Sebagai salah satu penulis fiksi terkemuka yang masih aktif, Putu Wijaya menggambarkan semangat kebangsaan melalui cerita pendeknya yang berjudul Freedom.
Di sebuah kota kecil, tepat pada hari peringatan kemerdekaan, lahirlah seorang bayi. Sang ayah, yang pernah menjadi seorang revolusioner, menggendong anaknya dengan penuh kebanggaan.
“Selamat datang ke dunia, dan selamat datang di tanah air kita,” ucap sang ayah dengan penuh sukacita. “Engkaulah harapan dan masa depanku, penerus perjuanganku. Aku menamakanmu Freedom. Jadilah pahlawan bagi bangsa ini. Ukirlah sejarah yang berbeda dari perjalanan hidupku di masa silam. Bebaskan dirimu dari segala bentuk penindasan. Jangan ulangi jejak ayahmu. Bangkitkan negeri ini dari belenggu kemiskinan. Angkat penderitaan rakyat yang tertindas oleh para pemimpinnya. Jadilah harapan bagi masa depan kita semua.”
Freedom kecil, meski sudah mampu mendengar, belum dapat menyimak dengan penuh perhatian. Ia hanya membuka mulut sambil tertawa riang. Sang ayah pun tersenyum lembut dan membisikkan sesuatu.
“Alhamdulillah kamu sudah bisa mendengar ucapanku. Semoga kelak, ketika kamu tumbuh dewasa dan memahami makna dari kata-kataku, senyuman itu tetap menghiasi wajahmu.”
Dua dekade berlalu, Freedom telah menjelma menjadi seorang pemuda yang tangguh. Wajahnya memancarkan kecerdasan, pikirannya tajam dan aktif—bahkan mungkin melampaui tingkat kematangan seusianya. Ia penuh semangat dan tak segan mempertanyakan otoritas. Teman-temannya sangat menyukai dan mengaguminya, namun para guru justru merasa kesal terhadap sikapnya.
“Freedom adalah sosok yang luar biasa, seorang anak jenius. Ia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Kita membutuhkan figur seperti dia untuk menghadapi era milenium baru. Namun sayangnya, ia terlalu terfokus pada dirinya sendiri,” ujarnya.
Rendah Hati
“Jika saja ia sedikit lebih rendah hati, tak akan ada hambatan lagi untuk menjadikannya sebagai harapan kita,” ujar guru lainnya. “Di tengah era globalisasi, saat kita harus bersaing secara terbuka dengan dunia internasional, kita sangat membutuhkan sumber daya manusia yang unggul seperti Freedom. Sayangnya, ia tumbuh terlalu cepat. Di bidang yang menuntut penguasaan ilmu, kita harus memulai dengan proses penerimaan, bukan langsung bertindak. Kita tidak bisa mencapai kemajuan secara instan. Untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam, pada tahap awal kita harus bersedia menyerapnya tanpa perlawanan. Baru di tahap berikutnya, kita bisa mulai mempertanyakan secara logis. Setelah memahami fondasinya, barulah kita mampu mengembangkan atau menciptakan sesuatu. Memberontak sebelum memahami dasar-dasarnya adalah hal yang mustahil. Freedom belum bertindak sesuai dengan tahapan itu.”
Freedom tidak menggubris nasihat para gurunya. Ia memiliki dahaga yang besar terhadap pengetahuan, menyerap segala informasi tanpa ragu. Perasaan gurunya pun tak menjadi pertimbangannya. Bila ada hal yang tidak sejalan dengan pikirannya, ia akan menyampaikan keberatan secara spontan, bahkan tanpa memikirkan waktu atau tempat, ia langsung menyuarakan pendapatnya dengan tegas.
Karena sikapnya, Freedom mendapat cap sebagai pribadi yang keras. Lingkungannya menakutinya dan menjauhinya. Para guru selalu berhati-hati saat ia datang. Akhirnya, sekolah mengeluarkan Freedom hanya karena terlambat membayar uang sekolah.
Ketika teman-temannya memperoleh ijazah sebagai tanda kelulusan, Freedom hanya membawa pulang ilmu pengetahuan. Meski begitu, ia tidak merasa rendah diri. “Ilmu adalah yang paling aku butuhkan, bukan selembar ijazah,” ucapnya. Ia menggunakan kecerdasannya untuk terjun ke masyarakat dan menyelami kehidupan nyata.
Realita Masyarakat
Di tengah masyarakat, realitas sering bertentangan dengan teori yang guru ajarkan di kelas. Banyak orang mengakui ilmu penting, tetapi kenyataannya ijazah menentukan masuknya seseorang di dunia kerja. Ke mana pun Freedom melangkah, orang-orang selalu meminta dia menunjukkan ijazah sebelum memberi kesempatan. Namun, begitu orang mengetahui bahwa ia tidak memilikinya, semua peluang langsung tertutup rapat.
“Kamu memang pandai berbicara, tapi di mana buktinya? Mari kita periksa beberapa surat rekomendasi sebagai pendukungnya.”
Teman-teman Freedom yang kurang cerdas justru dengan mudah memperoleh pekerjaan dan jabatan. Lebih menyakitkan lagi, mereka yang meraih gelar melalui jalan pintas—dengan membeli ijazah dan menyuap kepala sekolah—malah menduduki posisi penting. Ketimpangan itu membuat Freedom merasa muak. Ia merasakan ketidakadilan yang nyata. Ia meledak dalam kemarahan dan melontarkan protes dengan suara lantang. Namun, kepada siapa ia harus menyampaikan protes itu? Nyatanya, semua orang hanya berpura-pura memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Ketika tiba waktunya untuk bertindak, mereka justru mundur dengan berbagai alasan. Bahkan surat kabar yang paling berani sekalipun kehilangan nyali saat berhadapan dengan para penguasa yang mampu meredam kritik dengan uang.
“Kalian hanya pandai berbicara, tapi saat situasi menjadi genting, kalian justru mengingkari prinsip kalian sendiri. Nyata sekali, kalian sedang mempraktikkan segala bentuk tipu muslihat yang sebelumnya kalian kecam,” seru Freedom dengan lantang.
Freedom mulai menyimpan kemarahan dan rasa benci terhadap kehidupan, sebab kenyataan menunjukkan bahwa hidup lebih berpihak pada ketidakadilan. Pandangannya menjadi sinis dan ia kehilangan kepedulian. Dunia yang dulu ia anggap sebagai samudra penuh harapan kini tampak seperti tempat bersemayamnya kejahatan. Masa depan hanya terdengar indah dalam percakapan, namun dalam realitas, semuanya terasa hampa dan tak berarti.
Sisi Gelap
Beruntung, tidak semua sisi gelap benar-benar kelam. Di tengah belantara penderitaan itu, masih ada kaum idealis yang tetap bertahan. Setelah tersentak oleh rasa jengkel yang halus, Freedom akhirnya bertemu dengan sosok yang berpihak pada kebenaran.
“Gelar memang memiliki peran penting, karena selama ini menjadi satu-satunya acuan dalam menilai kandidat terbaik. Namun, ijazah kini mudah orang palsukan,” ujar sang idealis. “Saudara Freedom, kualitas yang gelar janjikan hanya berlaku di lingkungan akademik, sementara di dunia nyata, kita membutuhkan kerja keras dan strategi—hal yang justru sering institusi pendidikan abaikan. Maka dari itu, jangan merasa sendiri. Aku tidak menutup mata; aku melihat dengan jelas potensi luar biasa dalam dirimu. Lupakan soal gelar—bukan mereka yang bersembunyi di balik ijazah yang akan membawa bangsa ini maju, melainkan para pemikir jenius seperti dirimu.”
Freedom segera dipercaya dan diangkat. Ia diberi tanggung jawab untuk memimpin sebuah proyek besar yang berpengaruh terhadap kehidupan jutaan orang. Kepadanya diserahkan jabatan penting, kekuasaan dan harapan besar dari banyak pihak.
Freedom bangkit kembali. Semangatnya menyala, tergambar dari rona wajahnya yang kembali berseri. Ia menyambut uluran tangan itu dengan mantap, siap melangkah dan menghadapi tantangan yang menantinya.
Namun di balik semua keberuntungan itu, tepat pada hari pelantikannya sebagai pemimpin proyek, seseorang yang sebelumnya telah memberinya kepercayaan muncul sambil membawa setumpuk uang. Dengan senyum manis yang disertai raut wajah sedikit canggung, ia menarik Freedom ke sebuah sudut secara diam-diam.
“Freedom,” ucapnya dengan nada penuh penyesalan, “kita sama-sama tahu bahwa tujuan utama orang mencari pekerjaan adalah demi uang. Bukankah begitu?”
Freedom mengangguk. Benar.
Demi Uang
“Begini, Saudaraku, pada dasarnya semua orang bekerja demi mendapatkan uang. Jadi, kalau Saudara sudah memiliki uang yang diinginkan, untuk apa lagi bekerja, bukan? Lihat ini—aku bawakan sekarung penuh uang untuk Saudara. Terimalah sebagai rezeki tak terduga. Sebagai gantinya, mohon kembalikan jabatan Saudara kepadaku. Ada anak pejabat yang membutuhkannya. Ia memiliki kekayaan melimpah, tapi tidak dihormati karena belum punya jabatan. Maka, ia membeli posisi Saudara. Saudara mendapat keuntungan, dan aku pun demikian.”
Tanpa memberi kesempatan untuk menjawab, ia langsung merebut kembali jabatan yang sebelumnya diberikan kepada Freedom, sambil menyodorkan setumpuk uang ke tangannya. Belum sempat Freedom bereaksi, si idealis sudah menghilang dari pandangan. Diliputi emosi, Freedom pun berteriak marah dan melemparkan uang itu dengan penuh amarah.
“Keparat. Jelas aku membutuhkan uang. Aku paham bahwa manusia memerlukan uang untuk bertahan hidup. Tapi hidupku bukan untuk mengejar uang semata. Aku mencari uang agar bisa hidup, dan aku hidup demi menunaikan amanah dari bapakku—untuk membangkitkan bangsa ini. Untuk menjadi pribadi yang berarti, yang berbuat dengan tulus demi negeri dan rakyatnya.”
Suara Freedom bergema lantang, menyuarakan isi hatinya dengan tegas. Namun, sang idealis telah menghilang tanpa jejak. Yang tertinggal hanyalah Freedom, yang kini merasa hidupnya diliputi kutukan. Ia menjerit, tak sanggup lagi membendung gejolak batinnya. Orang-orang mulai berbisik bahwa pemuda itu tampak semakin gelisah.
“Kau terlihat putus asa, Freedom,” ujar seorang teman. “Di masa-masa penuh tekanan seperti sekarang, siapa yang tidak merasa demikian? Tapi jika kau terus mengikuti emosimu, kau bisa kehilangan kendali. Dan menjadi gila bukanlah sesuatu yang membuatmu berbeda—kegilaan sudah merajalela di mana-mana. Lebih baik tetap tenang, jaga pikiranmu, dan hadapi semuanya dengan kepala dingin.”
“Hadapi? Apa yang harus dihadapi? Aku bahkan tak tahu siapa musuhku. Andai saja ada yang bisa kutunjuk, sudah pasti akan kuhajar saat ini juga.”
Jalan Perlawanan
“Karena itu, jangan tempuh jalan perlawanan dalam perjuanganmu. Hadapilah semuanya dengan kasih. Belajarlah menerima. Relakan dan ikhlaskan, Freedom.”
“Tidak. Aku menolak menjadi sosok Jawa yang pasrah. Cara berpikir seperti itu sudah usang. Aku bagian dari generasi modern, bukan rakyat terjajah yang rela tunduk pada ketidakadilan; aku ingin melawan dan bangkit.”
“Tidak mungkin. Orang yang kehilangan akal tak bisa melakukan pemberontakan. Paling-paling kau akan berakhir di rumah sakit jiwa. Jika ingin melawan, jangan gunakan kekuatan fisik—gunakan kata-kata dan strategi diplomatik. Belajarlah dari para politisi. Untuk bisa berdiplomasi, kau harus berpikir jernih. Dan demi kejernihan itu, kau perlu kestabilan batin. Agar emosimu tetap terkendali, kau membutuhkan seorang pendamping. Dengan kata lain, Freedom, satu-satunya jalan yang tersisa bagimu sekarang adalah menikah. Menikahlah, sebelum semuanya terlambat.”
Freedom terkejut. “Menikah?”
“Ya, menikahlah. Tidakkah kau sadar bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian? Setiap orang membutuhkan pasangan hidup—untuk berbagi keintiman dan membangun kesepahaman. Jika kau terus sendiri, kau akan merasa tidak utuh, seolah hanya separuh manusia. Emosimu akan tak terkendali, daya tahanmu rapuh seperti ayam yang siap disembelih. Semangatmu akan hancur sebelum kau menyadarinya. Maka, segeralah temukan pendamping hidup. Bangunlah kemitraan untuk melawan kebusukan dunia ini. Jika tidak, kau akan terlambat. Berapa usiamu sekarang? Jangan habiskan seluruh waktumu untuk berdebat dan bertarung. Tanpa kau sadari, usia akan menua, tubuh akan melemah, dan semua perjuanganmu akan berakhir sia-sia. Apakah kau ingin hidup melewati masa jayamu tanpa makna?”
Freedom terdiam sejenak, lalu melangkah menuju cermin. Di sana, ia menatap bayangannya dengan saksama—sehelai rambut putih tampak menjuntai dari lubang hidungnya, dan garis-garis halus mulai menghiasi wajahnya. Ia menyadari bahwa masa mudanya perlahan memudar. Tak ada jalan lain selain menerima kenyataan: dirinya hampir melewati masa keemasannya.
Melamar Kekasih
Tanpa banyak pertimbangan, Freedom mengajukan lamaran kepada kekasihnya, yang menyambutnya dengan penuh sukacita. Setelah melewati tahun-tahun panjang yang nyaris mengikis kesabarannya, akhirnya ia menemukan keberanian untuk menetapkan pilihan. Ia bersiap mengorbankan kebebasannya demi melangkah ke dalam ikatan pernikahan—sebuah komitmen yang kerap dianggap sebagai kurungan batin.
Namun, nasib buruk menghampirinya. Walaupun sang kekasih sepenuhnya mendukung, sikap calon mertua Freedom tak konsisten. Mereka sempat menyambutnya dengan hangat, namun tiba-tiba berubah pikiran dan menolaknya. Bagi Freedom, alasan penolakan itu terasa tak masuk akal sama sekali.
“Jadi, kau berniat menikahi anak perempuanku satu-satunya, Freedom?” tanya calon ayah mertuanya. “Apa alasannya? Hanya karena kalian saling jatuh cinta?”
“Ya, Pak, kami saling mencintai.”
Pria itu tersenyum pahit. “Apa kau belum sadar bahwa cinta saja tak cukup untuk mempertahankan hubungan? Dalam hitungan bulan, kau akan larut dalam euforia lalu merasa jenuh. Setelah itu, kenyataan hidup akan mulai mengguncangmu. Kau butuh kestabilan—uang dan posisi. Itulah fondasi dari keberhasilan dan kebahagiaan. Tidak, kau tak bisa menikahi putriku jika kau belum mampu memberikan janji yang jelas dan tegas. Kau ingin membawa putri tunggalku yang cantik ini ke dunia yang berbeda. Tunjukkan dulu bahwa kau layak menerima tanggung jawab itu, baru kita bicara. Jangan minta aku bersabar atau menunggu. Jika kau tak bisa meyakinkan bahwa kau mampu membahagiakannya secara lahir dan batin, lebih baik kau mundur. Aku ingin kau mencintai putriku karena dirinya, bukan karena harta atau status yang melekat padanya. Jika niatmu berbeda, maafkan aku, anak muda—tinggalkan rumah ini sekarang juga. Dan jangan pernah kembali, atau aku tak segan menghajarmu.”
Freedom jatuh tak sadarkan diri. Pernyataan itu begitu menghentak, lebih keras dari apa pun yang pernah ia dengar sebelumnya.
Orang Gagal
“Aku benar-benar celaka. Semua orang akan melihatku sebagai seorang gagal,” keluh Freedom dengan nada putus asa. Kepalanya dipenuhi kekacauan, pikirannya tak lagi jernih. Ia kehilangan arah, tak tahu harus berkata apa, apalagi bertindak.
Akhirnya, dalam kondisi tertekan dan panik, Freedom memutuskan untuk mendatangi seorang dukun. Ya, dukun—kenapa tidak? Meski zaman telah berganti dan kita hidup di era milenium, praktik berkonsultasi dengan dukun tradisional masih marak. Para pejabat pun melakukannya. Begitu pula atlet, politisi, bahkan sejumlah presiden diketahui memiliki penasihat spiritual. Tak hanya itu, beberapa seniman pun telah beralih menjadi dukun.
Dukun itu meraih tangan Freedom dan mulai menelusuri garis-garis nasib yang terukir di sana.
“Sesungguhnya, menurut garis takdirmu, kau adalah seorang jenius, Freedom—seperti Presiden Habibie,” ujar sang dukun. “Kau memiliki potensi luar biasa. Bahkan, kau berpeluang menjadi pemimpin negeri ini suatu hari nanti. Darah para ksatria kerajaan mengalir dalam tubuhmu. Namun sayangnya, kenyataan berkata lain. Kau belum menunjukkan perubahan karena persembahanmu belum memenuhi syarat.”
“Persembahan? Persembahan apa?”
“Kau tahu, segala hal menuntut pengorbanan. Kecerdasan saja tidak cukup, dan kemampuan berpikir bukan jaminan keberhasilan. Itu bukan senjata pamungkas untuk meraih kesuksesan. Kau harus melibatkan hati dan jiwa dalam perjuanganmu. Yang kau perlukan adalah ketulusan. Ketulusan berarti kejujuran, dan kejujuran menuntut kerelaan. Kerelaan untuk memberi, untuk berkorban. Kau harus siap melepaskan apa yang perlu dikorbankan. Tanpa keberanian untuk menyerahkan dirimu secara ikhlas, kau tak akan pernah benar-benar berhasil, Freedom.”
Freedom tercengang.
“Pengorbanan? Untuk apa? Ini era kebebasan. Kita tak lagi memerlukan pahlawan yang rela mati seperti di masa revolusi—seperti bapakku dulu. Yang kita butuhkan sekarang adalah tenaga ahli di bidang modern. Dan aku adalah bagian dari itu. Aku tidak ingin menyerahkan hidupku begitu saja. Aku ingin berkontribusi bagi rakyat, bangsa dan masyarakat dengan caraku sendiri. Jangan paksa aku mengikuti jalan yang bukan milikku.”
Pengorbanan Batin
“Tenanglah, Freedom. Yang kumaksud bukan pengorbanan fisik, melainkan pengorbanan batin. Pengorbanan tidak selalu berarti kehilangan sesuatu secara nyata. Yang perlu kau korbankan adalah dirimu sendiri—dengan melepaskan nama yang kau sandang. Gantilah sekarang. Ambil identitas baru. Lepaskan nama Freedom. Nama itu terlalu besar, terlalu berat untuk kau pikul sendirian. Mustahil kau bisa melangkah jauh jika terus terbebani olehnya. Kau akan kelelahan hanya untuk membawanya, tanpa sempat meraih apa pun. Maka, tinggalkan saja. Tukar dengan nama yang lebih ringan. Lagi pula, apa arti sebuah nama? Bukankah begitu?”
Freedom tidak setuju.
“Mengganti namaku? Tidak mungkin,” ujarnya tegas. “Nama ini adalah pemberian dari bapakku—seorang pejuang sejati, penuh integritas. Ia mengabdi pada negeri ini tanpa harta, tanpa perusahaan, tanpa kekuasaan. Yang ia miliki hanyalah semangat dan gagasan, dan itulah warisan yang ia titipkan padaku. Aku tak bisa begitu saja mengubah warisan yang telah dipercayakan oleh orangtuaku. Nama ini adalah amanah. Dan aku tidak akan mengkhianatinya.”
Sang dukun menggelengkan kepalanya.
“Benar-benar sulit berdiskusi dengan orang cerdas tapi keras kepala seperti kamu, Freedom,” ujarnya sambil menyuruh Freedom pergi, karena para pasien lainnya sudah mulai berkumpul di sekelilingnya.
Freedom kembali ke rumah dengan hati yang gusar dan tubuh yang terasa lelah. Selama beberapa hari, pikirannya dipenuhi pergulatan batin tentang nasihat sang dukun. Di hari ke-70, ia akhirnya menyerah pada keraguan dan kebimbangannya. Dengan mengenakan kemeja batik, ia melangkah menuju kediaman orangtuanya.
“Pak,” ucapnya sambil mencium tangan sang ayah yang kini telah menua. “Aku datang untuk menyampaikan apa yang terjadi di medan perjuangan. Memang, aku belum berhasil. Tapi itu bukan tanda bahwa aku menyerah. Aku masih terus berusaha. Kedatanganku bukan untuk meminta pertolongan, melainkan untuk memohon restu. Karena kini aku telah melepaskan diri dari nama Freedom.”
Orangtua itu langsung mengernyit.
“Apa?”
“Aku berniat mengganti nama yang telah Bapak berikan kepadaku.”
“Ganti namamu? Apa maksudmu, Freedom?”
Nama Berat
“Dukun itu bilang bahwa takdirku terhalang karena nama yang kupikul terlalu berat. Katanya, jika aku menggantinya, aku akan segera menjadi pribadi yang baru—seseorang yang berhasil. Jadi, apa ruginya mengganti nama? Lagipula, aku tak ingin memilih nama baru seorang diri. Aku mempercayakan padamu untuk menunjukkan arah dan memberi petunjuk.”
Mata lelaki tua itu kini terbuka.
“Kau ingin berhenti menjadi Freedom, Freedom?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Ya. Kenapa?” teriak ayahnya.
Freedom tercengang. Saat masih kecil, ia tak ambil pusing jika dimarahi. Tapi kini, setelah tumbuh dewasa, merasa lebih cerdas dari ayahnya, dan telah melewati pahitnya hidup, ia tak lagi bisa menerima bentakan begitu saja.
“Karena aku tidak ingin terus-terusan kena kutukan,” teriak Freedom.
Namun ayahnya memarahinya semakin kasar.
“Bodoh. Tidak.”
“Kenapa tidak?”
“Sama sekali tidak.”
“Ya.”
“Tidak.”
“Yaa.”
“Tidakk.”
“Sialan!” teriak Freedom sambil melepaskan diri. “Kau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Akulah yang menjalaninya. Aku tahu betul apa yang kulakukan. Semua urusan itu aku yang tangani. Pendidikanku hancur hanya karena aku menyandang nama Freedom. Kesempatan-kesempatan kerja lepas begitu saja karena nama itu. Lebih menyakitkan lagi, kekasihku digoda orang lain hanya karena aku Freedom. Bahkan dukun itu menyebutku bodoh karena nama itu. Aku tak mau lagi hidup sebagai Freedom. Cukup sudah. Aku lelah terus diatur dan ingin bebas dari bayang-bayang nama itu; aku ingin berhasil, bahagia, dan melihat hasil nyata perjuanganku. Aku tak mau jadi Freedom lagi.”
“Dasar bodoh,” teriak ayahnya sambil menampar putranya.
Freedom terpaku, mulutnya terbuka tak percaya. Tatapannya tajam, matanya membelalak menatap sang ayah. Sepanjang hidupnya, ia belum pernah diperlakukan seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang yang digadang-gadang sebagai harapan bangsa bisa disebut bodoh dan bahkan ditampar?
Namun, sang ayah tidak mundur sedikit pun. Dengan amarah yang membara, ia melangkah mendekat dan menjerat leher Freedom dengan tangannya.
Berarti Kesenangan
“Freedom,” bisik lelaki tua itu dengan napas tersengal. “Apakah kau mengira Freedom berarti kesenangan? Bahwa menjadi Freedom membuatmu kebal dari malapetaka? Bahwa dengan nama itu kau akan langsung kaya dan bahagia? Kau keliru. Freedom adalah beban—beban sebesar langit yang kau pikul sendiri. Freedom adalah derita, lautan kesengsaraan yang tak berujung. Menjadi Freedom berarti berjalan sendirian, tanpa tuan, tanpa atasan yang akan menolongmu saat musibah datang. Kau harus menanggung luka, kesedihan dan nasib buruk seorang diri. Menjadi Freedom itu menyakitkan, sangat menyakitkan. Tapi kau patut bangga, karena kau telah dipilih untuk menanggungnya. Itu tanda bahwa kau dianggap mampu. Bahwa orang-orang masih menaruh harapan padamu. Jika kau masih dipercaya, berarti kau masih dibutuhkan. Jika kau masih diberi cobaan, berarti kau masih hidup. Kau belum jadi mayat, belum jadi mesin, belum mati seperti yang lain—itu tandanya kau masih bebas. Kau benar-benar bodoh jika ingin melepaskan Freedom. Paham? Paham?”
Freedom bingung.
“Mengerti?”
“Tidak.”
“Ya Tuhan, aku pun tak memahami semuanya!” seru sang ayah dengan suara yang lebih lantang. Tiba-tiba ia menggenggam dadanya, seolah ada sesuatu yang menekan keras dari dalam. Dalam sekejap, tubuhnya ambruk dan ia meninggal di tempat.
Freedom tak mampu berbuat apa-apa. Saat kesadarannya kembali, ia memeluk tubuh sang ayah. Namun tiba-tiba, tangan lelaki tua itu bergerak dan mencengkeram leher Freedom dengan kuat.
Dengan suara tersendat oleh tangis, ia membisikkan kata-kata kepada anaknya. “Anakku, tetaplah menjadi Freedom. Jangan menyerah. Janjikan padaku bahwa setelah menjadi Freedom, kau akan terus mempertahankan nama itu. Jangan pernah berhenti menjadi Freedom. Jangan hilang. Bertahanlah, anakku. Bertahan sebagai Freedom.”
Tangan pria tua itu bergetar hebat. Genggamannya di leher Freedom makin lemah, lalu perlahan-lahan terlepas. Tubuhnya ambruk ke tanah, tak bergerak lagi—meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.