Indonesia akan menangguhkan program makanan bergizi gratis selama masa liburan. Pemerintah mengambil kebijakan ini setelah protes massal menyoroti pemborosan anggaran dan memburuknya ekonomi. Program makanan bergizi gratis bernilai besar menjadi kebijakan utama pemerintah. Namun, banyak pihak mengkritik program ini karena biayanya tinggi. Pekan lalu, ratusan orang berunjuk rasa di Jakarta. Mereka menuntut pemerintah membatalkan program tersebut. BGN, selaku penyalur makanan, menginstruksikan dapur tidak menyajikan menu selama libur 22 Juni hingga 13 Juli.
Badan ini menyatakan ketentuan tersebut tetap berlaku pada hari libur nasional, hari raya keagamaan dan akhir pekan. Juru bicara BGN Agustina Arumsari mengatakan Kamis malam, langkah ini bukan sekadar efisiensi anggaran. Kebijakan itu bertujuan memastikan sumber daya negara memberi manfaat maksimal bagi kelompok membutuhkan. Agustina menyatakan pemerintah dapat menghemat lebih dari Rp3 triliun selama liburan mendatang. Ia menambahkan, langkah ini memberi kesempatan mengevaluasi program agar lebih tepat sasaran.
Menurut data pemerintah, hingga bulan Maret, program tersebut telah memberikan manfaat kepada lebih dari 61 juta orang. Meski demikian, sejak mulai berjalan pada Januari tahun lalu, program tersebut tercoreng oleh kasus keracunan makanan massal dan berbagai tudingan korupsi. Bulan ini, Presiden Prabowo memberhentikan Dadan Hindayana dari jabatannya sebagai Kepala BGN, yang dia emban sejak lembaga ini terbentuk pada Agustus 2024, bersama dua orang wakilnya. Ketiganya terlibat dalam tindak pidana terkait pengelolaan lembaga tersebut.
Pemerintah merancang program penyediaan makanan bergizi gratis untuk melayani minimal 82,9 juta penerima manfaat. Program ini mencakup anak-anak, perempuan hamil, dan ibu menyusui, atau hampir sepertiga populasi nasional. Meski demikian, pos anggaran ini termasuk yang pertama terkena pemotongan ketika pemerintah berusaha menghadapi tekanan ekonomi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Stunting yang dipicu oleh kekurangan gizi berat masih berdampak pada lebih dari seperlima anak-anak di Indonesia.