Indonesia Etc: Ketimpangan dan Kekacauan di Negeri yang Rumit

Elizabeth Pisani jurnalis epidemiolog

Elizabeth Pisani tinggal dan bekerja 25 tahun di Indonesia sebagai jurnalis, epidemiolog, dan advokat kesehatan masyarakat. Pada 2011, ia mengambil cuti panjang dan melakukan perjalanan sejauh 42.000 km melintasi nusantara. Elizabeth Pisani menuangkan pengalamannya dalam buku Indonesia, Etc. (W.W. Norton, 2014) yang memadukan pandangan mendalam. Buku tersebut mengulas sejarah, budaya, agama, politik, serta kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dengan detail. Karya ini mendapat pujian sebagai pencapaian luar biasa dan salah satu buku perjalanan terbaik versi Wall Street Journal. New Yorker menilai karya itu penuh semangat dan kebijaksanaan.

Dalam kutipan prolog Indonesia, Etc., Elizabeth Pisani menguraikan dorongan awal di balik perjalanan eksploratifnya. Ia menjelajahi kepulauan selama setahun penuh dan menyadari bangsa yang ia temui berbeda dari gambaran sebelumnya.

Pada tahun 1945, para pendiri bangsa menyatakan kemerdekaan dari Belanda. Mereka menyampaikan deklarasi: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Mereka menyelenggarakan pemindahan kekuasaan dan hal-hal lain dengan saksama serta dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Sejak saat itu, Indonesia terus menjalankan berbagai hal yang terangkum dalam istilah “dan lain-lain” (etc.).

Banyak negara berupaya menemukan identitas yang melampaui batas-batas geografis peninggalan kolonial. Namun, hanya segelintir yang harus menyatukan keragaman sedemikian besar. Negara ini membentang melintasi garis khatulistiwa dengan jarak yang setara dari London ke Teheran, atau Anchorage ke Washington DC. Masyarakat Melayu muslim dengan nuansa Arab menghuni Aceh di barat laut dan menyebut wilayahnya Serambi Mekkah. Di ujung tenggara, Provinsi Papua menempati sebagian besar Pulau Nugini. Masyarakat Aceh dan Papua memiliki tradisi kuliner, spiritualitas, musik dan asal-usul ras yang berbeda. Di antara keduanya, berbagai kelompok budaya menjalani modernitas dengan cara yang unik dan beragam.

Negara Terpadat Keempat

Indonesia menampung satu dari 30 penduduk dunia dengan populasi 240 juta, menjadikannya negara terpadat keempat. Jakarta mencatat jumlah tweet terbanyak di dunia, sementara 64 juta penduduk aktif menggunakan Facebook, melebihi populasi Inggris. Tantangan sosial besar tetap ada: 80 juta orang belum memiliki listrik, setara populasi Jerman. Sebanyak 110 juta hidup dengan penghasilan di bawah Rp30.000 per hari, setara jumlah penduduk Meksiko. Ironisnya, ratusan ribu di antaranya tetap aktif menggunakan Facebook meskipun hidup dalam keterbatasan listrik dan ekonomi.

Deretan statistik seperti “terbesar di dunia”, “puluhan juta” dan “pertumbuhan tercepat” sangatlah panjang. Pengusaha John Riady baru-baru ini menyampaikan bahwa dunia masih menganggap Indonesia sebagai negara yang luput dari perhatian.

Reuters menugaskan saya ke Indonesia pada 1988, dan saya mengakui pengetahuan saya tentang negara ini masih terbatas. Pada 1983, ia menjelajahi Jawa dan Bali dengan ransel di usia 19 tahun serta singgah di Sumatra Utara melihat orangutan. Pengalaman itu memberinya kesan awal bahwa Indonesia ramah namun penuh paradoks: kehidupan semrawut berdampingan dengan budaya elegan dan mendalam. Penari mengenakan batik indah, menggerakkan tangan selaras gamelan di bawah bayang-bayang candi megah. Citra yang tertanam kala itu sangatlah Jawa, sesuai anggapan umum asing bahwa Indonesia identik dengan pulau Jawa. Pandangan ini beralasan karena Jawa hanya mencakup 7% daratan tetapi masyarakat menghuni 60% populasi nasional, sekitar 140 juta jiwa di wilayah seluas Yunani. Jakarta sebagai ibu kota terletak di Jawa, dan kerajaan-kerajaan Jawa telah menyebarkan pengaruh ke berbagai pulau sejak abad ke-12.

Perjalanan Eksploratif

Di penghujung tahun 2011, saya memutuskan untuk memulai sebuah perjalanan eksploratif yang akan menjadi landasan bagi penulisan buku—sebuah alasan untuk tinggal lebih lama, mengenal lebih dalam dan memahami dinamika perubahan yang kadang menimbulkan frustrasi selama masa pengabdiannya. Ia pun menangguhkan aktivitas konsultasi kesehatan publik di London dan berangkat ke Indonesia, memulai dari wilayah tenggara dan merencanakan perjalanan menyusuri pulau-pulau timur dengan jalur berlawanan arah jarum jam. Dalam skenario ideal, ia melanjutkan perjalanan ke Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra, lalu menutupnya dengan melintasi tenggara Sumatra. Ia menjelajahi Jawa terakhir, pulau yang tingkat huniannya hampir dua pertiga penduduk dan merepresentasikan dominasi dalam persepsi global.

