Indonesia menghentikan impor solar bersubsidi berkualitas rendah mulai 1 Juli. Kebijakan ini seiring penerapan wajib program biodiesel B50. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan hal itu pada 19 April.
“Mulai 1 Juli, pemerintah akan menghentikan impor solar bersamaan dengan penerapan B50,” kata Amran. “Energi ini solusi masa depan karena berasal dari minyak sawit,” ujarnya. Ia menyampaikannya kepada wartawan saat wisuda Institut Teknologi Sepuluh November di Surabaya.
Masyarakat umumnya menggunakan solar sebagai bahan bakar diesel bersubsidi untuk angkutan umum dan kendaraan berukuran kecil.
Indonesia memproduksi dan memasok minyak sawit terbesar di dunia, sedangkan Malaysia menyusul di posisi berikutnya. Indonesia kini menjalankan mandat biodiesel 40 persen atau B40.
Negara ini mempercepat mandat biofuel demi target keamanan energi pada 2026. Pemerintah mengambil langkah ini setelah subsidi energi melonjak akibat konflik di Timur Tengah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pada awal April dampak perang Iran. Dampak itu menambah kebutuhan subsidi energi hingga Rp100 triliun tahun ini.
Berdasarkan data pemerintah, pemerintah memperkirakan impor diesel pada 2025 mencapai 4,9 juta kiloliter, sekitar 10,6% kebutuhan nasional.
Sementara itu, konsumsi biodiesel meningkat menjadi 14,2 juta kiloliter pada tahun 2025, naik dari 9,3 juta kiloliter pada tahun 2021, menurut data dari pemerintah dan badan perdagangan biodiesel APROBI.
GAPKI menyatakan pada 1 April bahwa mereka memperkirakan kebutuhan minyak sawit untuk bahan baku biodiesel tahun ini mencapai sekitar 15 juta metrik ton, naik 2 juta metrik ton dari tahun lalu.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pada Maret bahwa penerapan mandat pencampuran biodiesel B50 diperkirakan dapat menekan konsumsi diesel fosil sekitar 4 juta kiloliter per tahun.
Kapasitas Produksi Meningkat
Dalam wawancara televisi terpisah pada 19 April, Unggul Priyanto dari unsur pemangku kepentingan teknologi Dewan Energi Nasional menyatakan bahwa kapasitas produksi biodiesel mencapai 22 miliar liter per tahun, sementara kebutuhan untuk program B50 diperkirakan sebesar 19 juta kiloliter.
Menurut Unggul pada 19 April, kapasitas produksi biodiesel perlu ditingkatkan menjadi 24 juta kiloliter untuk mengantisipasi waktu henti perawatan. Ia juga menyatakan bahwa penggunaan campuran baru tersebut mungkin mengharuskan kendaraan memakai filter tambahan serta membutuhkan volume bahan bakar sedikit lebih besar.