Penelitian terbaru menunjukkan bahwa menjaga kelestarian hutan bakau dapat berkontribusi signifikan dalam upaya dunia menghadapi perubahan iklim.
Studi terbaru di jurnal Nature Climate Change menemukan menghentikan deforestasi hutan bakau dapat menurunkan emisi gas rumah kaca. Peneliti memperkirakan penurunan sebesar 10 hingga 31 persen.
Dampaknya akan terasa secara global, mengingat Indonesia termasuk dalam jajaran negara dengan tingkat emisi gas rumah kaca tertinggi. Data Komisi Eropa 2012 menempatkan Indonesia di posisi ke-12 dunia. Indonesia berada di bawah China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, namun sedikit lebih tinggi dari Australia.
Penelitian ini mengungkap industri udang berskala besar mendorong deforestasi hutan mangrove. Nilainya mencapai $1,5 miliar per tahun. Perusahaan tambak mengubah sebagian besar kawasan mangrove menjadi lahan tambak udang.
Deforestasi menjadi persoalan serius baik di tingkat nasional maupun global. Berbagai studi menunjukkan kehilangan tutupan hutan di berbagai belahan dunia turut meningkatkan emisi gas rumah kaca global.
Mangrove Menyimpan Sepertiga Karbon Pesisir Global
Daniel Murdiyarso dan tim peneliti dari Centre for International Forestry Research (CIFOR) mengungkapkan hutan mangrove menyimpan sekitar 3,14 miliar metrik ton karbon, setara sepertiga cadangan karbon pesisir dunia.
Penelitian ini menyoroti pentingnya ekosistem mangrove karena memiliki laju pertumbuhan vegetasi yang cepat serta tanah tergenang yang bersifat anaerobik, yang memperlambat proses dekomposisi. Kombinasi ini memungkinkan mangrove menyimpan karbon dalam jumlah besar dan untuk jangka waktu yang lama. Bahkan, kapasitas penyimpanan karbonnya mencapai tiga hingga lima kali lebih tinggi daripada hutan hujan.
Dalam kurun waktu tiga puluh tahun terakhir, Indonesia telah mengalami penyusutan hutan bakau sebesar 40%.
Pada tahun 2005, luas hutan bakau tercatat sebesar 2,9 juta hektare, yang mewakili hampir 25% dari total ekosistem mangrove dunia. Perbandingan dengan data 1980 menunjukkan penurunan signifikan; luasnya saat itu mencapai 4,2 juta hektare.
Pemerintah menyatakan komitmennya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada tahun 2020.
Profesor Daniel menyatakan bahwa deforestasi hutan bakau menyumbang hampir 50% dari total emisi karbon global yang berasal dari degradasi ekosistem pesisir, seperti rawa-rawa, padang lamun dan mangrove. Di Indonesia sendiri, sekitar 52.000 hektare hutan bakau hilang setiap tahunnya.
Profesor Daniel menekankan pentingnya penelitian ini karena menunjukkan besarnya cadangan karbon yang tersimpan dan tingginya tingkat emisi.
Rahasianya Terletak pada Akar Mangrove yang Dalam
Para peneliti melakukan penilaian terhadap cadangan karbon yang tersimpan di 38 area hutan mangrove yang tersebar di delapan wilayah berbeda.
Para peneliti melakukan pengukuran terhadap kandungan karbon yang tersimpan di bagian daun dan akar mangrove. Profesor Daniel menjelaskan bahwa mangrove memiliki struktur akar yang sangat khas, menjulang di atas permukaan tanah.
Tim peneliti mengebor tanah sedalam dua hingga tiga meter untuk mengambil sampel, lalu menganalisisnya di laboratorium guna menilai kandungan karbon.
Tim peneliti menerapkan metode perubahan stok untuk memperkirakan emisi akibat penggunaan lahan dan menilai potensi langkah mitigasi.
Tien Wahyuni, peneliti dari Pusat Penelitian Dipterokarpa di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyampaikan bahwa ekosistem mangrove tengah menghadapi beragam bentuk ancaman.
“Hutan mangrove tengah dialihfungsikan menjadi area budidaya udang dan ikan. Selain itu, terdapat ancaman lain, khususnya di daerah perkotaan, di mana mangrove dirusak untuk proyek reklamasi yang mengubahnya menjadi kawasan perumahan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa penelitian terbaru mengenai mangrove memiliki nilai yang sangat penting. “Mangrove menyimpan biomassa dalam jumlah besar berkat sistem perakarannya yang menembus jauh ke dalam tanah,” ujarnya.