Saya merencanakan untuk menemui kembali sejumlah orang yang pernah saya jumpai dalam perjalanan dan kehidupan sebelumnya—termasuk seorang pemuda yang pernah mengundang saya minum teh bersama neneknya yang telah tiada. Saya juga bertekad menjelajahi wilayah-wilayah yang bahkan belum pernah mendapat kunjungan oleh orang-orang lokal yang saya kenal. Rencana saya berhenti di situ, karena di Indonesia menyusun rencana rinci sering tak berguna. Kapal kadang datang tiga hari lebih lambat atau bahkan tak muncul sama sekali; penerbangan bisa berubah arah tanpa pemberitahuan; regulasi visa bisa berganti mendadak dan memaksa saya melakukan perjalanan darurat ke perbatasan; dan pertemuan tak terduga bisa mengubah arah perjalanan sepenuhnya.

Ada alasan lain mengapa menyusun rencana terasa tidak relevan. Saya menyadari bahwa tak mungkin menyajikan gambaran utuh tentang negara yang begitu kaya warna—di mana setiap fragmen budaya membentuk pola baru seiring pergeseran sejarah dan perubahan kondisi. Meski ingin menangkap esensi ke-Indonesia-an dan merangkai benang merah yang menyatukan pulau-pulau serta keragaman budayanya dalam satu kesatuan, saya juga tahu bahwa wajah Indonesia akan terus berubah, bahkan selama proses eksplorasi berlangsung. Saya berusaha menggambarkan sebuah negeri dalam pergerakan, di mana setiap momen hanya memperlihatkan satu potongan kecil dari keseluruhan kisahnya.

Prinsip Dasar

Kembali pada prinsip dasar dalam profesi sebagai epidemiolog, pemilihan acak. Prinsip ini menyatakan bahwa jika tidak memungkinkan untuk mempelajari seluruh populasi, pendekatan paling efektif adalah dengan mengambil sampel secara acak. Alih-alih menyusun rencana perjalanan secara rinci atau menentukan narasumber sebelumnya, saya memilih untuk langsung terjun dan melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang masyarakat di berbagai daerah. Dengan cara ini, berharap dapat merangkai potongan-potongan pengalaman menjadi gambaran menyeluruh tentang bangsa ini—untuk memahami lebih dalam jalinan yang menyatukan keberagaman ekstrem tersebut. Saya pun berharap bahwa benang-benang tersebut akan menghubungkan potret masa kini dengan narasi sejarah yang lebih luas, memperlihatkan nilai-nilai mendalam dan abadi.

Saya menetapkan satu aturan sederhana, “Selalu katakan ya.” Di negeri yang dikenal akan keramahan penduduknya, prinsip ini membuka begitu banyak pintu. Minum teh bersama Sultan? Menggembirakan. Ikut prosesi pernikahan? Tentu. Menjelajah koloni penderita kusta? Kenapa tidak. Tidur di bawah pohon bersama keluarga pengembara, atau menyantap hidangan berupa daging anjing? Semuanya menjadi bagian dari pengalaman. Pendekatan ini membawa saya ke pulau-pulau yang bahkan tak pernah saya dengar sebelumnya, dan membuat saya diterima di rumah para petani, pendeta, polisi, nelayan, guru, sopir bus, tentara serta perawat.

Perjalanan Sederhana

Sebagian besar perjalanan saya tempuh dengan perahu dan bus tua yang kumal, dipenuhi musik pop dan kantong obat bergoyang dari langit-langit. Meski kadang beruntung bisa menyewa pesawat atau duduk nyaman di mobil mewah, perjalanan itu tetap didominasi oleh kesederhanaan. Saya bisa menghitung dengan satu tangan berapa kali diperlakukan tanpa kebaikan, dan juga hari-hari ketika tak berbincang soal korupsi, ketidakcakapan, ketidakadilan, atau liku-liku nasib yang tak menentu.

Selama lebih dari setahun menjelajahi kepulauan Indonesia, sesekali bersinggungan dengan area yang lazim dikunjungi wisatawan—seperti bar pantai di Bali yang dipenuhi pria kulit putih berpenampilan rapi namun berperilaku kasar, dan pemuda Bali yang ramah, atau restoran di Jakarta tempat para bankir dan pialang saham menikmati minuman cepat sebelum aktivitas Wall Street dimulai. Namun, dari total perjalanan darat dan laut sejauh 21.000 km serta tambahan 20.000 km melalui udara, pertemuan semacam ini sangat jarang terjadi. Saya berhasil mengunjungi 26 dari 33 provinsi yang ada saat itu. Meski buku ini diawali dengan kisah masa lalu dan pertemuan awal dengan sosok Bad Boyfriend, sebagian besar isinya menggambarkan Indonesia yang dijumpai melalui eksplorasi terbaru—negara yang lebih membingungkan dalam keberagamannya, namun justru tampak lebih menyatu dalam cara yang tak terduga, jauh berbeda dari bayangan sebelumnya.

Visited 16 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *