Jejak Kehancuran: Peran Kayu Lapis dalam Merobek Hutan

laju deforestasi tercepat dunia

Indonesia saat ini mencatat laju deforestasi tercepat di dunia, dan ekspansi perkebunan kelapa sawit memicu kondisi tersebut. Tren ini sebenarnya muncul sejak lama karena permintaan tinggi terhadap kayu lapis sebagai bahan bangunan populer.

Pada era 1970-an dan 80-an, kayu lapis menandai eksploitasi hutan hujan Kalimantan. Kondisi itu membuka peluang bagi pertumbuhan industri pulp dan kertas. Selain itu, minyak sawit mulai berkembang sebagai sektor penting dalam ekonomi kawasan.

Hutan Raksasa

Indonesia sebelumnya menempati posisi sebagai hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia setelah Amazon. Kini hutan hujan Kongo menyalip posisi Indonesia.

Kalimantan memiliki sekitar 15.000 jenis tumbuhan dan menunjukkan kekayaan keanekaragaman hayati lebih tinggi dari benua Afrika. Kalimantan menegaskan keunggulan tersebut meskipun luas wilayahnya 40 kali lebih kecil daripada Afrika.

Sekitar 315.000 orangutan dulu bergelantungan dan hidup di hutan dipterokarpa raksasa Kalimantan. Kini jumlahnya menurun drastis, hanya tersisa sekitar 27.000 individu.

Kayu Lapis Ada di Mana-mana

Serat kayu yang lurus dan kokoh pada gitar menunjukkan bahwa instrumen ini berasal dari pohon hutan hujan tropis yang bisa tumbuh hingga 45 meter. Pekerja menebang pohon tersebut dan mengolahnya menjadi kayu lapis. Pengrajin gitar kemudian menggunakan kayu lapis itu sebagai bagian belakang gitar.

Kayu lapis menjadi salah satu material bangunan yang banyak gunanya. Pengrajin furnitur kemungkinan besar menggunakan kayu lapis pada berbagai elemen di rumah.

Lembaga keuangan, para pembuat kebijakan, dan berbagai produk yang mulai menjadi komoditi perdagangan sejak era 1950-an membangun keterkaitan erat dengan hutan tropis Kalimantan.

Di Amerika Serikat, kayu lapis berperan penting dalam mendorong pertumbuhan pesat industri konstruksi setelah Perang Dunia II.

Kisah Kayu Lapis

Pada tahun 1966, Indonesia menghadapi krisis ekonomi yang parah. Di tengah situasi penuh ketidakpastian, Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan dan naik sebagai presiden setelah serangkaian peristiwa kelam. Pasukan melakukan pembantaian yang menewaskan sekitar satu juta orang dan menuduh mereka sebagai simpatisan komunis.

Pada tahun 1960-an, Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, serta pemerintah Australia dan Jepang bekerja sama menyediakan bantuan finansial melalui program pembangunan guna menarik investor asing. Meskipun pembangunan menjadi narasi utama yang menarik saat itu, hal ini juga menyebabkan terpinggirkannya isu-isu penting lain seperti pelestarian lingkungan dan hak-hak masyarakat adat.

Berkat dukungan para penasihat ekonomi Barat, Soeharto mendapat julukan Bapak Pembangunan. Di bawah arahannya, pemerintah menyusun Undang-Undang Kehutanan tahun 1967 serta merumuskan regulasi tentang penanaman modal asing. Regulasi ini menetapkan sekitar 143 juta hektare—atau sekitar 75% dari daratan—sebagai kawasan hutan.

Pemerintah secara resmi memberikan hak kepada perusahaan swasta dan mitra lokal untuk mengeksploitasi wilayah konsesi penebangan berskala besar. Masyarakat adat Dayak telah lama menghuni area tersebut. Hak-hak tradisional yang telah eksis selama ribuan tahun pun tergeser oleh kehadiran perusahaan penebangan modern pada abad ke-20.

Penggusuran masyarakat lokal dan program transmigrasi yang memindahkan tujuh juta warga Jawa berdampak pada peningkatan kemiskinan secara signifikan. Akibatnya, kebakaran hebat melanda Kalimantan pada tahun 1982–83 dan tercatat sebagai kebakaran hutan terbesar. Petani miskin membakar lahan untuk bertani sehingga memicu kebakaran tersebut.

Pada bulan Mei 2014, Komnas HAM memulai penyelidikan nasional perdana mengenai pelanggaran hak atas tanah dan kawasan hutan.

Kisah Korupsi

Filipina memulai penjualan hasil hutan, dan pada abad ke-20 negara itu mencatat reputasi buruk terkait deforestasi.

Dalam kurun tiga dekade, Filipina mengalami deforestasi besar-besaran. Para penebang menebang habis sekitar 30 juta hektare hutan, atau 80% wilayah negara itu. Pada tahun 1972, eksploitasi yang masif menyebabkan jumlah konsesi melebihi luas hutan yang masih tersisa.

Sebuah studi komprehensif mengenai deforestasi mencatat bahwa antara tahun 1967 hingga 1970, pemerintah mengalokasikan lebih dari 53 juta hektare wilayah hutan kepada perusahaan-perusahaan penebangan internasional.

Sejumlah perusahaan seperti Wyerhauser dan Georgia Pacific dari AS serta Mitsubishi dari Jepang mengikuti pola yang berkembang di Filipina. Pemerintah memberikan jaminan repatriasi keuntungan tanpa biaya dan membebaskan pajak mereka untuk sementara waktu. Antara tahun 1969 hingga 1974, nilai ekspor kayu bulat melonjak hingga enam kali lipat.

Pada tahun 1979, Indonesia menempati posisi teratas sebagai produsen utama kayu tropis dunia, menguasai sekitar 40% pasar global.

Georgia Pacific

Pada tahun 1970, Georgia Pacific menjadi salah satu raksasa industri penebangan dunia, bermitra dengan Bob Hasan—sahabat dekat sekaligus rekan bisnis Presiden Soeharto. Untuk menghentikan arus keuntungan besar dari ekspor kayu gelondongan dan mengonsolidasikannya di bawah kendali pusat, Bob mereformasi sektor kehutanan dengan membentuk monopoli kayu lapis yang sukses secara global.

Larangan ekspor kayu gelondongan pada tahun 1981 mendorong banyak investor asing besar untuk hengkang, yang pada gilirannya menyebabkan penurunan nilai kayu gelondongan di dalam negeri dan menjadikan bahan tersebut lebih murah bagi industri kayu lapis lokal.

Di bawah kendali Bob Hasan, Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) memperoleh otoritas besar dari Presiden Soeharto, termasuk hak eksklusif untuk mengeluarkan izin ekspor bagi produsen kayu lapis serta wewenang untuk menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan yang melanggar regulasinya.

Apkindo membanjiri pasar ekspor kayu lapis global, dan hingga tahun 1987, strategi harga agresifnya berhasil menguasai 75% impor kayu lapis Amerika serta 67% pasar global kayu lapis tropis, dengan keuntungan besar yang mengalir ke lingkaran dekat Bob Hasan dan Presiden Soeharto.

Pada 1994, Bob Hasan tercatat sebagai salah satu individu terkaya di dunia.

Pada tahun 1997, Bob Hasan menerima medali dari pemerintah Amerika Serikat atas kontribusi lingkungannya dalam pembangunan pabrik pulp dan kertas berskala besar, serta dianugerahi gelar profesor kehormatan—sebuah penghargaan yang dinilai kontroversial oleh sebagian pihak.

Hutan Terbakar

Pada saat itu, kekhawatiran terhadap hilangnya hutan mulai mencuat, terlebih ketika kebakaran hutan terbesar dalam sejarah terjadi pada tahun 1997–98. Sebanyak lima juta hektare hutan dipterokarpa yang kaya dilalap api, menewaskan sepertiga populasi orangutan. Jika diibaratkan manusia, dampaknya setara dengan musnahnya populasi gabungan China, Amerika Serikat dan Eropa.

Barulah memasuki abad ke-21, perhatian serius mulai tertuju pada kondisi hutan. Laporan mengejutkan berjudul Where Have All the Forests Gone karya Derek Holmes yang terbit pada tahun 2002 mengungkap penurunan drastis tutupan hutan, nyaris menyentuh titik nol.

Jika tren penurunan terus berlanjut, grafik tersebut memperkirakan hutan hujan dataran rendah di Kalimantan akan punah pada tahun 2010, dan seluruh tutupan hutan hilang pada tahun 2035. Meski pada tahun 2014 kenyataannya tak seburuk prediksi Holmes, kondisi hutan tetap memprihatinkan.

Sekitar 60% hutan dataran rendah Kalimantan telah lenyap, sementara hutan hujan yang masih ada ditebangi dengan kecepatan yang meningkat demi memenuhi permintaan pasar akan produk kertas dan kelapa sawit.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *