Selama dua bulan tahun lalu, kepulan asap membentang di sepanjang khatulistiwa dan menutupi hampir separuh bumi. Angin membawanya dari Afrika Timur hingga garis tanggal internasional di Samudra Pasifik barat. Asap tebal ini berasal dari Indonesia, yang saat itu tengah menghadapi musim kebakaran paling parah dalam lebih dari 15 tahun.
Studi terbaru yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menunjukkan bahwa satelit NASA memantau gumpalan asap sebagai simbol fenomena berdampak luas pada iklim dan kesehatan.
Pembakaran lahan pada musim kemarau merupakan praktik yang lazim. Cara ini masih dipandang sebagai metode paling mudah dan efisien untuk membersihkan sisa-sisa pertanian serta limbah penebangan. Pada tahun-tahun dengan kekeringan ekstrem—seperti 2015 akibat El Niño—api dari pembakaran merembet dan mengancam cadangan gambut luas di bawah dataran rendah.
“Dalam kondisi cuaca yang cukup kering, kebakaran permukaan dapat merembet ke lapisan bawah tanah,” jelas Robert Field, ilmuwan iklim sekaligus penulis utama penelitian itu. “Setelah terjadi, api memperoleh suplai bahan bakar yang berkelanjutan hingga musim hujan kembali.”
Endapan gambut menyimpan cadangan karbon yang sangat besar; ketika terbakar, emisinya dapat menyamai emisi karbon tahunan sejumlah negara.
Para peneliti memperkirakan bahwa kebakaran pada tahun 2015 melepaskan sekitar 1,5 miliar ton metrik CO₂ ke atmosfer. Angka ini melampaui total emisi dari bahan bakar fosil Jepang pada 2013, namun masih berada di bawah India.
Tidak hanya meningkatkan konsentrasi karbon di atmosfer, kebakaran ini juga berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat, termasuk lintas batas negara.
Jutaan orang terpapar udara dengan kualitas berbahaya, sementara hembusan angin mengangkut asap ini ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Hari-hari Udara Kotor
Miriam Marlier—seorang ilmuwan tata guna lahan yang tidak berafiliasi dengan penelitian tersebut—menjelaskan bahwa kebakaran lahan gambut melepaskan partikel halus ke udara. Paparan partikel ini, terutama ketika terhirup hingga ke paru-paru, berpotensi menimbulkan dampak kesehatan yang berat.
Melihat konsekuensi lingkungan dan kesehatan yang signifikan dari kebakaran tersebut, tampak jelas adanya alasan kuat untuk membatasi praktik pembakaran. Meski demikian, Marlier menilai arah penanganannya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Tata guna lahan di pedesaan bersifat kompleks dan kurang terorganisir, membentuk mozaik antara konsesi industri serta kegiatan pertanian dan penebangan skala kecil. Apa pun luas kepemilikannya, pembakaran tetap dianggap cara paling murah dan paling efektif untuk membersihkan lahan. Bahkan dengan informasi yang memadai sekalipun, ia meyakini praktik ini akan terus berlangsung sampai tersedia alternatif yang layak secara ekonomi.
Mencegah Kebakaran di Masa Depan
Satelit menjadi sumber data yang krusial untuk menelaah persoalan kebakaran. Berbeda dengan Amerika Utara yang memadukan laporan lapangan dan data satelit dalam pengumpulan informasi kebakaran, Indonesia sepenuhnya mengandalkan pemantauan satelit.
Penelitian ini memanfaatkan data satelit dari Sistem Pengamatan Bumi NASA yang terekam sejak awal dekade 2000. Data tersebut kemudian dipadukan dengan rekaman visibilitas bandara jangka panjang yang sensitif terhadap kabut asap kebakaran.
Data ini tidak hanya memperlihatkan gumpalan asap yang membentang luas, tetapi juga menyoroti sejumlah tren penting untuk upaya pencegahan kebakaran di masa mendatang.
Dengan menelaah rentang 15 tahun yang mencakup dua musim kebakaran besar—2006 dan 2015—para peneliti menemukan bahwa ketika rata-rata curah hujan musim kemarau melebihi 6 mm per hari, aktivitas kebakaran maupun tingkat polusi berada pada level sangat rendah. Namun, seiring curah hujan menurun, aktivitas kebakaran meningkat hingga mencapai ambang 4 mm per hari. Setelah melewati ambang tersebut, baik intensitas kebakaran maupun polusi meningkat dengan cepat.
Dengan memahami bahwa El Nino dapat memicu kondisi yang lebih kering, Field berharap tren yang mereka temukan dapat membantu mencegah kebakaran besar di masa depan, ketika lahan pertanian yang terbakar berubah menjadi kebakaran bawah tanah.
“Sederhananya, kebakaran-kebakaran ini disebabkan manusia, dan semuanya memang direncanakan,” tuturnya.
“Permasalahan ini memiliki jalan keluar.”