Upaya Pertama Jokowi dalam Reformasi Ekonomi Dinilai Gagal

mengumumkan paket reformasi menyeluruh

Presiden Joko Widodo mengumumkan paket reformasi menyeluruh untuk menekan inflasi dan menstabilkan nilai tukar. Paket ini merangsang permintaan melalui deregulasi dan bantuan langsung. Selain itu, paket juga memprioritaskan penciptaan lapangan kerja bagi UKM. Paket juga menargetkan komunitas perkotaan dan pedesaan. Reformasi ini mulai berlaku pada Selasa, 15 September 2015.

Paket ini berskala luas dan meliputi banyak inisiatif pemerintah yang sudah berjalan. Paket ini termasuk dalam rangkaian paket lain sehingga cenderung berperan sebagai pelengkap. Namun jelas bahwa paket deregulasi ini berbeda dari yang pemerintah umumkan pada akhir 1980-an saat kondisi ekonomi serupa. Kini penekanannya lebih pada dukungan sektor publik dan peningkatan permintaan, bukan reformasi pasar untuk meningkatkan daya saing.

Kita harus menempatkan reformasi dalam konteksnya. Indonesia tidak menghadapi krisis ekonomi besar saat ini. Pertumbuhan melambat tetapi tetap relatif stabil. Otoritas berhasil menjaga inflasi yang tinggi tetap terkendali. Pasar tenaga kerja tetap stabil tanpa guncangan besar. Laju pertumbuhan kini lebih rendah daripada pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Kondisi makroekonomi juga lebih lemah daripada hampir 12 bulan lalu. Perbandingan itu merujuk pada periode ketika Jokowi menjabat hampir setahun lalu.

Pertumbuhan ekonomi sekitar 4,5%, turun dari 5–6% pada tahun-tahun sebelumnya. Inflasi tahunan hampir 7% pada Agustus 2015, lebih tinggi daripada hampir semua negara tetangga dan mitra dagang. Pelemahan rupiah di bawah Rp14.000 per dolar AS pada Agustus mengingatkan publik pada trauma krisis Asia 1998.

Bank Indonesia mengusulkan serangkaian reformasi untuk menurunkan inflasi dan menstabilkan nilai tukar. Reformasi memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengendalikan harga lokal dan mengatur harga daging sapi. Bank Indonesia juga meredam volatilitas rupiah melalui intervensi di pasar sekunder dan pasar obligasi. Paket ini tidak membahas larangan impor dan pengendalian beberapa komoditas pangan pokok secara langsung. Untuk meningkatkan pasokan devisa domestik, Bank Indonesia mengizinkan warga asing membuka rekening mata uang asing hingga $50.000.

Luas dan Ambisius

Program deregulasi yang pemerintah luncurkan terlihat luas dan ambisius, bertujuan memangkas tumpang tindih aturan; sebagian besar kebijakan ini sudah pemerintah rancang beberapa bulan sebelumnya, dan tantangannya adalah seberapa cepat kebijakan tersebut bisa pemerintah implementasikan mengingat proses penyusunan undang-undang memerlukan waktu.

Pemerintah juga mempertimbangkan intervensi langsung dengan mempercepat dan memperluas proyek strategis nasional yang ada melalui reformasi administrasi serta menambah investasi negara di sektor properti.

Inisiatif baru untuk mendorong belanja dan menciptakan lapangan kerja mendapat sambutan positif, namun belum jelas apakah reformasi yang pemerintah rencanakan mampu mengatasi PHK di sektor yang terpukul oleh penurunan harga internasional atau kehilangan daya saing. Pertengahan 2015 menunjukkan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja yang cepat. Setelah bertahun-tahun penurunan pengangguran dan pemulihan pekerjaan formal, pertumbuhan lapangan kerja rata-rata 2012–2014 turun menjadi kurang dari 1% per tahun, sementara angkatan kerja tumbuh hampir 2% per tahun. PHK besar-besaran tercatat di industri batu bara dan di sektor manufaktur sekitar Jakarta.

Pemerintah memperkirakan kenaikan ambang bebas pajak dari Rp2,4 juta menjadi Rp3,6 juta akan meningkatkan permintaan jangka pendek, terutama di kalangan hampir seluruh pekerja tak terampil. Selain itu, kredit bersubsidi pemerintah untuk UKM dan eksportir serta subsidi bagi perusahaan yang terancam PHK akan mendorong penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.

Pemerintah akan membiayai program upah tunai untuk pekerjaan di tingkat komunitas melalui Dana Desa yang besar, gagasan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri. Inisiatif pro‑rakyat miskin itu juga mencakup tambahan dua bulan subsidi beras untuk rumah tangga miskin. Pemerintah juga menjanjikan skema pengurangan biaya bahan bakar bagi nelayan serta dukungan bagi industri pembuatan kapal yang sedang mengalami kesulitan.

Kebijakan Inkonsisten

Guncangan di pasar valuta dan saham pada 24 Agustus 2015 jelas memicu kepanikan pemerintah setelah berbulan-bulan menerapkan kebijakan yang inkonsisten. Pemerintah tampaknya bermaksud memulihkan kepercayaan dan menarik lebih banyak investasi melalui paket reformasi baru ini. Namun hingga kini bukti bahwa langkah tersebut mencerminkan komitmen jangka panjang terhadap keterbukaan dan deregulasi masih minim; reformasi ini berisiko hanya menjadi reaksi cepat terhadap gejolak keuangan jangka pendek.

Apa yang bisa diharapkan dari paket awal ini? Paket ini diharapkan memulihkan kepercayaan pasar uang dan investor terhadap kabinet hasil perombakan Agustus, khususnya tim ekonomi di bawah Darmin Nasution. Namun kekhawatiran tetap ada karena upaya nyata untuk meningkatkan daya saing internasional belum tampak; solusi lama yang populer namun sulit dilaksanakan, seperti kredit bersubsidi untuk UKM dan dukungan bagi koperasi, kembali muncul.

Pemerintah seringkali lebih banyak mengumumkan kebijakan daripada mengeksekusinya, sehingga hal ini perlu diwaspadai. Investor menginginkan bukti komitmen dan konsistensi reformasi agar kondisi dapat membaik dalam jangka menengah hingga panjang. Pemerintah kerap mundur di bawah tekanan kritik—misalnya pembatalan rencana penyesuaian harga bahan bakar sesuai harga internasional pada awal 2015—serta terlihat dari kuota impor daging yang berfluktuasi dan perubahan aturan tentang pekerja asing dan bijih mineral. Diharapkan paket pertama Jokowi menjadi langkah awal untuk membalikkan keadaan.

Visited 11 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *