Kebakaran hutan dengan skala luar biasa telah melanda hutan lebat di Sumatra dan Kalimantan sejak bulan Agustus 2015. Pemerintah kesulitan mengendalikan situasi, dan dampak yang timbul sangat besar. Basis Data Emisi Kebakaran Global mencatat pelepasan CO₂, metana, dan N₂O melebihi tiga kali lipat jumlah tahunan. Jumlah itu bahkan melampaui total emisi tahunan Jepang dan Jerman. Fenomena El Nino memperburuk kondisi dengan menghambat turunnya hujan di kedua pulau tersebut.
Greenpeace Asia Tenggara menuduh para petani kelapa sawit dan pulp sengaja memicu kebakaran hutan melalui praktik tebang bakar. Pengeringan lahan gambut yang luas sebelumnya memperparah kondisi, mengubahnya menjadi petak-petak berisi bahan organik kering yang mudah terbakar. Api bahkan merambat hingga kedalaman tiga meter di bawah permukaan tanah, menghasilkan asap pekat dalam jumlah besar yang menutupi sinar matahari dan menyebarkan kabut hingga Malaysia dan Singapura, ratusan kilometer jauhnya. Kebakaran ini juga menyebabkan lebih dari 500.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut.
Greenpeace menugaskan fotografer Ardiles Rante untuk merekam dampak kebakaran di Desa Sei Ahass, Kalimantan. Greenpeace mendesak pihak berwenang menghentikan penebangan hutan yang masih berlangsung, meminta pihak terkait memulihkan lahan gambut yang mereka keringkan dengan penggenangan, dan menginstruksikan pemetaan aktivitas penebangan yang dapat publik akses, terutama di wilayah yang paling sering terbakar.
Estrada, petugas media Greenpeace AS, menegaskan bahwa dampak kesehatan akibat kebakaran sangat berat bagi anak-anak. Ia menjelaskan bahwa butuh bertahun-tahun untuk mengetahui bagaimana paparan itu memengaruhi proses tumbuh kembang serta kaitannya dengan penyakit jantung dan gangguan pernapasan kompleks. Ia mengatakan tim peneliti saat ini masih kesulitan melakukan penilaian menyeluruh terhadap dampak tersebut.
Seekor monyet ekor panjang tampak bertengger di pepohonan sepanjang Sungai Kapuas di Sei Ahass. Estrada menjelaskan bahwa kabut asap membuat hewan tersebut kesulitan bernapas, sehingga aktivitasnya pada siang hari menjadi berkurang.
Api Merambat
Estrada menjelaskan bahwa api telah merambat hingga mendekati permukiman dan desa. Karena lahan gambut berada di bawah rumah-rumah, api pun dapat menjalar ke bagian bawah tanah. Dengan demikian, kebakaran tidak hanya tampak di permukaan, tetapi juga berlangsung di bawah tanah, menyerupai tungku yang terus menyala.
Walaupun kebakaran tahun ini terjadi dengan skala yang belum pernah ada sebelumnya, kabut asap sebenarnya sudah menjadi fenomena tahunan yang sulit terhindari. Rahmi Carolina, seorang mahasiswa berusia 22 tahun, mengatakan bahwa selama 18 tahun terakhir, setiap musim kemarau sejak mulainya perkebunan kelapa sawit, kabut asap selalu muncul dan menghantui kehidupan masyarakat.
Sungai Kapuas pada dasarnya menjadi jalur vital bagi masyarakat Sei Ahass. Perahu digunakan sebagai sarana transportasi utama sekaligus berperan penting dalam aktivitas menangkap ikan, yang merupakan kegiatan sehari-hari penduduk.
Sejumlah kebakaran diduga sengaja dilakukan untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit. Namun, menurut Greenpeace, upaya pemerintah dalam menyelidiki penyebab kebakaran tersebut terhenti dan tidak dilanjutkan.
Seorang penduduk Sei Ahass berusaha memadamkan api di sekitar komunitasnya dengan menyemprotkan air. Estrada menjelaskan bahwa tujuan tindakan tersebut adalah untuk membasahi kembali lahan gambut agar tidak mudah terbakar.