Kepala polisi yang memimpin operasi di Sulawesi Tengah mengatakan jenazah Santoso telah teridentifikasi. Santoso adalah pemimpin kelompok pendukung yang menyebut diri Negara Islam ISIS.
Polisi melakukan tes DNA untuk memastikan jenazah ini benar-benar pemimpin Mujahidin Timur.
Pasukan keamanan menilai operasi ini sebagai kemenangan besar.
Saat polisi mengumumkan kabar ini dalam konferensi pers, polisi, tentara dan wartawan serentak mengucap alhamdulillah.
Polisi meminta beberapa orang yang pernah bertemu atau bertempur bersama Santoso mengidentifikasi jenazah. Mereka mengonfirmasi bahwa jenazah itu adalah Santoso.
Kapolda setempat Rudy Sufahriadi menyatakan bahwa korban tewas adalah Santoso, dan pejabat polisi lain menambahkan mereka 99% yakin itu benar.
Laporan menyebutkan seorang militan tambahan tewas.
Santoso menyatakan kesetiaannya kepada kelompok Negara Islam (ISIS) pada 2014, dan pemerintah AS resmi mencapnya sebagai teroris.
Kelompok kecil Mujahidin Indonesia Timur (MIT) terkenal karena menyerang aparat keamanan. Beberapa video menampilkan ajakan anggota MIT agar orang lain melakukan serangan serupa.
MIT bermarkas di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, sebuah wilayah pegunungan yang telah menjadi pusat konflik keagamaan lebih dari satu dekade; pihak berwenang memperkirakan hanya sekitar 20 pejuang tersisa.
Siapakah Santoso?
Santoso, yang terkenal juga sebagai Abu Wardah, adalah militan paling polisi buru meski belum tentu paling berbahaya.
Sejak 2013 pasukan antiteror terus memburu Santoso, dan mereka mempercepat pengejaran setelah serangan Januari di Jakarta karena khawatir ia ingin menjadikan wilayah itu pusat militansi.
Ia merupakan pemimpin militan pertama yang secara terbuka menyatakan kesetiaan kepada ISIS pada 2014, dan pernah terlibat dalam kekerasan sektarian di Poso antara 1998 dan 2001.
Pihak berwenang menduga Santoso melatih pejuang Uighur dari China di Poso dan menjalin hubungan dengan kelompok militan di Filipina.
Namun, dia belum tentu merupakan ancaman teror utama; ulama yang dipenjara, Aman Abdurrahman, beserta pengikutnya diduga berada di balik serangan Jakarta.
Diduga serangan bom bunuh diri 5 Juli di Surakarta mendapat dukungan dari Bahrun Naim, seorang warga negara yang berafiliasi dengan ISIS dan berbasis di Timur Tengah.
Tahun lalu Presiden Joko Widodo memperluas pengejaran terhadap Santoso—yang sebelumnya sudah melibatkan ribuan polisi—dengan melibatkan militer.
Kapolri Tito Karnavian menyatakan kematian Santoso berpotensi menurunkan semangat pendukung ISIS, namun para analis meragukan hal ini akan mengurangi dukungan terhadap kelompok tersebut.