Seorang perwakilan militer menyatakan bahwa pesawat militer yang jatuh di area permukiman di Medan mengalami gangguan pada mesin.
Lebih dari 140 orang tewas Selasa setelah pesawat Hercules C-130 meledak menjadi bola api sesaat setelah lepas landas.
Agus Supriatna, Kepala Staf Angkatan Udara, mengatakan salah satu baling-baling mesin ditemukan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Tim penyelamat telah menyelesaikan upaya pencarian terhadap para korban kecelakaan.
Pilot sempat meminta kembali ke pangkalan. Pesawat kecelakaan dan jatuh dua menit setelah lepas landas.
Marsekal Udara Agus menyampaikan bahwa tim investigasi berhasil menemukan seluruh empat mesin pesawat beserta baling-baling yang menunjukkan kondisi tidak wajar.
Ia menjelaskan meskipun tiga mesin masih beroperasi, pilot tidak dapat mengendalikan pesawat karena gangguan segera setelah lepas landas.
Ia mengatakan kepada wartawan indikasi kerusakan mesin terlihat dari pesawat yang berbelok ke kanan. Kecepatan terbang pesawat juga lebih lambat dari normal.
Menurut kesaksian warga di darat, pesawat tampak terbang dalam posisi miring dan mengeluarkan asap hitam sesaat sebelum menghantam dua bangunan dan meledak dalam kobaran api.
Penumpang yang Membayar
Jumlah penumpang dalam pesawat ternyata lebih banyak dibandingkan dengan yang sebelumnya diinformasikan oleh pihak militer. Pada awalnya, otoritas hanya menyebutkan keberadaan 12 awak di dalam pesawat yang telah berusia 51 tahun, tanpa menyebutkan adanya penumpang lain.
Angka tersebut terus mengalami peningkatan, mencerminkan ketidakjelasan mengenai jumlah orang yang naik dan turun dari pesawat selama singgah di sejumlah kota.
Pihak keluarga korban menyatakan bahwa anggota keluarganya telah memberikan sejumlah uang untuk diantar ke tempat tujuan menggunakan pesawat militer, tindakan yang bertentangan dengan peraturan militer.
Sejumlah pejabat dari kalangan militer dan pemerintahan telah menolak tudingan tersebut.
Insiden ini merupakan yang paling baru dalam rangkaian kecelakaan pesawat militer yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan evaluasi menyeluruh terhadap armada Angkatan Udara yang sudah uzur beserta perlengkapan pendukung lainnya.