Kapal Tenggelam: Ratusan Terancam, 800 Diselamatkan

perwakilan militer menyampaikan kabar

Seorang perwakilan militer menyampaikan kabar ini pada hari Jumat. Kapal penangkap ikan bersama satuan polisi air menyelamatkan hampir 800 migran dari kapal tenggelam. Peristiwa itu terjadi di tengah krisis migran yang terus berlangsung di Asia Tenggara.

Juru bicara militer Fuad Basya menyampaikan informasi ini. Pejabat militer meyakini mayoritas migran adalah Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh. Petugas awalnya melarang mereka mendarat sambil menunggu koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.

Para penumpang menumpangi kapal yang nyaris tenggelam di lepas pantai Aceh. Nelayan lokal dan polisi air segera menyelamatkan para migran. Mereka mengantar para migran ke Pelabuhan Kuala Langsa di Kota Langsa, Aceh.

Fuad menjelaskan hal ini. Tugas utama mereka menghalau kapal tak berdokumen memasuki wilayah nasional. Namun, mereka tetap memberi bantuan bila menyangkut kondisi kemanusiaan.

Kapolres Langsa, Sunarya SIK, menyampaikan pernyataan ini. Kapal terlihat sangat padat, penumpang saling berdesakan. Nelayan menemukannya dalam kondisi demikian.

Kepala kepolisian menyampaikan temuan ini. Para migran mengaku sempat memasuki perairan Malaysia. Otoritas keamanan setempat kemudian menolak mereka.

Indonesia bukan pihak Konvensi Pengungsi PBB 1951. Namun, Indonesia tetap memberi perlindungan sementara bagi para migran. Perlindungan berlangsung sambil menunggu verifikasi status pengungsi oleh UNHCR.

Pihak militer menyampaikan hal ini pada hari Senin. Mereka menarik sebuah kapal migran dari wilayah perairan. Mereka juga menegaskan tujuan para migran adalah menuju Malaysia.

Operasi penyelamatan di perairan Aceh pada hari Minggu berhasil mengevakuasi hampir 600 migran asal Bangladesh dan Rohingya dari kapal kedua.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak menyampaikan pernyataan di Kuala Lumpur pada hari Jumat, mengajak komunitas internasional mencari solusi. Ia menegaskan krisis kian memburuk.

Ia menyatakan bahwa persoalan ini merupakan isu krusial baik di tingkat internasional maupun regional. Saat ini, pihaknya tengah menjalin komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki komitmen serupa untuk mencari solusi atas krisis tersebut.

Langkah Antisipatif

Badan Penegakan Maritim Malaysia meningkatkan intensitas patroli sebagai langkah antisipatif terhadap masuknya migran, setelah lebih dari seribu pengungsi perahu asal Rohingya dan Bangladesh tiba di Langkawi bagian utara.

Di tengah meningkatnya arus migran, patroli maritim Malaysia pada hari Rabu berhasil mencegat dua kapal yang membawa sekitar 1.000 orang.

Otoritas setempat mengawal satu kapal keluar dari perairan Malaysia, sementara teknisi memperbaiki kapal lain sebelum memulangkannya ke tempat asal.

Di tengah meningkatnya arus migran, Thailand menolak sebuah kapal yang diduga mengangkut ratusan warga Rohingya dari Myanmar pada hari Jumat.

Pada hari Kamis malam, Angkatan Laut Thailand mendeteksi sebuah kapal di perairan barat daya dan mengarahkannya kembali ke laut setelah memberikan bantuan berupa makanan, air dan obat-obatan kepada para migran.

Seorang penumpang kapal, berbicara dalam bahasa Rohingya kepada sejumlah wartawan, mengungkapkan bahwa sekitar 10 orang meninggal dunia selama perjalanan, dan jenazahnya terpaksa dibuang ke laut.

Zeid Ra’ad al-Hussein, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, menyatakan bahwa kebijakan mengarahkan kapal migran kembali ke laut menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan jiwa. Ia menilai bahwa praktik semacam itu tidak manusiawi, sulit dipahami dan berpotensi menyebabkan kematian yang seharusnya dapat dicegah.

Di Amerika Serikat, juru bicara Gedung Putih Eric Schultz menyatakan bahwa situasi ini sangat memprihatinkan, dan menegaskan bahwa pemerintah AS akan terus mendorong Myanmar untuk mengambil langkah dalam menyelesaikan krisis tersebut.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dalam kunjungannya ke Myanmar tahun lalu, mengungkapkan kekhawatiran terhadap perlakuan terhadap kelompok etnis minoritas, menyusul pemulihan pemerintahan sipil dan pemulihan hubungan bilateral antara kedua negara.

Schultz menyatakan bahwa reformasi yang tengah berlangsung di Myanmar memiliki arti penting dan dampak besar, namun prosesnya belum sepenuhnya tuntas. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat akan terus menyampaikan keprihatinan kepada pemerintah Myanmar dan menekankan urgensi untuk memenuhi komitmen dalam penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Memerlukan Perlindungan

Zeid menegaskan bahwa para migran asal Bangladesh dan Rohingya memerlukan perlindungan, dan menekankan bahwa keberadaannya di atas kapal tidak menghapus hak asasi yang dijamin bagi setiap individu menurut hukum internasional.

Berdasarkan data dari kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, sekitar 920 orang—mayoritas berasal dari komunitas muslim Rohingya di Myanmar—meninggal dunia di Teluk Benggala antara bulan September hingga Maret.

Seorang penasihat keamanan pemerintah menyatakan bahwa Thailand telah mengajukan rencana pendirian kamp sementara bagi para migran di wilayahnya, namun pelaksanaannya akan menunggu hasil pertemuan regional pada tanggal 29 Mei 2015 karena Thailand tidak dapat menangani hal tersebut secara mandiri.

Setiap bulan, ribuan warga Rohingya—kelompok minoritas tanpa kewarganegaraan di Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Buddha—melakukan perjalanan melalui Thailand dengan tujuan mencapai negara-negara seperti Malaysia atau Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim.

Visited 11 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *