Cincin batu akik besar tampak di mana-mana, dari warung pinggir jalan hingga kantor pemerintahan, ruang sidang, ruang rapat, dan kemacetan. Hampir di setiap sudut selalu ada seseorang yang mengenakannya, sering kali di lebih dari satu jari. Fenomena ini mencerminkan betapa Indonesia sedang mengalami gelombang tren batu akik yang luar biasa.
Tren batu akik merambah seluruh lapisan masyarakat, dari pemimpin tertinggi hingga staf paling bawah. Batu akik menjadi bahan obrolan yang nyaris merata. Media arus utama pun tak ketinggalan, menyajikan berbagai artikel dan program khusus yang membahas fenomena ini secara mendalam. Bahkan, sejumlah pemerintah daerah mewajibkan aparatur sipil negara untuk mengenakan cincin batu akik sebagai bentuk dukungan terhadap produk lokal. Namun, pertanyaannya adalah: dari mana asal mula demam batu akik ini?
Beberapa orang percaya tren batu akik, terutama bacan doko Halmahera, bermula dari kabar hadiah SBY kepada Obama pada 2010. Sejumlah pihak meragukan cerita itu karena catatannya tak ada di arsip resmi AS 2009–2013, namun popularitas bacan doko tetap meroket. Harganya pun melambung tinggi, hingga para kolektor harus rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk memilikinya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono gemar mengenakan cincin batu akik. Koleksinya mencakup batu dari Pacitan, kampung halamannya, dan berbagai daerah lain. Ani Yudhoyono kerap mengabadikan kebiasaan ini lewat unggahan foto di Instagram. Saat kepemimpinan berganti, peserta internasional KAA di Bandung, April 2015, menerima batu akik sebagai cendera mata. Pemberian itu ikut memicu lonjakan harga batu akik di pasaran.
Di luar hubungannya dengan status sosial atau jabatan, apa sebenarnya yang mendorong para penggemar untuk mengoleksi batu akik? Banyak yang mulai menekuni hobi ini tanpa sengaja, mengikuti tren, lalu tumbuh apresiasi pada keindahan batunya. Sebagian terpikat oleh ragam warna memukau, lainnya tertarik pada kisah dan mitos tiap jenis batu akik.
Mendongkrak Karier
Penggemar menyukai batu kalsedon bermotif mirip lambang pangkat militer karena mereka meyakini batu itu dapat mendongkrak karier pemakainya. Orang-orang percaya batu akik secara umum membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Untuk menambah daya tarik dan nilai jual, para pedagang kerap menyisipkan kisah menarik serta keunikan pada setiap batu yang mereka tawarkan.
Ketika tren batu akik mencapai masa kejayaannya, kebiasaan ini meluas ke luar kelompok awalnya, yang dulunya didominasi oleh pria paruh baya dan lansia. Para kolektor senior umumnya memakai batu akik sebagai simbol kewibawaan. Namun kini, fenomena tersebut telah menjangkau berbagai kalangan—bahkan anak-anak usia lima tahun pun terlihat mengenakan cincin batu akik, dan minat terhadap hobi ini pun semakin berkembang di kalangan perempuan.
Antusiasme masyarakat terhadap batu akik telah memicu tumbuhnya sektor informal baru dalam perekonomian, membuka peluang kerja bagi banyak orang. Di berbagai sudut kota, pengrajin batu akik mudah ditemukan, menunjukkan betapa luasnya jangkauan industri ini. Suara mesin pemoles batu yang terus berdengung menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana jalanan dan pasar-pasar tradisional.
Keberadaan toko-toko batu akik kini semakin mudah ditemukan, dan Pasar Rawa Bening telah menjelma menjadi salah satu pusat perdagangan batu akik terbesar. Dalam dua tahun terakhir, pasar ini dipadati pengunjung yang datang untuk mencari berbagai jenis batu akik yang tersedia hampir lengkap di sana.
Toko Daring
Ledakan popularitas batu akik turut mendorong pertumbuhan pesat toko-toko daring, seperti www.bukalapak.com, www.olx.co.id dan www.tokopedia.com. Banyak penggemar batu akik memanfaatkan platform-platform ini untuk menjual sebagian koleksinya, baik sebagai cara untuk mendanai hobi tersebut maupun sebagai upaya para kolektor pria untuk menyalurkan antusiasmenya yang besar kepada pasangannya.
Seorang teman dengan nada bercanda menanggapi tren batu akik di Facebook dan melontarkan pertanyaan, “Apakah batu akik telah menyelamatkan Indonesia?” Menurutnya, tanpa kehadiran batu akik, masyarakat hanya akan sibuk membahas politik dan terus berdebat. Ia berpendapat bahwa tanpa batu akik, perlambatan ekonomi akan semakin memburuk, roda ekonomi rakyat bisa terhenti, angka pengangguran meningkat, kejahatan melonjak, dan rumah sakit dipenuhi pasien akibat tekanan hidup. Maka dari itu, ia pun berseru, “Hidup batu akik!”