengakui kritik ini namun menegaskan tak akan mengubah gaya kepemimpinannya; menurutnya prioritasnya tetap menjalankan tugas sebagai gubernur sebaik mungkin dan melayani warga Jakarta. Ia mengatakan ia terbuka terhadap kritik; pilihan mereka hanyalah tidak memilihnya lagi, sehingga ia memilih fokus pada sisa tiga tahun masa jabatannya untuk menunjukkan hasil kerja. Ia menegaskan tak peduli soal citra—apa yang ada di hati sama dengan yang keluar dari mulutnya—dan mempertanyakan apakah yang dibutuhkan masyarakat adalah sosok yang berisi atau sekadar berpenampilan rapi. Walaupun ia tetap teguh, beberapa kritik memang terasa menyakitkan.

China Kristen

Ahok mengatakan masalah utamanya adalah banyak orang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya, yang bermata sipit dan beragama Kristen, bisa menjadi gubernur. “Jangan menentang saya hanya karena saya etnis China dan beragama Kristen. Ini tidak adil; nilai saya berdasarkan pekerjaan saya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia sudah terbiasa menghadapi masa-masa sulit. Ketika mencalonkan diri, ia tak mencari popularitas; ia ingin tetap menjadi diri sendiri, lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. Ia mengatakan bahwa menjadi pejabat publik melelahkan jika harus terus berpura-pura menjaga citra, karena pada akhirnya sifat asli akan tampak; ia menegaskan tak pernah berpura-pura dan selalu menjadi dirinya sendiri. Asistennya, Sakti Budiono, memuji kepemimpinan Ahok. “Bos tidak berbelit-belit dan selalu jelas tentang apa yang dipikirkannya,” kata Sakti. Ia menambahkan bahwa ia memberi kebebasan kepada tim untuk berkreasi dan berimprovisasi asalkan pekerjaan selesai.

Setelah Jokowi terpilih sebagai presiden, muncul spekulasi bahwa Ahok berpotensi dicalonkan sebagai presiden suatu hari nanti; sang gubernur tidak menampik kemungkinan memiliki ambisi tersebut. Menurutnya, cara paling efektif untuk memajukan negara adalah menjadi presiden. Ia menambahkan bahwa jika ada orang yang lebih layak, ia tak akan mencalonkan diri; namun bila tak ada yang lebih baik, ia merasa berhak mencalonkan demi kepentingan bangsa. Ahok, yang sempat mempertimbangkan melarikan diri ke Kanada setelah kerusuhan anti-Tionghoa 1998, menegaskan bahwa Indonesia tetap merupakan negara demokrasi; menurutnya rakyat adalah kekuatan yang tak bisa diabaikan, dan ia yakin Jokowi mampu menjaga demokrasi. Soal peluangnya menduduki jabatan publik tinggi di masa depan, Ahok menyatakan ini urusan takdir. “Dalam tradisi Islam kita biasa berkata Wallahualam, artinya segala sesuatu bergantung pada kehendak Tuhan.”

Secara filosofis ia menambahkan bahwa masa depan tak pernah bisa diprediksi. Perjalanan kariernya menuju kursi Gubernur Jakarta dari latar belakang politik yang terbatas, serta lonjakan Jokowi menjadi presiden, memperlihatkan betapa hidup sering menghadirkan kejutan.

Nasib Hidup

“Kita tak pernah tahu nasib hidup dan kapan ajal menjemput. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin. Setidaknya, bagi saya, saya sudah punya potret yang tergantung di Balai Kota,” ujar Ahok sambil tertawa. Salah satu penghalang baginya untuk meraih posisi lebih tinggi adalah kurangnya dukungan partai.

Ahok mengaku lega telah keluar dari Partai Gerindra setelah kalah dari Prabowo Subianto, yang dulu sempat mendukung pasangan Jokowi-Ahok pada Pilgub 2012. Ia mengatakan kini punya lebih banyak waktu untuk fokus bekerja karena tak lagi harus menghadiri acara partai yang dulu sering menyita akhir pekan. Mencalonkan diri sebagai presiden masih jauh, dan banyak hal bisa berubah sebelum saat ini tiba.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *