Kekayaan keanekaragaman hayati, kepadatan penduduk dan posisi sebagai simpul transportasi internasional meningkatkan risiko penyakit menular muncul. Risiko ini makin besar karena kapasitas antarwilayah tidak merata. Sistem subnasional masih timpang. Distribusi SDM tidak seimbang. Koordinasi multisektor di era desentralisasi tetap menantang.
Pemerintah merespons tantangan dengan merujuk rekomendasi Evaluasi Eksternal Bersama atas Regulasi Kesehatan Internasional dan Rencana Aksi Nasional Keamanan Kesehatan. Lalu memulai kegiatan prioritas melalui hibah Dana Pandemi dan menjalankan inisiatif bersama WHO, FAO, serta Bank Dunia. Mitra nasional dan internasional turut melaksanakan program tersebut. Pemerintah memformalkan program melalui rangkaian pertemuan koordinasi dan teknis. CARE-I adalah Pendekatan Kolaboratif untuk Pengawasan dan Kesiapsiagaan Pandemi yang Tangguh di Indonesia. Peluncuran resmi CARE-I berlangsung pada 15–16 April 2026.
Dana Pandemi adalah mekanisme pendanaan global yang dibentuk pada 2022. Dana ini mendanai CARE‑I untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi. Program mengembangkan pendekatan One Health yang komprehensif untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Tim melaksanakan intervensi di tingkat nasional dan subnasional untuk efektivitas lokal. Pemerintah merencanakan CARE-I berjalan selama tiga tahun, 2026–2028.
Dukungan Teknis
Sepanjang pelaksanaan program, WHO dan FAO akan menyediakan dukungan teknis serta tenaga ahli. Dukungan mencakup pelatihan staf laboratorium untuk memperkuat kapasitas pengujian penyakit. Dukungan juga memastikan penanganan bahan biologis yang aman dan terlindungi serta menjaga standar mutu tinggi. Kedua organisasi akan memperkuat sistem pengawasan dan meningkatkan kemampuan deteksi serta respons terhadap wabah. Mereka juga melatih tenaga kesehatan lini depan agar cepat mendeteksi dan merespons kejadian luar biasa. Koordinasi lintas sektor ditingkatkan untuk mencegah penularan penyakit dari hewan ke manusia.
Pertemuan perdana CARE-I menghadirkan lebih dari 50 perwakilan dari berbagai kementerian dan organisasi, termasuk Kemenko PMK, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, BRIN, WHO, FAO dan Bank Dunia.
“CARE-I akan memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman kesehatan masyarakat di masa mendatang,” ujar Dr. Andi Saguni, Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan. “Kami berharap program ini dapat terlaksana secara menyeluruh melalui kolaborasi yang erat dan tanggung jawab bersama demi Indonesia yang lebih tangguh.”
Dengan memperkuat kemampuan mendeteksi dan mengelola ancaman kesehatan masyarakat, CARE-I membantu melindungi hal-hal paling penting bagi warga: keluarga, mata pencaharian dan rasa aman. Deteksi dini serta respons yang lebih kuat berarti lebih sedikit kehidupan yang terganggu oleh penyakit, lebih sedikit anak yang terpaksa absen sekolah dan lebih sedikit komunitas yang diliputi ketakutan serta ketidakpastian saat wabah. Sistem kesehatan yang lebih tangguh juga menumbuhkan keyakinan publik bahwa bantuan akan datang cepat ketika krisis terjadi dan layanan esensial tetap berjalan, sehingga negara dapat melangkah maju bersama.