Indonesia mempertemukan negara-negara pascakolonial ketika menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika pertama di Bandung pada April 1955. 60 tahun kemudian, berbagai negara berkumpul untuk mengenang Semangat Bandung dan membahas masa depan negara-negara berkembang. Semangat Bandung, yang muncul dari konferensi 1955, tercermin dalam Dasasila Bandung. Prinsipnya meliputi hak menentukan nasib sendiri secara politik, penghormatan terhadap kedaulatan, larangan agresi, nonintervensi dalam urusan dalam negeri dan kesetaraan. Masyarakat internasional kini menganggap prinsip-prinsip ini sebagai norma umum, meskipun belum menerapkannya secara konsisten. Enam dekade lalu, prinsip tersebut belum berlaku secara luas. Pada 1950-an, dunia terbagi antara kekuatan kolonial dan negara-negara pascakolonial yang menentang dominasinya. Negara-negara baru menuntut pengakuan kedaulatan serta kebebasan menentukan pilihan dan tindakan. Pemimpin dari 29 negara menghadiri Konferensi Bandung. Tokoh-tokoh penting mewakili negaranya dan menyuarakan kepentingan bangsa-bangsa yang masih terjajah.
Semangat Bandung melahirkan Gerakan Non-Blok yang menolak polarisasi global akibat Perang Dingin. Persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet membelah dunia menjadi blok kapitalis dan komunis. Perpecahan tersebut juga memisahkan negara-negara maju di Utara dan negara-negara terpinggirkan di Selatan. Negara-negara Selatan kemudian sering disebut sebagai Dunia Ketiga. Gerakan Non-Blok memperkuat solidaritas ekonomi, politik, dan budaya antarnegara Dunia Ketiga. Konferensi Bandung menumbuhkan nasionalisme pascakolonial yang kemudian melahirkan Gerakan Non-Blok. Soekarno, Tito, Nasser, Nehru, dan Nkrumah berperan penting dalam pendiriannya di Beograd pada 1961.
Masih Relevan
Semua ini terjadi di masa lalu, jadi mengapa Semangat Bandung masih relevan sekarang? Perang Dingin telah berakhir dan Uni Soviet bubar, perseteruan Timur-Barat menjadi sejarah, sementara globalisasi mengaburkan batas Utara dan Selatan. Pusat kegiatan ekonomi bergeser ke Asia, dan Indonesia kini menjadi anggota G20 yang percaya diri, bukan lagi negara pascakolonial. Maka, apa alasan membangkitkan semangat lama ini dan apa tujuan pertemuan bulan ini? Salah satu tujuan utamanya adalah mendorong negara-negara menanggapi serius ketimpangan yang ditimbulkan globalisasi di Global South. Keberhasilan China, India dan Indonesia memang nyata, tetapi ini tidak menutupi jurang besar dalam kekayaan dan kesempatan yang justru diperlebar oleh globalisasi. Sekarang perbedaan antara Dunia Pertama dan Dunia Ketiga sering terlihat di dalam satu negara, bukan hanya antarnegara.
Namun, manfaat globalisasi tidak tersebar merata; beberapa negara diuntungkan sementara yang lain justru dirugikan. Berbeda dengan pasar saham atau properti, di mana untung dan rugi saling berlawanan, negara adalah entitas politik dan sosial, bukan sekadar arena ekonomi. Asia dan Afrika menunjukkan beragam wajah globalisasi. Pertemuan para pemimpin dari kedua benua dan wilayah lain memberi kesempatan memulai dialog tentang pengalaman mereka menghadapi arus modal, investasi, barang dan gagasan global. Kerja sama Selatan-Selatan, tema utama peringatan pekan ini, bukan sekadar slogan populer; ini upaya konkret untuk memastikan manfaat globalisasi tersebar lebih merata bagi mayoritas penduduk dunia. Langkah ini sejalan dengan nilai-nilai Semangat Bandung. Kesejahteraan negara-negara Global South juga penting secara strategis; meskipun ancaman Perang Dingin baru belum muncul saat ini, persaingan antar kekuatan besar semakin nyata.
Kebangkitan China
Kebangkitan China di Asia membuat hubungan antara China dan Amerika Serikat menjadi lebih jelas; masyarakat Asia menolak kembalinya persaingan ala AS–Soviet dan tidak ingin dipaksa memilih antara China atau AS. Situasi serupa juga terjadi di Afrika. China memperluas pengaruh ekonominya di benua ini, yang berpotensi memicu persaingan dengan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat. Masyarakat Afrika menyadari bahwa persaingan antar kekuatan besar bisa memecah belahan benua mereka dan merugikan jutaan orang. Sekali lagi, negara-negara Asia dan Afrika perlu membuka ruang dialog untuk menjaga kepentingan mereka agar tidak terseret oleh persaingan antar kekuatan besar. Ini mencerminkan prinsip-prinsip Semangat Bandung. Sebenarnya ini bukan hal baru. Sepuluh tahun lalu Indonesia menjadi tuan rumah peringatan 50 tahun Konferensi Bandung, yang mengangkat Semangat Bandung untuk merancang kerja sama konkret antara Asia dan Afrika dalam kerangka kolaborasi global, dan berujung pada terbentuknya Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika. Konferensi minggu ini harus melanjutkan dan memperluas inisiatif tersebut.
Salah satu kepentingan bersama Asia dan Afrika adalah Timur Tengah. Kekerasan di kawasan ini, termasuk tindakan destruktif ISIS di Irak dan Suriah, bukan berasal dari Islam melainkan dari ketidakstabilan sistemik yang memanfaatkan agama untuk tujuan politik. Indonesia memiliki pengalaman dalam mencegah terorisme menguasai politik sekaligus menjaga keterbukaan dialog dan harmoni antarumat beragama. Demokrasi menjadi kunci untuk mewujudkan keseimbangan ini; Indonesia dapat membagikan pengalamannya kepada mitra internasional lewat dialog Asia-Afrika yang juga berfungsi sebagai dialog antarperadaban. Pada akhirnya, keputusan Indonesia menjadi tuan rumah konferensi ini menegaskan komitmen pada kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif; kebijakan ini tetap menjadi bagian penting dari identitas nasional Indonesia saat ini, sebagaimana pada 1955. Bangsa Indonesia mengharapkan partisipasi masyarakat Asia dan Afrika dalam memperingati peristiwa bersejarah pada tahun 1950-an, yang merepresentasikan cita-cita negara-negara pascakolonial untuk memperoleh kedaulatan dan menentukan nasib secara mandiri. Upaya untuk mengendalikan dan menentukan masa depan sendiri merupakan proses yang senantiasa berlanjut.