Atas undangan Presiden Prabowo Subianto, Perdana Menteri India Narendra Modi berkunjung kenegaraan ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026. Kunjungan ini menindaklanjuti kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke India pada 23–26 Januari 2025. Saat itu, Presiden Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan pada peringatan Hari Republik India ke-76. Kehadiran PM Modi di Indonesia menjadi momentum penting bagi penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif India-Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, Perdana Menteri Modi menerima upacara penyambutan resmi di Istana Merdeka. Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Modi, baik secara terbatas maupun tingkat delegasi. Presiden Prabowo juga menggelar jamuan makan malam kenegaraan untuk menghormati kunjungan Perdana Menteri Modi. Atas undangan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Puan Maharani, Perdana Menteri Modi menyampaikan pidato di parlemen. Kedua pemimpin turut meresmikan restorasi dan konservasi Kompleks Candi Prambanan, Situs Warisan Dunia UNESCO di Yogyakarta. Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Modi juga menghadiri resepsi komunitas India di Indonesia. Acara tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada Perdana Menteri Modi sebagai tamu kenegaraan.
Perdana Menteri Modi dan Presiden Prabowo melaksanakan pertemuan bilateral resmi pada 7 Juli 2026 di Istana Merdeka. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas berbagai aspek hubungan bilateral secara menyeluruh. Pembahasan mencakup kerja sama politik, pertahanan, keamanan, maritim, perdagangan, investasi, dan ekonomi digital. Mereka juga membahas ilmu pengetahuan, teknologi, antariksa, mineral kritis, energi, pertanian, kesehatan, dan farmasi. Selain itu, pendidikan, budaya, pariwisata, pertukaran pemuda, dan hubungan antarmasyarakat turut menjadi perhatian. Kedua pemimpin juga membahas dinamika regional dan global yang menjadi kepentingan bersama. Mereka turut menyaksikan pertukaran sejumlah dokumen bilateral untuk memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif India-Indonesia.
Forum Multilateral
Untuk memperkuat keterlibatan strategis, kedua pemimpin menyepakati penyelenggaraan pertemuan puncak secara rutin. Pertemuan juga dapat berlangsung di sela-sela forum multilateral. Kedua pemimpin menekankan pentingnya memperkuat Kelompok Kerja Bersama yang telah berjalan. Mereka juga sepakat menggelar konsultasi bilateral secara rutin. Mekanisme tersebut mencakup Pertemuan Komisi Bersama, Konsultasi Kantor Luar Negeri, dan dialog lainnya. Pertukaran juga melibatkan menteri maupun pejabat senior dari kedua negara. Kedua pemimpin mengapresiasi terbentuknya Kelompok Persahabatan Parlemen India-Indonesia di parlemen masing-masing negara. Mereka juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antarparlemen kedua negara demokrasi tersebut melalui kunjungan delegasi secara rutin antara kedua parlemen.
Kedua pemimpin mengapresiasi meningkatnya pemahaman bersama dan interaksi antarlembaga pemikir, akademisi, serta pakar kebijakan kedua negara. Hal ini tercermin dalam Dialog Perencanaan Kebijakan India-Indonesia ke-3 di Indonesia pada 23 April 2025. Juga melalui Dialog India-Indonesia Track 1.5 ke-2 di Indonesia pada 15–16 September 2025. Forum Masa Depan Jakarta juga berlangsung di Indonesia pada 5–6 Agustus 2025. Menyadari posisi sebagai tetangga maritim dan mitra strategis, mereka menyoroti eratnya kerja sama pertahanan kedua negara. Mereka juga menjadikan Visi Bersama India-Indonesia tentang Kerja Sama Maritim di Indo-Pasifik tahun 2018 sebagai rujukan. Kedua pemimpin menegaskan komitmen kuat untuk memperkuat dan memperluas kemitraan pertahanan dan maritim.
Dialog Menteri Pertahanan
Kedua pemimpin mengapresiasi pelaksanaan Dialog Menteri Pertahanan ke-3 yang berlangsung di India pada 27 November 2025. Mereka sepakat memperkuat kerja sama pertahanan, baik pada aspek tradisional maupun bidang baru yang terus berkembang. Kerja sama mencakup dialog pertahanan berkala, latihan bersama, pembicaraan antarstaf, serta pertukaran informasi. Cakupan lainnya meliputi penelitian dan produksi bersama teknologi pertahanan baru, hidrografi, peningkatan kapasitas, dan pelatihan. Kedua negara juga mendorong kunjungan kapal, kegiatan penjaga perdamaian, pertukaran kadet, dan kerja sama industri pertahanan. Selain itu, keduanya menyambut peningkatan kerja sama melalui kolaborasi Sistem Rudal BrahMos. Mereka juga menyambut Perjanjian Kerja Sama Rudal Udara ke Udara.
Kedua pemimpin mengapresiasi berlanjutnya kerja sama maritim antara kedua negara. Kerja sama mencakup kesadaran domain maritim, konektivitas maritim, pengawasan pantai, HADR, pengendalian pencemaran, dan SAR. Kedua negara mendasarkan kerja sama tersebut pada kepentingan dan prioritas bersama. Hal ini berkontribusi pada perdamaian, keamanan, kemakmuran, dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Kedua pemimpin menyambut perpanjangan Nota Kesepahaman Kerja Sama Keselamatan dan Keamanan Maritim. Mereka juga menyambut rampungnya Perjanjian Pelaksanaan antara Bakamla RI dan Penjaga Pantai India. Kedua pemimpin menekankan pentingnya latihan bersama dan program pelatihan pertahanan secara strategis maupun operasional. Mereka juga menilai perlu memperkuat kerja sama angkatan laut yang telah terjalin. Keduanya memandang penting penjajakan pembahasan konstruktif mengenai isu maritim berkepentingan bersama. Pembahasan tetap mengacu pada hukum nasional masing-masing dan prinsip hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982.
Kedua pemimpin mengapresiasi penempatan International Liaison Officer (ILO) dari Indonesia di Information Fusion Centre–Indian Ocean Region (IFC-IOR) di Gurugram. Mereka sepakat meneruskan pembahasan untuk mengidentifikasi bidang kerja sama keamanan maritim yang bermanfaat bagi kedua negara.
Industri Pertahanan
Kedua pemimpin menetapkan kolaborasi di bidang industri dan teknologi pertahanan sebagai salah satu prioritas kerja sama. Mereka sepakat memperluas kerja sama saling menguntungkan antara industri pertahanan kedua negara. Kerja sama mencakup produksi bersama peralatan pertahanan, transfer teknologi, bantuan teknis, peningkatan kapasitas, dan pengadaan alutsista. Cakupan lainnya meliputi pembangunan kapal dan pembentukan fasilitas MRO untuk platform pertahanan sejenis. Mereka juga menjajaki kerja sama penelitian dan pengembangan pertahanan. Selain itu, kedua negara memperkuat ekosistem rantai pasok industri pertahanan. Kedua pemimpin menyambut kemajuan kolaborasi farmasi antarlembaga medis angkatan bersenjata India dan Indonesia. Kolaborasi tersebut mendukung penyediaan obat-obatan militer bagi kebutuhan pertahanan.
Para pemimpin mengecam dengan tegas terorisme dalam segala bentuk dan manifestasinya. Mereka menyerukan perlunya langkah internasional yang kuat, terkoordinasi, menyeluruh dan berkelanjutan dalam memberantas terorisme, dengan tetap berlandaskan hukum internasional. Dalam konteks tersebut, mereka mendorong tindakan terhadap teroris dan entitas teror yang telah terlarang secara global. Hal ini termasuk entitas yang tercantum dalam daftar Komite Sanksi Dewan Keamanan PBB 1267. Para pemimpin sepakat meningkatkan kerja sama dalam mencegah dan menanggulangi terorisme. Kerja sama juga mencakup penanganan ekstremisme kekerasan yang dapat berkembang menjadi aksi terorisme. Upaya tersebut meliputi pemberantasan pendanaan terorisme serta penerapan standar internasional AML/CFT. Mereka juga menekankan pencegahan penyalahgunaan teknologi baru dan berkembang untuk kepentingan teroris. Selain itu, kerja sama mencakup penanganan perekrutan teroris melalui media daring dan radikalisasi di platform digital. Selain itu, mereka juga sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam program deradikalisasi dan pencegahan ekstremisme kekerasan (PVE).
Para pemimpin menyerukan penerapan sikap tanpa toleransi dalam upaya pemberantasan terorisme. Mereka menegaskan kembali komitmen kuat untuk mengambil langkah aktif dalam memutus jalur pendanaan terorisme. Mereka juga sepakat memperkuat kerja sama bilateral dan multilateral, termasuk melalui PBB dan FATF.
Kejahatan Lintas Negara
Dengan memahami hubungan terorisme dan kejahatan terorganisasi lintas negara, kedua pemimpin sepakat memperkuat kerja sama. Kedua negara melaksanakan kerja sama sesuai hukum nasional masing-masing dan kewajiban internasional yang berlaku. Kerja sama tersebut mencakup pertukaran informasi dan berbagi praktik terbaik. Para pemimpin menyambut penyelesaian tahap awal Nota Kesepahaman Kerja Sama Pemberantasan Terorisme. Kedua negara berencana segera menandatangani Nota Kesepahaman tersebut. Para pemimpin mengapresiasi rencana pelaksanaan Dialog Keamanan India-Indonesia ke-3. Forum tersebut menjadi wadah pembahasan berbagai isu keamanan secara menyeluruh. Melalui forum itu, kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama bilateral secara signifikan. Kerja sama mencakup penanggulangan terorisme, kejahatan terorganisasi, kejahatan lintas negara, dan teknologi baru. Cakupan lainnya meliputi keamanan siber, industri pertahanan, kerja sama maritim, dan kerja sama antariksa.
Kedua pemimpin juga menyepakati pembahasan lebih lanjut mengenai peluang kerja sama di bidang siber. Kerja sama tersebut mencakup dialog kebijakan, peningkatan kapasitas, pertukaran praktik terbaik, dan berbagi keahlian. Bidangnya meliputi infrastruktur publik digital, teknologi finansial, ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan forensik digital. Kerja sama juga mencakup kolaborasi antar-Tim Tanggap Darurat Komputer atau CERT. Selain itu, kedua negara mengarahkan kerja sama pada perlindungan infrastruktur informasi vital dan peningkatan kapasitas keterampilan digital.
Para pemimpin menegaskan kerja sama ekonomi dan perdagangan tetap menjadi fondasi utama hubungan India-Indonesia. Kedua pemimpin mengakui keselarasan luas antara Viksit Bharat 2047 dan Indonesia Emas 2045. Mereka menilai integrasi ekonomi yang lebih luas dan mendalam penting untuk membuka lebih banyak peluang. Para pemimpin berharap kedua pihak dapat menyelesaikan peninjauan AITIGA tepat waktu. Penyelesaian ini bertujuan menciptakan iklim perdagangan yang seimbang, saling menguntungkan, dan lebih mendukung. Mereka berharap langkah ini mendorong keterlibatan perdagangan bilateral yang lebih komprehensif dan mendalam. Keterlibatan tersebut akan meningkatkan volume perdagangan kedua negara.
Ekonomi Bilateral
Kedua pemimpin menekankan pentingnya mengoptimalkan sekaligus memperkuat berbagai mekanisme ekonomi bilateral yang telah ada. Hal ini mencakup WGTI ke-2 pada 2026, BTMF ke-4, serta pertemuan perdana EFD. Mereka mencatat mekanisme tersebut perlu menghasilkan capaian nyata dan berorientasi pada kepentingan dunia usaha. Capaian itu mencakup penyelesaian isu tarif dan non-tarif yang masih tertunda. Selain itu, mekanisme tersebut mendukung perluasan akses pasar serta fasilitasi perdagangan dan investasi. Kedua negara juga memperkuat kerja sama di sektor keuangan, ekonomi digital, industri, dan rantai pasok. Mereka menjalankan seluruh upaya tersebut dengan tetap menghormati regulasi domestik dan prioritas pembangunan masing-masing negara.
Kedua pemimpin menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi di sektor mineral kritis dan logam tanah jarang. Mereka menekankan pengembangan rantai pasok yang lebih beragam, tangguh, dan stabil. Hal ini penting untuk mendukung manufaktur domestik, mengurangi kerentanan, dan meningkatkan ketahanan ekonomi. Para pemimpin mengapresiasi kerja sama kedua negara yang terus berkembang di bidang logam tanah jarang. Dalam konteks itu, mereka menyambut penandatanganan MoU antara NFTDC, Midwest Ltd., dan PT PERMINAS. Para pemimpin juga mengapresiasi penandatanganan Nota Kesepahaman mengenai kerja sama di bidang mineral serta teknologi rantai pasok baja. Selain itu, mereka menyambut baik pembentukan usaha patungan strategis antara Steel Authority of India Ltd. (SAIL) dan PT Krakatau Steel untuk menjajaki pembangunan fasilitas manufaktur slab baja tahan karat di Indonesia.
Kedua pemimpin menyambut perkembangan penerapan pedoman Transaksi Mata Uang Lokal antara Bank Sentral India dan Bank Indonesia. Mereka mencatat langkah ini mendukung peningkatan perdagangan dan investasi antara India dan Indonesia. Langkah tersebut juga memperkuat integrasi keuangan di antara kedua perekonomian.
Produk Kesehatan
Kedua pemimpin mencatat pentingnya Jaringan Kerja Sama Merah dan Putih sebagai platform pendukung distribusi logistik di Indonesia. Platform ini juga mencakup pengiriman produk farmasi dan alat kesehatan dari kedua negara. Mereka menegaskan komitmen memperkuat kerja sama kesehatan sesuai hukum dan peraturan domestik masing-masing negara. Mereka juga menyambut penandatanganan Kesepakatan Pelaksanaan tentang Pengembangan Tenaga Kerja Kesehatan Profesional. Kesepakatan ini akan memperdalam kerja sama melalui fasilitasi beasiswa dan program peningkatan keterampilan bagi tenaga kesehatan. Kerja sama juga mencakup pelatihan klinis langsung pada spesialisasi medis serta pertukaran profesional dan ahli kesehatan. Kedua negara turut berbagi praktik terbaik dalam kedokteran dan layanan kesehatan. Mereka juga melaksanakan kegiatan kolaboratif lain yang mereka sepakati bersama. Selain itu, mereka mendesak penyelesaian MoU antara BPOM dan FSSAI mengenai kerja sama regulasi produk makanan olahan.
Para pemimpin sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang ketahanan pangan dan gizi dengan tetap menghormati kebijakan domestik masing‑masing negara. Mereka menyambut inisiatif peningkatan kolaborasi di sektor pertanian dan ketahanan pangan—termasuk perdagangan produk pertanian, penelitian bersama, inovasi dan pertukaran pengetahuan—untuk mendukung sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan tangguh. Para pemimpin mengharapkan kedua pihak segera menyelesaikan Nota Kesepahaman tentang kerja sama pertanian dan sektor terkait. Mereka juga meminta kedua negara memperpanjang MoU mengenai Kerja Sama Kelautan dan Perikanan tanpa penundaan. Para pemimpin mengapresiasi kerja sama yang tengah berlangsung di sektor farmasi dan produk medis. Mereka menyambut penandatanganan Nota Kesepahaman antara CDSCO dan BPOM tentang kerja sama regulasi produk medis. Para pemimpin sepakat memperkuat kerja sama di sektor pupuk. Mereka juga menekankan pentingnya menjamin ketersediaan pupuk yang stabil, terjangkau, dan dapat diandalkan di tengah dinamika pasar global.
Keamanan Energi
Kedua pihak menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama, penelitian bersama dan peningkatan kapasitas di bidang keamanan energi—termasuk energi konvensional serta energi baru dan terbarukan—sesuai kesepakatan, dan menyambut perluasan kolaborasi pada sektor seperti LNG, hidrogen hijau, bioenergi, energi surya dan teknologi efisiensi energi. Kedua pemimpin menegaskan pentingnya memperkuat konektivitas maritim dan udara antara kedua negara, serta mendorong perluasan rute penerbangan dan penguatan hubungan antar pelabuhan. Mereka berharap dapat mengadakan Pertemuan Gugus Tugas Gabungan ketiga tentang Konektivitas Andaman‑Aceh pada paruh kedua 2026 dan meminta agar rencana aksi yang disepakati segera dilaksanakan.
Presiden Prabowo menyambut positif minat India untuk bermitra dalam pengembangan terpadu Pelabuhan Sabang. Kedua pemimpin menyatakan bahwa kemitraan tersebut—yang meliputi fasilitas wisata kapal pesiar dan kegiatan bahari, industri maritim seperti perbaikan dan pembuatan kapal serta layanan darat yang mendukung operasi energi lepas pantai di Laut Andaman—akan mendorong perkembangan institusional, infrastruktur fisik dan digital serta arus orang dan barang antara Kepulauan Andaman dan Nicobar di India dengan provinsi-provinsi di Pulau Sumatra. Kerja sama ini diharapkan menghasilkan investasi, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi dan kemakmuran regional bersama. Mereka meminta otoritas terkait menyusun ruang lingkup, modalitas dan skema pembiayaan proyek sesuai rencana pembangunan Indonesia dan peraturan yang berlaku, dalam jangka waktu yang ditetapkan dan dengan prinsip saling menguntungkan. Kedua pemimpin mengapresiasi peluncuran Indonesia Open Network (ION), yang dikembangkan berdasarkan arsitektur Open Network for Digital Commerce (ONDC) dari India, sebagai langkah untuk memperluas keterlibatan UMKM Indonesia dalam ekonomi digital melalui jaringan digital.
Kedua pemimpin menyambut kemajuan dalam pelaksanaan Penghubungan Pembayaran QR Lintas Batas antara India dan Indonesia yang disepakati oleh Reserve Bank of India dan Bank Indonesia. Inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat konektivitas pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi transaksi, memperkuat ketahanan keuangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, terutama dengan mendukung UMKM, sektor pariwisata dan pelajar.
Teknologi Telekomunikasi
Kedua pemimpin menyambut penandatanganan Nota Kesepahaman tentang kerja sama di bidang teknologi dan layanan telekomunikasi antara India dan Indonesia, yang diharapkan memperkuat kolaborasi pada sektor telekomunikasi dan konektivitas digital untuk mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif serta percepatan transformasi digital. Presiden Prabowo mengakui peran signifikan India dalam pelestarian keanekaragaman hayati dan mengapresiasi inisiatif Perdana Menteri Modi terkait Aliansi Kucing Besar Internasional (IBCA). Perdana Menteri Modi menyambut baik niat Indonesia untuk bergabung dengan IBCA sesuai prosedur domestik yang berlaku, seraya menyoroti inisiatif Indonesia seperti Pusat Mangrove Dunia (WMC) dan Pusat Lahan Gambut Tropis Internasional (ITPC), yang mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama global dalam konservasi keanekaragaman hayati, mangrove dan lahan gambut.
Menyadari kerentanan kedua negara terhadap bencana alam maupun buatan manusia, para pemimpin menegaskan perlunya memperkuat kolaborasi dalam manajemen bencana. Mereka menyambut penandatanganan Nota Kesepahaman antara otoritas manajemen bencana nasional yang bertujuan memperdalam kerja sama melalui pertukaran informasi, pengalaman dan praktik terbaik; peningkatan kapasitas serta pelatihan untuk respons, pemulihan, mitigasi dan kesiapsiagaan; pemanfaatan data untuk mitigasi yang lebih efektif; serta pengembangan infrastruktur yang tahan bencana. Para pemimpin juga menyoroti peran penting Koalisi untuk Infrastruktur yang Tahan Bencana (CDRI) dalam mendorong kerja sama internasional untuk pengurangan risiko bencana dan peningkatan ketahanan. Para pemimpin menyatakan dukungan atas penyelenggaraan Pertemuan Komisi Gabungan pertama terkait Sains dan Teknologi pada 12 Agustus 2025, serta atas ditandatanganinya MoU tentang Kerja Sama Penelitian, Teknologi dan Inovasi antara India dan Indonesia.
Kedua pemimpin menyampaikan kepuasan atas berlanjutnya kerja sama di bidang keantariksaan antara Organisasi Penelitian Antariksa India (ISRO) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta atas penyelenggaraan Pertemuan Komisi Gabungan ke-6 mengenai Kerja Sama Ruang Angkasa yang berlangsung di India pada 24–25 Juni 2026. Mereka juga menyambut baik penandatanganan perpanjangan Perjanjian Kerangka Kerja tentang Kerja Sama Eksplorasi dan Pemanfaatan Ruang Angkasa untuk Tujuan Damai antara India dan Indonesia.
Program Satelit
Perdana Menteri Modi menyampaikan penghargaan kepada Presiden Prabowo atas kerja sama Indonesia yang terus berlanjut dalam mendukung program satelit dan wahana peluncuran India, termasuk Misi Gaganyaan, melalui skema kolaborasi BRIN-ISRO serta Fasilitas Telemetri, Pelacakan dan Komando (TTC) Biak. Sementara itu, Presiden Prabowo mengapresiasi dukungan India dalam peluncuran satelit Indonesia, pelatihan bagi pejabat Indonesia melalui Pusat Pendidikan Teknologi Sains Antariksa di Asia dan Pasifik (CSSTEAP), serta kerja sama antariksa ASEAN-India. Presiden Prabowo juga menyambut baik kolaborasi pada tingkat ekosistem antariksa kedua negara dalam proyek pelabuhan antariksa di Indonesia. Kedua pemimpin mencermati berlangsungnya pembahasan mengenai kerja sama pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai antara kedua negara, yang diharapkan dapat semakin memperkuat kolaborasi dalam bidang penelitian, pengembangan kapasitas dan keselamatan nuklir. Mereka juga menyambut baik berbagai upaya untuk mendorong pemanfaatan energi nuklir sipil, termasuk kemajuan regulasi dan teknologi terkait, serta penerapannya di sektor industri, kedokteran nuklir, pertanian dan pengelolaan air.
Kedua pemimpin menyambut positif peluncuran proyek dukungan India untuk restorasi dan konservasi Kompleks Candi Prambanan di Yogyakarta, yang berstatus sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, oleh Survei Arkeologi India (ASI). Indonesia juga menyampaikan penghargaan atas kontribusi Museum Nasional India berupa replika Lempeng Tembaga Nalanda asli, yang berasal dari sekitar tahun 860 Masehi dan diukir menggunakan aksara Devanagari serta bahasa Sanskerta, yang kini menjadi bagian dari koleksi museum baru di Muaro Jambi. Selain itu, kedua pemimpin mengingat kembali prinsip-prinsip Jalur Budaya Kashi yang diadopsi pada Pertemuan Menteri Kebudayaan G20 di Varanasi pada Agustus 2023, dan mencatat perlunya konsultasi berkelanjutan antara kedua pemerintah dalam isu-isu warisan budaya, sesuai dengan hukum dan prosedur nasional masing-masing serta dilandasi semangat persahabatan dan penghormatan timbal balik.
Warisan Intelektual
Kedua pemimpin menegaskan pengakuannya atas warisan intelektual yang berkelanjutan serta kesamaan visi pendidikan Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara. Pertukaran gagasan antara kedua tokoh tersebut dinilai telah memberikan landasan penting bagi hubungan budaya dan pendidikan antara India dan Indonesia. Sehubungan dengan itu, kedua pihak sepakat menetapkan tahun 2026 hingga 2027 sebagai Tahun Diplomasi Budaya dan Pendidikan Tagore-Dewantara India-Indonesia. Peringatan ini sekaligus menandai 100 tahun kunjungan Rabindranath Tagore ke Indonesia pada tahun 1927, melalui rangkaian program selama satu tahun yang mencakup kerja sama budaya, pendidikan, akademik serta pertukaran antarmasyarakat di kedua negara. Dengan menyoroti peran strategis pariwisata sebagai sarana untuk mempererat hubungan antarmasyarakat, kedua pemimpin menegaskan komitmen bersama untuk semakin memperkuat kerja sama di sektor pariwisata serta mendorong peningkatan kunjungan timbal balik antara kedua negara. Mereka juga sepakat untuk melanjutkan pembahasan mengenai langkah-langkah penyederhanaan kemudahan perjalanan dan fasilitasi visa di masing-masing negara.
Kedua pemimpin menyoroti kemajuan kerja sama yang berkelanjutan di bidang pendidikan dan mendorong kedua negara untuk memperluas kemitraan akademik maupun kelembagaan, termasuk melalui pertukaran pelajar. Selain itu, mereka mendorong percepatan penyelesaian MoU tentang Kerja Sama di bidang Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam upaya memperkuat hubungan bilateral, kedua pemimpin kembali menegaskan pentingnya kerja sama di bidang pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka mendorong kedua negara untuk memperluas kolaborasi yang memberikan manfaat bersama, antara lain melalui pertukaran akademisi, penelitian bersama, berbagi pengetahuan, peningkatan kapasitas, kemitraan antarlembaga serta program lain yang berkontribusi pada pengembangan sumber daya manusia. Kedua pemimpin berharap MoU mengenai kerja sama di bidang pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat segera ditandatangani. Presiden Prabowo turut menyambut positif meningkatnya ketertarikan institusi pendidikan tinggi terkemuka India untuk mendirikan kampus cabang di Indonesia, termasuk rencana pendirian kampus Indian Institute of Management.
Bidang Kepemiluan
Para pemimpin menyoroti kerja sama yang terus berlanjut antara Komisi Pemilihan India dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Indonesia dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan tata kelola serta pemanfaatan teknologi di bidang kepemiluan. Mereka juga mengapresiasi penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua komisi pemilihan mengenai kerja sama dalam manajemen dan penggunaan teknologi pada penyelenggaraan pemilihan umum. Para pemimpin mengapresiasi usulan kolaborasi antara Kementerian Statistik dan Pelaksanaan Program (MOSPI) India dan Badan Pusat Statistik (BPS), khususnya dalam pengembangan statistik resmi, peningkatan kapasitas kelembagaan dan kerja sama strategis.
Merespons perkembangan geopolitik terkini, disrupsi ekonomi dan rantai pasokan, serta isu-isu global yang menjadi kepentingan bersama, kedua pemimpin menggarisbawahi perlunya penyelarasan strategis yang lebih kuat dan koordinasi yang lebih intensif antara India dan Indonesia dalam forum regional dan multilateral, termasuk di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan khususnya. Upaya tersebut ditujukan untuk mendukung pembentukan tatanan dunia yang lebih adil, seimbang dan representatif berdasarkan hukum internasional, dengan berpijak pada prinsip perdamaian, stabilitas, kerja sama dan kemakmuran di kawasan serta sekitarnya. Kedua pihak menegaskan kembali komitmen bersama terhadap penghormatan atas kedaulatan dan integritas wilayah, serta menekankan pentingnya menjunjung keberagaman budaya dan agama, pluralisme dan supremasi hukum sebagai dasar bagi perdamaian, stabilitas serta kemitraan yang saling menguntungkan. Sejalan dengan itu, kedua pemimpin mengakui peran Kerja Sama Selatan-Selatan yang semakin meningkat dan sepakat memperkuat kerja sama guna memperkokoh suara Global Selatan.
Reformasi Substantif
Kedua pemimpin menyatakan komitmen bersama untuk mendorong reformasi substantif terhadap lembaga-lembaga internasional agar lebih mencerminkan dinamika geopolitik saat ini serta lebih responsif terhadap aspirasi negara-negara Selatan. Keduanya kembali menekankan pentingnya reformasi dan perluasan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa secara menyeluruh, baik untuk kategori anggota tetap maupun tidak tetap, melalui proses negosiasi antarpemerintah yang inklusif, dipimpin oleh negara-negara anggota dan mencakup negosiasi berbasis teks. Dalam semangat saling mendukung yang kuat di forum multilateral, kedua pemimpin juga membahas dukungan timbal balik terhadap berbagai pencalonan di tingkat internasional. Para pemimpin juga mengakui urgensi pembaruan dalam arsitektur keuangan global dan pentingnya menjaga sistem perdagangan internasional yang berdasarkan aturan, berkeadilan, terbuka dan inklusif, dengan WTO sebagai pusatnya. Sistem tersebut diperlukan untuk merespons tantangan yang muncul dari praktik non-pasar, pemusatan rantai pasokan dan akses pasar yang tidak menentu.
Indonesia menegaskan kembali dukungan penuh terhadap keketuaan India di BRICS pada 2026, dan India menyatakan kesediaannya untuk mendukung peran Indonesia sebagai negara anggota BRICS. Kedua pemimpin juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama dan keterlibatan dalam forum-forum utama seperti BRICS, G20 dan IORA, sebagai bagian dari upaya bersama untuk mendorong tata kelola global yang lebih berkeadilan dan pembangunan yang berkelanjutan. Merujuk kembali pada Visi Bersama Kerja Sama Maritim India-Indonesia di Indo-Pasifik yang diumumkan pada 2018, kedua pemimpin menegaskan kembali komitmen mereka untuk mewujudkan kawasan Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, transparan, berbasis aturan, damai, makmur dan inklusif. Para pemimpin menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah, kepatuhan pada hukum internasional termasuk UNCLOS 1982, serta perlindungan atas kebebasan navigasi dan penerbangan. Dalam hal ini, mereka juga menyerukan penahanan diri dari ancaman maupun penggunaan kekerasan, serta penguatan dialog dan kerja sama.
Arsitektur Kawasan
Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi atas dukungan India yang konsisten terhadap persatuan ASEAN serta sentralitas ASEAN dalam arsitektur kawasan yang terus berkembang demi terwujudnya perdamaian, stabilitas dan kemakmuran regional. Kedua pihak mendukung penguatan lebih lanjut Kemitraan Strategis Komprehensif ASEAN-India, yang melengkapi hubungan bilateral dengan masing-masing negara anggota ASEAN. Mereka juga mendorong pendalaman sinergi melalui langkah konkret antara Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik (AOIP) dan Inisiatif Samudra Indo-Pasifik (IPOI) India. Selain itu, kedua pemimpin menyambut positif pelaksanaan kerja sama trilateral India, Indonesia, dan Australia yang dinilai efektif. Mereka turut membahas kemungkinan pengembangan kolaborasi, antara lain dalam kesadaran domain maritim, penanganan pencemaran laut, ekonomi biru serta melalui kerangka KTT Asia Timur (EAS), Inisiatif Samudra Indo-Pasifik (IPOI) dan Asosiasi Lingkar Samudra Hindia (IORA).
Para pemimpin menyampaikan keprihatinan mendalam atas perkembangan situasi di Asia Barat/Timur Tengah serta dampak global yang ditimbulkannya. Mereka menyambut baik penandatanganan Nota Kesepahaman pada 17 Juni 2026, seraya menekankan pentingnya deeskalasi dan menegaskan kembali bahwa seluruh permasalahan perlu diselesaikan melalui dialog dan diplomasi. Kedua pemimpin juga memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya penghormatan terhadap kebebasan navigasi, kelancaran arus perdagangan global serta pelaksanaan jalur transit melalui Selat Hormuz sesuai dengan hukum internasional, termasuk ketentuan UNCLOS. Perdana Menteri Narendra Modi menyampaikan penghargaan yang tulus kepada Presiden Prabowo Subianto atas sambutan hangat dan keramahan istimewa yang diberikan kepada dirinya beserta delegasi selama kunjungan tersebut. Seraya menyampaikan doa bagi kemakmuran dan kemajuan rakyat Indonesia yang bersahabat, Perdana Menteri Modi juga menyampaikan undangan hangat kepada Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan kunjungan ke India pada waktu yang akan disepakati bersama.