Perusahaan alat pertahanan milik negara, PT Pindad, meluncurkan backhoe pertamanya bernama Pindad Escava 200 pada Kamis, 10 September. Peluncuran ini menandai tonggak penting bagi perusahaan yang memasuki sektor alat berat. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono menghadiri acara tersebut. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan serta sejumlah pejabat Kementerian BUMN juga hadir. Direktur Utama Pindad, Silmy Karim, mengatakan kehadiran Excava 200 menegaskan komitmen perusahaan mendukung program pembangunan pemerintah dan kerja sama antar-BUMN. PT Pindad dan Kementerian PUPR menutup acara dengan menandatangani kerja sama, dan kementerian itu berkomitmen membeli peralatan tersebut.
Ia mengatakan Pindad menerima pesanan 500 unit dari Kementerian PUPR dan 100 unit dari Menteri BUMN untuk anggaran 2016. Silmy mengatakan Excava 200 muncul atas inisiatif beberapa menteri kabinet, termasuk Menteri PUPR, Menteri Perindustrian, dan Menteri BUMN. Inisiatif ini terwujud setelah Presiden Joko Widodo meminta Pindad meningkatkan produksi peralatan militer dan non-militer saat berkunjung ke perusahaan. Dia menyebut alat berat sebagai salah satu produk non-militer. Silmy menyatakan para ahli Pindad tak mengalami kendala teknologi atau desain dalam memproduksi peralatan ini, dan menambahkan Pindad sudah mengekspor gigi bucket untuk ekskavator bermerek dalam negeri.
Kandungan Lokal
Ia menjamin bahwa kandungan komponen lokal pada produk Pindad bisa mencapai 60%. Untuk pengembangan lanjutan, Pindad berencana menginvestasikan hingga Rp300 miliar dan menjual ekskavator seharga Rp1,2–1,3 miliar per unit. Dia mengatakan bahwa sejauh ini Pindad baru memproduksi satu unit, namun tahun depan akan memulai produksi massal untuk memenuhi pesanan kedua kementerian pada anggaran 2016. Menteri Basuki menyambut produk ini dan menyatakan instansinya akan membutuhkan banyak ekskavator; ia berharap Pindad bisa memenuhi kebutuhan tersebut mulai tahun depan. Ia menambahkan bahwa pengiriman pertama diharapkan berlangsung pada Februari.
Ia menyatakan produk ini juga akan dibutuhkan oleh pemerintah kabupaten dan kota. Dia mengatakan pihaknya memesan 500 unit, padahal jumlah kabupaten/kota di Indonesia lebih dari 500, dan berharap produk ini mampu memenuhi kebutuhan di wilayah timur Indonesia. Menteri Ryamizard menyatakan bahwa alat berat buatan Pindad bisa dimanfaatkan TNI untuk operasi non-tempur. Ia menyatakan TNI juga memerlukan alat tersebut, terutama untuk satuan zeni, namun harus menunggu antrean. Saat ini Pindad lebih dulu memenuhi pesanan Kementerian PUPR dan Kementerian BUMN, sementara TNI akan menyusul; kebutuhan TNI akan alat berat ini sangat besar.