Di Tengah Proteksionisme Global, Indonesia Hadapi Risiko Baru

Di tengah kenaikan suku bunga dan penguatan dolar, Indonesia menjadi tujuan menarik bagi investor yang menghindari proteksionisme Trump. Sebagai ekonomi terbesar Asia Tenggara, Indonesia bertumpu pada konsumsi domestik dan lebih tahan terhadap tekanan perdagangan global. Di era Presiden Joko Widodo, Indonesia menjadi pengecualian positif ketika Singapura, Malaysia, dan Thailand menghadapi pertumbuhan lemah. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% tahun lalu, naik dari 4,8% pada 2015, dan akan mencapai 5,5% tahun ini. Menurut Sarina Lesmina dari CLSA, efek kenaikan komoditas, belanja infrastruktur 30%, dan pemotongan bunga 150 basis poin masih terasa. Manu Bhaskaran dari Centennial Asia menilai bahwa faktor yang paling berubah di Indonesia adalah kualitas kepemimpinannya. Ia menyebut Jokowi presiden terkuat sejak Soeharto karena gaya kebijakannya praktis dan efektif. Menurutnya, gaya seperti itu sempat hilang sejak 1990-an.

Tahun lalu, Jokowi memperkuat kekuasaannya dengan menaikkan dukungan parlemen dari 37% menjadi 69%. Manu menilai perubahan yang Jokowi lakukan tidak selalu besar, tetapi tetap memberi dampak nyata. Setelah Jokowi menegur pejabat pelabuhan, waktu bongkar muat kontainer turun dari 6,9 hari menjadi 3,5 hari. Manu menilai hal ini menunjukkan kebijakan pemerintah mulai berjalan lebih terarah. Rupiah menjadi salah satu mata uang kawasan yang cukup kuat. Namun, rupiah tetap rentan terhadap kenaikan suku bunga AS dan penguatan dolar. Indonesia juga meraih sekitar $7 miliar dari denda program amnesti pajak. Dana itu berasal dari aset luar negeri senilai $270 miliar yang sebelumnya tidak wajib pajak laporkan. Hingga kini, sekitar $10 miliar aset telah dibawa kembali ke dalam negeri.

Pemulihan Ekonomi

Tanda-tanda pemulihan ekonomi mulai menarik investor asing ke saham-saham Indonesia yang dinilai masih memiliki valuasi wajar. Sarina dari CLSA mengatakan, peningkatan anggaran infrastruktur dan belanja modal yang lebih besar ikut mendorong ekonomi serta pasar saham. Ia menyebut pemulihan sudah terlihat pada penjualan otomotif dan semen. Saat ini, saham-saham Indonesia diperdagangkan sekitar 15,1 kali proyeksi laba 12 bulan ke depan, sementara laba diperkirakan tumbuh 15% pada tahun ini dan tahun depan. Mixo Das, ahli strategi Nomura Securities di Singapura, menilai peluang pertumbuhan laba lebih besar berada di sisi positif, sehingga kenaikannya berpotensi lebih cepat dari perkiraan. Ia mencatat, sekitar sepertiga pertumbuhan laba berasal dari sektor perbankan, yang mendapat manfaat dari biaya pendanaan lebih rendah, likuiditas lebih baik, dan pemulihan pertumbuhan kredit.

Selain bank, sektor industri dan konstruksi juga menjadi pendorong utama. Selain sektor industri yang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, Mixo juga memperkirakan sektor berbasis investasi, seperti properti dan konstruksi, akan ikut membaik. Namun, ia tidak terlalu optimistis terhadap sektor batu bara dan perkebunan, yang telah mencatat pemulihan kuat pada paruh kedua 2016. Menurutnya, kedua sektor tersebut kemungkinan tidak akan mencatat kinerja sebaik tahun sebelumnya. Perkiraan konsensus menempatkan Indeks Komposit Jakarta di kisaran 5.700 pada akhir tahun, atau naik sekitar 6,5% dari posisi saat ini, setelah mencatat lonjakan 17,5% pada tahun lalu. Mixo menyebut bahwa pasar saat ini lebih menguntungkan bagi investor yang selektif dalam memilih saham, sehingga tidak cukup hanya berpatokan pada indeks. Menurutnya, investor sebaiknya mencermati saham-saham bernilai, terutama di sektor konsumen dan properti yang telah mengalami penurunan cukup dalam.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *