Sawit “Berkelanjutan” Terbongkar

hutan hujan Afrika Barat

Minyak sawit—bahan dalam produk seperti lipstik, kue dan sabun—awalnya populer di hutan hujan Afrika Barat. Orang‑orang setempat sejak lama mengekstrak minyak dari buah pohon Elaeis guineensis dan menggunakannya sebagai minyak goreng tradisional. Pada abad ke-19, minyak sawit menjadi komoditas internasional karena Revolusi Industri Eropa meningkatkan kebersihan dan permintaan sabun. Sejak itu, budidaya sawit meluas pesat; pusat produksi berpindah ke Indonesia dan Malaysia, yang pada 2013 menyumbang 85% pasokan global. Antara 1967 dan 2000, luas lahan sawit di Indonesia meningkat dari 2.000 km² menjadi 30.000 km².

Ekspansi ini mendapat kecaman dari konservasionis dan ilmuwan karena dampak lingkungan industri sawit. Perusahaan kini memproduksi sebagian besar minyak sawit di perkebunan luas yang menggantikan hutan hujan asli dan mengusir satwa liar. Populasi orangutan Sumatra menurun sekitar 80% akibat erosi habitatnya. Harimau Sumatra menghadapi tekanan serupa, kehilangan antara 3 dan 6% habitat setiap tahun. IUCN menganggap kedua spesies ini sangat terancam punah, dan perkebunan sawit tercatat sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kelangsungan hidupnya.

Perubahan penggunaan lahan juga mengancam komunitas manusia. Pengeringan lahan gambut untuk pertanian dan praktik tebang‑bakar sebagian besar memicu kebakaran hutan di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Kabut asap berbahaya menimpa jutaan orang; lebih dari 140.000 mengalami infeksi pernapasan, dan sedikitnya 29 meninggal.

Pemerintah dan sektor swasta berupaya menahan ekspansi pertanian industri dan melindungi sisa hutan. Pemerintah memberlakukan berbagai moratorium pembangunan, termasuk larangan konsesi sawit dan tambang di Ekosistem Leuser. Ekosistem Leuser adalah satu‑satunya tempat di dunia di mana gajah, harimau, orangutan, dan badak hidup bersama. Lebih dari 300 perusahaan pengguna minyak sawit juga berkomitmen pada 2020 untuk hanya membeli dari pemasok yang bebas deforestasi.

Perusahaan sering memperoleh minyak sawit dari ratusan pabrik yang memasok buah dari ribuan petani, sehingga sulit memastikan asal lahan. Untuk memperjelas, WRI bermitra dengan Proforest dan Daemeter menganalisis pola deforestasi sekitar pabrik di Indonesia dan Malaysia.

Dua Asumsi

Proyek ini berlandaskan dua asumsi. Pertama, rekam jejak deforestasi dapat meramalkan deforestasi mendatang. Kedua, pabrik pengolahan biasanya menerima buah dari kebun dalam radius 50 km. Para analis memeriksa data kehilangan tutupan pohon yang terdeteksi satelit di area tersebut. Hasilnya digunakan untuk memberi skor risiko pada setiap pabrik.

Hasil penelitiannya berupa dataset baru bernama PALM Risk Tool, yang memetakan tren hilangnya tutupan pohon di sekitar sekitar 800 pabrik pengolahan minyak sawit di berbagai negara. Para analis berharap alat ini bisa dipakai perusahaan untuk memantau dampak rantai pasokannya. Alat tersebut diluncurkan untuk publik kemarin melalui platform pemantauan hutan daring WRI, Global Forest Watch.

Data dan transparansi mendorong perubahan nyata, kata Crystal Davis, Direktur Global Forest Watch. Alat ini menggabungkan data lokasi pabrik sawit yang sebelumnya tidak tersedia dengan teknologi pemantauan satelit mutakhir untuk menunjukkan titik‑titik spesifik di mana perusahaan harus memusatkan upaya demi mencapai target keberlanjutannya. Hasilnya tidak akan instan, tetapi alat ini dapat mengarahkan perusahaan ke jalur yang benar.

WRI bermitra dengan Unilever untuk menguji alat tersebut dan menemukan 29 pabrik pemasok Unilever yang berisiko tinggi mengalami deforestasi. Salah satunya adalah pabrik Intan Sejati Andalan di Riau; area sekitarnya telah kehilangan lebih dari 200.000 hektare hutan primer sejak 2009, dan analis memperkirakan sekitar 300.000 hektare lagi berpotensi ditebang. Di antara wilayah yang terancam oleh perluasan perkebunan sawit terdapat cagar Giam Siak Kecil dan Balai Raja, yang menjadi habitat badak Sumatra, gajah dan macan tutul berawan yang terancam punah.

Tutupan Pohon Hilang

Pabrik Sawitta Jaya Lau Pakam di Sumatra Utara berdiri di sebuah lembah yang memisahkan dua bagian Ekosistem Leuser, dekat kawasan yang dilindungi sebagai taman nasional dan Situs Warisan Dunia UNESCO. Analisis PALM Risk Tool menunjukkan bahwa dalam radius 50 km sekitar 7%—sekitar 47.000 hektare—tutupan pohon hilang antara 2001 dan 2014; dari jumlah ini 11.300 hektare merupakan hutan primer dan 7.600 hektare hilang dari kawasan lindung. Meskipun alat tersebut menilai pabrik ini berisiko Sedang‑Rendah untuk deforestasi umum di masa depan, pabrik ini dikategorikan berisiko tinggi untuk deforestasi di kawasan lindung.

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), pengawas industri sawit terbesar di dunia, berharap dataset baru ini dapat membantu perusahaan yang ingin memperoleh minyak sawit dari sumber yang lebih berkelanjutan.

Darrel Webber mengatakan RSPO menyambut setiap upaya yang dapat mengurangi deforestasi. Untuk itu RSPO meluncurkan RSPO NEXT, serangkaian kriteria tambahan bagi produksi minyak sawit agar perusahaan lebih mudah mendukung kebijakan tanpa deforestasi. Dengan menggabungkan analisis peta risiko dari PALM Risk Tool dan membeli minyak sawit dari petani yang terverifikasi RSPO NEXT, perusahaan bisa lebih yakin bahwa rantai pasokan mereka benar‑benar bersertifikat berkelanjutan.

Visited 10 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *