Apa benang merah antara isu iklim dan kelestarian orangutan? Keduanya terancam oleh batubara—iklim melalui emisi dari pembakaran, dan orangutan akibat perusakan habitat karena penambangan.
Para pemimpin global dan perusahaan multinasional berkomitmen menekan emisi gas rumah kaca. Mereka juga berjanji mengurangi deforestasi untuk mencegah bencana akibat perubahan iklim di masa depan.
Indonesia menjadi habitat utama bagi orangutan dunia. Negara ini juga berperan besar dalam emisi karbon dan deforestasi. Negara ini memiliki kawasan hutan tropis terluas ketiga secara global, setelah Amazon dan Congo Basin. Pada tahun 2012, melampaui Brasil dalam hal tingkat kehilangan hutan primer tahunan. Indonesia selama beberapa tahun tercatat sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar keempat di dunia. Sebagian besar emisi berasal dari deforestasi masif dan kebakaran gambut.
New York Declaration on Forests mengajak semua pihak berkolaborasi mengurangi hilangnya hutan alam global hingga setengahnya pada 2020. Deklarasi tersebut juga menargetkan penghentian total kehilangan hutan alam global pada tahun 2030. Selain itu, deklarasi ini menetapkan target pengurangan emisi akibat deforestasi sebesar 4,5 hingga 8,8 miliar ton pertahun pada tahun 2030.
Pada tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara sukarela menyatakan komitmen untuk mengurangi emisi karbon sebesar 26%. Komitmen ini mulai berjalan pada Mei 2011 melalui Instruksi Presiden Nomor 10. Instruksi tersebut menetapkan moratorium pemberian izin baru pembukaan lahan hutan. Kebijakan ini—meskipun menuai kritik karena belum memadai—berlaku hingga bulan Mei 2015.
Ledakan Batubara
Selain deforestasi, emisi gas rumah kaca juga secara tidak langsung karena peran sebagai pengekspor utama batubara. Batubara yang terbakar menjadi penyumbang tunggal terbesar emisi karbon di dunia, dan Indonesia menjadi pemasok utama bagi industri ini. Ekspor batubara melonjak lebih dari 500% dalam satu dekade. Jumlahnya naik dari 60 juta ton tahun 2000 menjadi 304 juta ton tahun 2012. Lonjakan ini menjadikan sebagai pengekspor batubara termal terbesar di dunia.
Situasi kian mengkhawatirkan. International Energy Agency (IEA) memperkirakan produksi batubara Indonesia tumbuh 4,8% per tahun. Produksi akan mencapai 450 juta ton pada tahun 2020. Para produsen tidak akan menggunakan mayoritas produksi di dalam negeri, melainkan mengekspornya. IEA memproyeksikan produksi batubara Indonesia mencapai 550 juta ton pada tahun 2035. Dalam dua dekade mendatang, Indonesia tetap menjadi produsen dan eksportir utama batubara termal dunia.
Indonesia berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca di dalam negeri, tetapi tetap mengekspor batubara yang berkontribusi pada pemanasan global. Akibatnya, negara ini kembali menanggung dampak meski bukan pihak yang membakarnya.
Indonesia akan terus memiliki pasar untuk ekspansi produksi batubara, dengan mayoritas pembelinya berasal dari kawasan Asia. China menjadi konsumen batubara terbesar di dunia. Jepang menutup pembangkit nuklir pasca Fukushima dan melampaui India sebagai importir batubara terbesar kedua. Batubara sendiri berperan vital dalam perekonomian nasional, menyumbang sekitar 85% dari total pendapatan sektor pertambangan.
Peringatan dampak pembakaran batubara terhadap pemanasan global telah ada selama puluhan tahun. Namun konsumsi energi batubara tetap meningkat secara global. Studi terbaru menunjukkan pembangkit listrik akan menghasilkan lebih dari 300 miliar ton karbon dioksida. Jumlah tersebut secara signifikan memperburuk konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.
Emisi Karbon
Menurut Steven Davis, penurunan emisi karbon memerlukan lebih banyak penutupan pembangkit fosil daripada pembangunan baru. Namun, dalam 10 tahun terakhir, pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara meningkat dibanding dekade sebelumnya. Laju penutupan pembangkit lama belum mampu mengimbangi ekspansi pembangunan baru tersebut.
“Alih-alih menyelesaikan krisis iklim, kita justru terus mengucurkan investasi besar pada teknologi yang memperparah situasi,” tambahnya.
Davis dan Robert Socolow menyatakan hasil penelitian mereka berguna bagi pembuat kebijakan. Penelitian itu membantu menilai dampak jangka panjang iklim dari investasi yang ada saat ini.
Socolow menyatakan investasi global saat ini mengunci masa depan dalam skenario emisi karbon tinggi. Ia menambahkan pendekatan konvensional perlu lebih menyoroti dampak arus investasi terhadap masa depan iklim.
Industri pertambangan optimis ekspansi global pembangkit listrik tenaga batubara akan terus berlangsung. Mereka bersiap menjadi pemasok utama batubara dunia. Dalam MP3EI 2011, Kalimantan berperan sebagai koridor strategis pertambangan dan energi. Rencana pembangunan jalur kereta api batubara mempercepat ekstraksi bahan bakar fosil di wilayah tersebut.
Herlan Siagian menyatakan setiap pihak saat ini tengah meningkatkan kapasitas produksinya. BUMI Resources adalah produsen batubara termal terbesar di Asia.
Kalimantan menjadi pusat utama industri pertambangan batubara. Kawasan ini menyimpan sekitar 83% cadangan batubara terbukti. Wilayah tersebut menyumbang lebih dari 90% produksi batubara nasional untuk konsumsi domestik dan ekspor. Tercatat hampir 4.000 konsesi tambang batubara, yang mayoritas berada di wilayah ini.
Batubara Besar Bertemu Kera Besar
Apa implikasi dari ekspansi tambang batubara terhadap keberlangsungan hutan Kalimantan? Dan bagaimana dampaknya terhadap salah satu satwa liar paling penting di wilayah ini, orangutan? Orangutan menjadi ikon ekosistem hutan tropis Kalimantan dan mewakili spesies kunci dalam keseimbangan lingkungan di kawasan tersebut.
Menurut Erik Meijaard dan Krystof Obidzinski, aktivitas tambang batubara tidak berdampak signifikan pada kelestarian hutan Kalimantan. Keduanya berasal dari Center for International Forestry Research (CIFOR) di Bogor.
“Kami sedang mengevaluasi studi mengenai dampak tambang batubara terhadap deforestasi di Kalimantan,” ujar Meijaard. Ia menjelaskan bahwa penambangan hanya menyumbang sekitar 1% dari total deforestasi antara 2000 hingga 2010. Penambangan tidak menjadi ancaman utama bagi hutan dalam periode itu, terutama jika dibandingkan dengan faktor lain yang lebih signifikan. Meskipun ancamannya bisa meningkat mengingat luasnya lahan untuk eksplorasi, ia menilai sebagian besar hal tersebut kemungkinan hanya sebatas spekulasi lahan.
Obidzinski menekankan risetnya menyoroti tren meningkatnya penambangan batubara di Kalimantan. Ia juga menggarisbawahi potensi dampak jika permintaan global, terutama dari India dan China, terus meningkat.
Ia menambahkan bahwa sejauh ini dampak lingkungan yang muncul masih relatif terbatas. Namun, ia juga menekankan temuan penting lainnya—yakni bahwa potensi kerusakan lingkungan bisa meningkat secara signifikan apabila permintaan pasar batubara terus berlanjut dan lebih banyak konsesi tambang mulai beroperasi.
Penelitian menunjukkan adanya lonjakan signifikan dalam pemberian lahan untuk konsesi tambang batubara di Kalimantan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, peningkatan ini belum berbanding lurus dengan tingginya angka deforestasi yang secara langsung akibat dari aktivitas pertambangan batubara.
Meijaard menjelaskan bahwa aktivitas tambang batubara hanya menyebabkan skala deforestasi kecil dibandingkan sektor pertanian, perkebunan, kebakaran dan faktor lain.
Alokasi Konsesi
Terkait alokasi konsesi tambang batubara yang lebih baru, Meijaard menuturkan bahwa sebagian besar kemungkinan tidak akan bermanfaat untuk penambangan—baik karena tidak mengandung cadangan batubara maupun karena tidak menguntungkan secara ekonomi untuk ditambang.
Anne Russon, peneliti dari York University di Kanada yang memimpin Proyek Orangutan Kutai di Taman Nasional Kutai, menyatakan bahwa meskipun tambang batubara bukan penyebab utama deforestasi—dan mungkin tidak merambah hutan secepat sektor pertanian—aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan habitat yang lebih serius.
Batubara dan Taman Nasional Kutai
Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur merupakan habitat penting bagi subspesies orangutan Kalimantan Timur Laut, Pongo pygmaeus morio. Menariknya, taman ini menjadi satu-satunya kawasan konservasi kategori I-IV IUCN yang juga tercatat sebagai lokasi aktivitas penambangan. Kategori I-IV mencerminkan kawasan lindung dengan tingkat gangguan paling minim dan nilai konservasi tertinggi. Atas dasar itu, IUCN menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk secara hukum melarang eksplorasi maupun ekstraksi sumber daya mineral di kawasan lindung yang tergolong dalam kategori tersebut.
Meskipun aktivitas penambangan industri tidak terjadi di dalam kawasan Taman Nasional Kutai, tambang Kaltim Prima Coal (KPC) milik BUMI Resources berlokasi di seberang Sungai Sangatta, tepat di sisi utara taman tersebut. Sementara itu, tambang batubara Indominico Mandiri milik Indo Tambangraya Megah berada di perbatasan tenggara taman nasional.
BUMI tercatat sebagai eksportir batubara terbesar, dengan total ekspor mencapai 68,3 juta ton pada tahun 2012. Sekitar separuh dari volume tersebut berasal dari tambang KPC, yang menghasilkan pendapatan sebesar $3,6 miliar. Produksi KPC bahkan meningkat hampir 30% menjadi 53,5 juta ton pada tahun 2013. Luas konsesi tambang ini mendekati 91.000 hektare, meskipun aktivitas penambangan hanya mencakup sebagian kecil area, tersebar di sejumlah lokasi tambang terpisah di dalam konsesi tersebut. KPC merupakan tambang batubara terbesar yang beroperasi.
“KPC terletak di seberang sungai dari lokasi studi lapangan orangutan liar kami di Kutai—getaran dari aktivitas peledakan bahkan dapat kami rasakan,” ujar Anne Russon, menggambarkan betapa dekatnya jarak antara tambang dan area penelitian.
Sejarah Eksploitasi
Taman Nasional Kutai yang mencakup area seluas 198.600 hektare memiliki sejarah panjang eksploitasi sumber daya alam—baik secara legal maupun ilegal—selama beberapa dekade. Baru resmi pada tahun 1996, kawasan ini telah mengalami kerusakan signifikan, terutama di bagian timur, akibat aktivitas penebangan, eksplorasi minyak dan pertanian. Sejak tambang Kaltim Prima Coal (KPC) mulai beroperasi pada tahun 1989, masuknya para pekerja dan keluarganya memperluas wilayah Sangatta dan meningkatkan akses masyarakat ke taman nasional. Dampaknya, kegiatan seperti perburuan liar, penambangan emas tradisional serta eksploitasi pohon turut meningkat tajam.
Meski menghadapi degradasi, Taman Nasional Kutai tetap menjadi habitat penting bagi 10 spesies primata, termasuk orangutan, siamang Kalimantan (Hylobates muelleri) dan bekantan (Nasalis larvatus)—ketiganya masuk dalam kategori Terancam Punah menurut Red List IUCN. Selain itu, terdapat pula lutung banggat (Presbytis hosei), yang termasuk sebagai spesies rentan. Tak hanya primata, taman ini juga rumah bagi sekitar 90 spesies mamalia lainnya seperti macan dahan dan beruang madu, serta sekitar 300 jenis burung. Survei tahun 2010 mencatat peningkatan populasi orangutan dari sekitar 600 ekor pada 2004 menjadi kemungkinan 2.000 ekor dalam kawasan taman.
Anne Russon meragukan estimasi jumlah tersebut dan menyatakan bahwa, menurut pandangan pribadinya yang cenderung konservatif, jumlah orangutan di taman kemungkinan lebih mendekati 1.000 ketimbang 2.000.
Namun, kabar positif seperti ini jarang muncul dalam upaya pelestarian orangutan.
Berapa Jumlah Orangutan di Kawasan Tersebut?
Para peneliti juga melakukan survei populasi orangutan di luar kawasan taman nasional, mencakup wilayah multiguna sekitarnya. Yaya Rayadin—dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman di Samarinda sekaligus Kepala ECOSITROP (Ecology and Conservation Center for Tropical Studies)—telah turut ambil bagian dalam seluruh survei tersebut, termasuk yang berlangsung di dalam taman.
Yaya telah menyusun laporan yang merangkum hasil survei transek sejauh lebih dari 66 kilometer, mencakup berbagai tipe lahan seperti hutan primer, hutan sekunder, kawasan karst, area reklamasi pascatambang, hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit. Peneliti mencatat jumlah sarang tidur orangutan sebagai dasar estimasi kepadatan populasi per kilometer persegi, lalu mengekstrapolasi hasilnya ke seluruh wilayah sampel.
Meskipun area reklamasi pascatambang mencatat kepadatan tertinggi—yakni 7,66 individu perkilometer persegi—Yaya menjelaskan bahwa angka ini kemungkinan muncul oleh fragmentasi hutan di wilayah konsesi tambang, yang memaksa orangutan berkumpul di area terbatas, sehingga memperbesar tingkat kepadatan.
Yaya menghitung keseluruhan area dan menyatakan populasi orangutan di wilayah tersebut relatif rendah, hanya delapan hingga 12 individu. Jumlah ini mencerminkan tingkat kepadatan yang sangat kecil untuk area konsesi seluas hampir 91.000 hektare.
Anne Russon menyatakan bahwa angka delapan individu tidak bisa menjadi patokan sebagai jumlah total populasi orangutan di wilayah konsesi tersebut, karena menurutnya jumlah itu terlalu rendah. Ia juga menambahkan bahwa pihak KPC pernah memindahkan orangutan dari area konsesinya, meskipun jumlah pastinya tidak jelas dan kemungkinan sebagian telah berpindah ke kawasan taman nasional.
Yaya mengonfirmasi bahwa telah merekomendasikan pemindahan orangutan yang berada terlalu dekat dengan area operasional tambang untuk mencegah potensi konflik dengan manusia—yang sering kali berujung fatal bagi satwa tersebut. Ia menyarankan mempertahankan koridor hutan agar orangutan dapat berpindah ke Taman Nasional Kutai atau area jelajah lainnya.
Sustainability Report KPC
Sustainability Report KPC tahun 2012—yang merupakan laporan terbaru—memberikan penjelasan tambahan terkait jumlah orangutan. Angka minimum delapan individu merujuk pada temuan di empat area reklamasi, meskipun luas total wilayah reklamasi tidak dijelaskan secara rinci. Dengan adanya 18 lubang tambang aktif hingga saat ini, kemungkinan beberapa di antaranya telah ditutup dan direklamasi sejak awal operasi KPC pada tahun 1989. Selain itu, beberapa area hutan primer dan sekunder yang menjadi lokasi pengambilan sampel juga berada dalam wilayah konsesi. Oleh karena itu, jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi dari delapan hingga 12 individu sebagaimana disebutkan oleh Yaya maupun dalam dokumen resmi KPC.
Tambang batubara Indominico Mandiri, yang memiliki konsesi lebih dari 25.000 hektare, terletak berbatasan langsung dengan sisi tenggara Taman Nasional Kutai. Namun, situs web maupun laporan keberlanjutannya tidak memuat informasi mengenai keberadaan orangutan, dan komunikasi dengan Puji Rahadin—pejabat Mutu, Keselamatan dan Lingkungan dari Indo Tambangraya Megah (ITM), selaku pemilik tambang—juga tidak memberikan kejelasan tambahan.
Yaya menjelaskan bahwa pihaknya membentuk 12 plot pemantauan permanen berdasarkan variasi tutupan hutan. Dalam pelaksanaannya, bekerja sama dengan para pakar dari Universitas Mulawarman dan ECOSITROP. Ia menambahkan bahwa upaya konservasi orangutan di wilayah ITM mengacu pada ketentuan pemerintah, salah satunya adalah Rencana Aksi Orangutan.
Di sepanjang sisi barat daya Taman Nasional Kutai—yang berbatasan langsung dengan wilayah Indominico Mandiri—terdapat dua perkebunan industri besar yang difungsikan untuk produksi pulp dan kertas. Menariknya, hasil survei tahun 2010 memperkirakan sedikitnya 1.938 individu orangutan berada di salah satu dari kedua perkebunan tersebut, sebuah temuan yang sama sekali tak terduga.
Tingkat Kepadatan Orangutan
Stephanie Spehar dari University of Wisconsin menyatakan bahwa hasil penelitian terbarunya masih menunjukkan tingkat kepadatan orangutan yang relatif tinggi di area perkebunan tersebut, maupun di komponen lain dalam lanskap multifungsi—seperti kawasan tambang batubara. Ia juga diketahui telah bekerja sama dengan Yaya Rayadin dalam menangani beragam isu terkait upaya konservasi orangutan.
Spehar menyatakan bahwa pemahamannya mengenai dampak jangka panjang dari kondisi bentang alam saat ini terhadap populasi orangutan masih terbatas. Ia menjelaskan bahwa meskipun orangutan merupakan spesies berumur panjang dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi, kemampuan tersebut bisa saja memiliki batas, yang dampaknya mungkin baru terlihat setelah waktu yang cukup lama. Ia menekankan bahwa keberadaan populasi yang besar saat ini tidak menjamin keberlangsungan jumlah tersebut di masa depan.
Anne Russon sepakat bahwa subspesies morio yang berasal dari Kalimantan Timur Laut dikenal memiliki tingkat adaptasi yang tinggi. Ia menambahkan bahwa orangutan di wilayah tersebut harus memiliki ketahanan luar biasa untuk bisa bertahan hidup di tengah keterbatasan sumber pangan dan tantangan iklim yang ekstrem.
Spehar menekankan bahwa lanskap multifungsi—yang didominasi oleh aktivitas manusia—kini mencakup porsi yang semakin luas dari wilayah jelajah orangutan yang telah dipetakan. Oleh karena itu, jika ingin memastikan kelangsungan hidup orangutan dalam jangka panjang, penting untuk memahami cara memanfaatkan lanskap semacam ini secara efektif serta mengelola populasi orangutan dengan baik.
Berdasarkan temuan survei dan tingginya kemampuan adaptasi orangutan, diperkirakan terdapat sedikitnya 3.000 hingga lebih dari 4.000 individu yang tersebar di wilayah Taman Nasional Kutai, dua konsesi tambang dan area perkebunan industri. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10% dari total populasi orangutan di Kalimantan. Menurut perkiraan Russon, saat ini tersisa sekitar 40.000 individu di pulau tersebut—angka yang menurun dibandingkan estimasi Daftar Merah IUCN tahun 2003 yang berada di kisaran 45.000 hingga 69.000 individu.
Pembangkit Listrik Baru
Komitmen untuk membangun pembangkit listrik tenaga batubara baru, sebagaimana dilaporkan dalam studi Davis dan Socolow, serta peningkatan signifikan dalam alokasi lahan untuk konsesi tambang batubara yang diungkapkan oleh Obidzinski dan Meijaard, menunjukkan bahwa prospek masa depan tidak menjanjikan—baik bagi upaya pengurangan emisi gas rumah kaca maupun bagi keberhasilan konservasi orangutan.
Akibatnya, Indonesia berisiko menghadapi kondisi di mana keberhasilan dalam menekan deforestasi dan kehilangan lahan gambut justru tergerus oleh peningkatan signifikan dalam produksi dan ekspor batubara, yang berpotensi meniadakan atau bahkan melampaui penghematan emisi yang telah dicapai.