Industri farmasi termasuk salah satu yang terbesar di ASEAN, menyumbang sekitar 27% pangsa pasar kawasan. Secara global, industri ini menempati peringkat 23, dan para analis memperkirakan posisinya akan naik ke peringkat 20 pada 2017. Namun Indonesia masih mengimpor 90% bahan baku, terutama dari China dan India.
Menurut Dra. Dettie Yuliati, struktur industri farmasi belum ideal dan masih terpusat pada tahap formulasi. Karenanya, ia menekankan perlunya swasembada bahan baku obat dan pengobatan tradisional melalui pemanfaatan keanekaragaman hayati dan aliansi strategis.
Panitia menyelenggarakan seminar ini sebagai bagian dari perayaan HUT Unpad ke-59 dan menghadirkan pembicara dari berbagai institusi. Pada sesi pertama, selain Detti Yuliati dari Kementerian Kesehatan, hadir Dra. Rumondang Simanjuntak, Apt. (BPOM) dan Dr. Keri Lestari, M.Sc., Apt. (Unpad). Sesi kedua bertema Kolaborasi Farmasi Garam & Gula menampilkan narasumber dari Kimia Farma, Rajawali Nusantara dan Unpad. Sesi ketiga, berjudul Model Kolaborasi dan Riset Produk Farmasi Hilir, menghadirkan perwakilan BPJS Kesehatan, Pusat Keunggulan BUMN Unpad, Asosiasi Produsen Farmasi serta wakil media.
Menurut Dettie, industri bahan baku farmasi menghadapi tantangan karena pasar domestik relatif kecil dan margin keuntungan tipis dibandingkan besarnya investasi awal; ketersediaan sumber daya lokal dan teknologi produksi bahan baku obat juga menjadi kendala.
Tak Mampu Bersaing
Dettie, alumni Farmasi Unpad, menyatakan kondisi ini membuat industri bahan baku obat tidak mampu bersaing secara harga dengan produk lokal.
Sejalan dengan Dettie, Rumondang Simanjuntak (BPOM) menyatakan bahwa ketergantungan industri farmasi pada bahan baku impor menjadikan pengendalian bahan baku sebagai kunci untuk mencapai kemandirian.
Rumondang mengatakan bahan baku industri bisa meningkatkan daya saing produsen farmasi lokal, mempercepat produksi obat jadi, dan menjamin ketersediaan obat yang efektif, aman, berkualitas serta terjangkau bagi masyarakat.
Dr. Keri menyatakan bahwa dari sekitar 40.000 spesies tumbuhan di dunia, sekitar 30.000 terdapat di Indonesia; 9.600 di antaranya berpotensi sebagai obat, dan 400 sudah dimanfaatkan sebagai obat tradisional.
Dr. Keri, mantan Dekan Fakultas Farmasi Unpad, menyatakan mengejutkan bahwa Indonesia baru memiliki 43 herbal standar dan 7 fitofarmaka.