Tatapan Keheningan: Negara yang Terjaga Pura-pura

untuk membuat film dokumenter

Sutradara asal Amerika, Joshua Oppenheimer, pergi ke Indonesia pada 2001 untuk membuat film dokumenter tentang para pekerja perkebunan. Namun ia menemukan jejak genosida. Dalam film The Act of Killing, ia menggambarkan perubahan kehidupan di negara itu sejak kudeta 1965. Kudeta itu memicu pembantaian massal. Regu paramiliter membunuh sekitar 500.000 hingga dua juta orang. Pelaku adalah regu paramiliter yang mengaku menumpas komunisme.

Para pelaku pembunuhan menyajikan film ini dari perspektif mereka sendiri. Sekarang Oppenheimer kembali dengan sekuel yang mengikuti perjalanan salah satu korban saat ia bertemu dan menghadapi mereka yang membunuh saudaranya.

Oppenheimer menghabiskan hampir 10 tahun untuk menyelesaikan The Act of Killing. Ia menemukan bahwa beberapa tahun setelah peristiwa itu, mantan anggota regu pembunuh dipuji sebagai pahlawan anti-komunis oleh sebagian orang. Banyak dari mereka naik menjadi tokoh masyarakat. Salah seorang bahkan menduduki kursi di legislatif nasional.

Oppenheimer berkata bahwa ia merasa seolah memasuki sebuah tempat di mana para pelaku pembunuhan telah menang; ia membandingkannya dengan tiba di Jerman 40 tahun setelah Holocaust dan mendapati para Nazi masih berkuasa.

Narator dalam The Look of Silence adalah Adi Rukun, seorang pembuat kacamata berusia 46 tahun, yang bukan nama aslinya. Ia menjelaskan dalam film bahwa ia perlu menyamarkan identitasnya karena para pelaku pembunuhan masih memegang kekuasaan dan dipandang sebagai pahlawan.

Bulan September lalu, Adi Rukin hadir di Festival Film Internasional Toronto bersama Oppenheimer yang menjadi penerjemahnya. Ia menyampaikan kepada penonton bahwa sejak terjadinya genosida, para pelaku belum memperlihatkan rasa penyesalan.

Ia mengatakan bahwa keluarga korban, termasuk keluarganya, sering menjadi bahan ejekan oleh para pelaku dan keluarganya. Para pelaku kerap membicarakan pembunuhan ini secara terbuka di hadapannya; meskipun mereka adalah kerabat korban, para pelaku dan sanak keluarganya tak segan mengejeknya karena menjadi korban.

Memperagakan Pembunuhan

Dalam The Look of Silence, Adi Rukun mewawancarai beberapa pelaku pembunuhan sambil sembunyi-sembunyi menonton rekaman Oppenheimer, yang menampilkan dua pria yang dengan antusias memperagakan cara mereka membunuh saudara laki-lakinya.

Oppenheimer menceritakan sebuah adegan dalam The Look of Silence di mana dua mantan pemimpin regu pembunuh yang sudah tua membawanya ke tepi sungai tempat mereka terlibat dalam pembantaian sekitar 10.500 orang. Mereka silih berganti memainkan peran korban dan pelaku, dengan bangga menggambarkan tindakannya dan bahkan berpose untuk foto di akhir. Bagi Oppenheimer, sore mengerikan saat pengambilan gambar ini menjadi titik awal bagi dua film terakhirnya.

Perubahan politik terbaru membuka ruang bagi peninjauan kembali narasi yang memuliakan para pelaku pembunuhan sebagai pahlawan yang menyelamatkan bangsa. Jeffrey Winters, ilmuwan politik dari Universitas Northwestern yang telah lama meneliti peristiwa pascakudeta 1965, menyatakan bahwa kedua film Oppenheimer ikut berperan dalam pergeseran tersebut.

Winters mengatakan bahwa kini muncul kecenderungan untuk mempertanyakan bagaimana dan mengapa pembantaian ini terjadi, serta bagaimana sebuah bangsa bisa hidup berdampingan tanpa menghadapi kengerian sejarah tersebut. Ia menambahkan bahwa proses peninjauan ini sedang berlangsung sekarang, dan film-film Joshua jelas turut mempercepatnya.

Sebagian dari kemampuan Oppenheimer dan narasumbernya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini berasal dari kerja yang Adi Rukun lakukan.

Adi menjelaskan di festival bahwa pekerjaannya adalah sebagai pembuat kacamata, yang merupakan kariernya. Ia menyukai profesinya karena memberi kesempatan untuk mengajukan banyak pertanyaan, terutama tentang masa lalu—sesuatu yang ingin ia ketahui karena kakaknya dibunuh. Selain itu, banyak orang di desanya juga menjadi korban, sehingga ia berusaha memahami apa yang terjadi di sana, mengapa orang-orang bersikap demikian, mengapa mereka merasa takut, dan mengapa mereka memilih untuk tetap diam.

Bagi Oppenheimer, pekerjaan Adi Rukun sebagai pembuat kacamata berperan sebagai simbol sentral dalam The Look of Silence.

Cara Pandang

Oppenheimer mengatakan kepada penonton di festival Toronto bahwa Adi mencoba memperbaiki cara pandang orang-orang yang sengaja menutup mata, baik secara nyata maupun kiasan. Ia menambahkan bahwa film ini mengangkat tema kebutaan yang dipilih serta kebutaan yang menjadi akar dari keheningan, sehingga kembali pada makna awal judulnya.

Film ini menelaah keheningan dan pandangan yang lahir dari keheningan—kebutaan yang menjadi akarnya. Tatapan yang paling mengena, yang dirujuk oleh judul, terlihat pada wajah Adi saat ia menyaksikan pengakuan orang-orang yang membunuh saudaranya.

Adi Rukun menyatakan bahwa bila para pelaku menyesal, mereka akan dimaafkan—karena pada akhirnya mereka adalah tetangga.

Harapan kecil yang memberi secercah terang.

Dia masih dilarang menggunakan nama aslinya.

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *