Peraturan Pertambangan Picu Kekacauan dan Kerugian

Fitch Ratings memperingatkan bahwa

Fitch Ratings memperingatkan bahwa usulan kebijakan pertambangan akan meningkatkan risiko kredit secara tidak merata bagi penambang batubara, kontraktor tambang, dan pengolah nikel hilir. Usulan aturan batubara berpotensi melemahkan arus kas penambang dan kontraktor, sedangkan perubahan harga nikel kemungkinan akan menekan kinerja para pengolah.

Pemerintah, jika menerapkannya, akan memperburuk risiko kredit bagi produsen batubara hulu dan kontraktor tambang. Pengenaan bea ekspor akan menekan margin keuntungan yang terealisasi, sedangkan kuota produksi yang lebih rendah akan memangkas volume dan arus kas produsen hulu. Kontraktor tambang akan merasakan dampak lanjutan dari berkurangnya pengupasan dan pemindahan lapisan tanah penutup, tergantung pada ketentuan kontrak layanan dan cara penambang mengelola produksi di berbagai lokasi.

Ketidakpastian kebijakan sudah memengaruhi aktivitas: volume ekspor batubara turun 7% secara tahunan pada 2026 karena beberapa penambang memangkas produksi dan menunda penjualan spot saat persetujuan kuota tertunda. Pemerintah menyiratkan akan melonggarkan pemotongan kuota seiring penguatan harga belakangan, namun prospek jangka panjang tetap minim. Rencana penerapan bea ekspor terus berjalan, terutama setelah kenaikan harga batubara termal baru-baru ini. Indeks Batubara Indonesia 4 kini sekitar $60/ton, lebih tinggi dari rata-rata 2025 sebesar $46/ton.

Perubahan Kebijakan

Perubahan kebijakan nikel diperkirakan paling berdampak pada unit pengolahan hilir. Pemangkasan kuota penambangan total untuk 2026 akan memangkas volume bagi banyak penambang, namun kenaikan harga kemungkinan menetralkan efek tersebut. Harga nikel naik sekitar 20% sejak awal Desember 2025 karena ekspektasi pasokan yang lebih ketat. Produsen bijih juga akan diuntungkan oleh kenaikan harga patokan bijih nikel domestik yang ditetapkan pemerintah mulai pertengahan April 2026.

Namun, kebijakan ini akan mendorong kenaikan biaya input dan menurunkan tingkat pemanfaatan pabrik peleburan serta pengolahan. Menurut perkiraan terbaru Wood Mackenzie, kelebihan pasokan nikel masih ada, sehingga pengolah kemungkinan sulit meneruskan kenaikan biaya ke pelanggan dan akan mengalami tekanan margin. Keputusan Menteri Nomor 144/2026 yang merevisi harga patokan bijih nikel bertujuan meningkatkan transparansi harga, mencerminkan nilai bijih lebih akurat, dan menambah penerimaan pemerintah dari royalti.

Fitch belum sepenuhnya memasukkan risiko-risiko tersebut dalam skenario dasarnya karena masih minimnya kepastian waktu dan cakupan pelaksanaan kebijakan. Secara keseluruhan, risiko di sektor pertambangan meningkat. Saat ini Fitch menilai risiko negara bagi perusahaan tambang sebagai Sedang pada navigator peringkat, setara skor bb. Perubahan kebijakan dan ketidakpastian yang berlanjut berpotensi mendorong penurunan peringkat, sehingga menambah tekanan negatif pada profil kredit perusahaan pertambangan.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *