Santap bersama untuk menandai awal dan akhir puasa merupakan tradisi utama selama bulan Ramadhan. Namun di Indonesia—yang merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia—tradisi ini sering kali melibatkan kehadiran makanan serta tamu dari berbagai latar belakang agama.
Di Masjid Istiqlal yang megah—masjid terbesar di Asia Tenggara—pemandangan umat Hindu, Kristen bahkan Yahudi turut hadir di antara ribuan orang yang menerima hidangan saat waktu berbuka bukanlah sesuatu yang luar biasa.
Muhammad Wahyono, salah satu staf masjid, menyampaikan bahwa setiap hari menyiapkan sekitar 3.000 porsi takjil—hidangan ringan untuk berbuka puasa—berkat dukungan dari para donatur yang memberikan sumbangan.
“Siapa saja dipersilakan untuk datang. Kami tidak akan menanyakan apakah seseorang sedang berpuasa atau tidak, maupun apakah beragama Islam atau bukan,” tuturnya.
Wahyono menyoroti nilai kesetaraan dalam tradisi makan bersama, di mana ribuan orang—baik yang kurang mampu maupun yang berkecukupan, muslim maupun non-muslim—berkumpul dan menikmati hidangan secara berdampingan.
“Semua orang menikmati hidangan yang sama,” ujarnya, seraya menyebutkan sajian istimewa seperti nasi, aneka sayuran, beragam kue dan buah-buahan—dengan kurma sebagai salah satu yang paling menonjol.
Meski sejumlah masjid terbuka bagi non-muslim untuk ikut berbuka puasa, ada pula umat Islam yang memilih berbuka di kediaman pemeluk agama lain.
Di Bali, komunitas Hindu di Puri Gerenceng—yang dulunya merupakan pusat kerajaan Hindu di Denpasar, ibu kota pulau tersebut—menggelar acara buka puasa sebagai upaya mempererat hubungan antara umat muslim yang merupakan minoritas dan umat Hindu yang menjadi mayoritas di wilayah tersebut.
“Komunitas Hindu di Gerenceng kerap mengundang umat muslim untuk berbuka puasa bersama sebagai bentuk upaya memperkuat hubungan antar pemeluk agama,” tutur Erviani, seorang warga Bali.
Ia menjelaskan bahwa umat Hindu turut mengundang umat muslim ke lokasi tersebut untuk ikut merayakan Galungan—momen yang diyakini oleh masyarakat Bali sebagai waktu kedatangan roh para leluhur.
Di Semarang, warga ramai-ramai menikmati bubur India—hidangan khas luar negeri yang hanya disajikan selama bulan Ramadhan sebagai menu berbuka puasa.
Tidak seperti bubur tradisional yang umumnya bercita rasa manis, bubur India menawarkan rasa gurih yang khas berkat penggunaan rempah-rempah yang kuat.
Hidangan populer ini berasal dari resep yang dibawa oleh para pedagang India yang menetap di kota tersebut sejak ratusan tahun silam. Saat ini, makanan tersebut hanya disajikan di Masjid Jami Pekojan yang bersejarah, yang berada di kawasan Semarang tempat komunitas India, China Buddha dan Jawa hidup berdampingan secara harmonis.
“Apakah Anda tahu apa yang membuat hidangan buka puasa ini begitu istimewa?” tanya Mat Soim, pengurus Pekojan, pada hari Jumat.
“Sebab untuk menikmati hidangan ini, ratusan orang dari beragam latar belakang berkumpul dan berbuka puasa bersama di tempat ini.”
Ia menjelaskan bahwa pada masa lampau, para pedagang asal India biasa mengajak warga sekitar untuk menikmati bubur bersama selama bulan Ramadhan—sebuah kebiasaan yang kini telah menjadi tradisi turun-temurun.
Proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama—Soim bersama dua staf masjid harus mengaduk campuran gandum dan rempah-rempah secara terus-menerus selama setidaknya dua jam.
Menjelang waktu berbuka, hidangan tersebut dibagi ke dalam 200 mangkuk, lalu disajikan bersama kurma dan air zamzam kepada anak-anak, perempuan dan laki-laki yang dengan sabar menanti azan di luar.
Karena banyak jamaah datang dari tempat yang jauh—bahkan ada yang menempuh perjalanan berjam-jam—tak sedikit di antaranya yang merasa kecewa.
“Sering kali, saat sampai di sini, semuanya sudah habis,” ujar Soim.
Mengumpulkan bahan-bahannya bisa menjadi pekerjaan yang cukup menguras biaya. Ia pun menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pemeluk agama lain yang telah memberikan bantuan.
“Warga dari agama lain di sekitar sini selalu memberikan dukungan terhadap kegiatan kami,” ujar Soim.
“Mereka tidak pernah mengganggu kami. Sebagai umat Islam, kami sangat bersyukur atas situasi yang harmonis ini.”
Namun bagi yang bukan Muslim, tidak semua keistimewaan Ramadhan dapat dinikmati di masjid—beberapa bahkan justru sebaliknya.
Alini, 26 tahun, yang bekerja di ibu kota, mengungkapkan bahwa sangat menikmati berkurangnya kemacetan setelah pukul 6 sore saat waktu berbuka puasa, karena hal ini memungkinkannya untuk pulang lebih cepat.
Pada bulan Februari 2015, Jakarta mendapat predikat sebagai kota dengan tingkat kemacetan lalu lintas terparah di dunia.
“Lalu lintas terasa lebih tertib. Selain itu, penumpang di kereta cenderung lebih tenang selama bulan puasa,” tuturnya.