Pencarian Dihentikan untuk Bocah Spanyol

otoritas menutup operasi pencarian

Pada Jumat (9 Januari), otoritas menutup operasi pencarian penumpang terakhir hilang dari kapal wisata yang karam dua pekan sebelumnya.

Minggu ini, tim penyelamat menemukan bangkai kapal dan jenazah; petugas mengidentifikasi korban sebagai bocah Spanyol; keluarganya berlayar 26 Desember.

Anak laki-laki 10 tahun dari keluarga itu satu-satunya korban hilang akibat kapal tenggelam di Selat Padar, dekat Labuan Bajo.

Fathur Rahman menambahkan kepada wartawan SAR menutup operasi, namun petugas tetap memantau korban yang belum mereka temukan.

Dia menegaskan arus laut yang berubah-ubah mempersulit pencarian, sehingga petugas memperpanjang pencarian beberapa kali.

Fathur mengungkapkan bahwa keluarga korban sangat berterima kasih atas upaya maksimal para penyelamat.

Otoritas penyelamat mengevakuasi seorang ibu dari keluarga itu dan seorang gadis, di antara tujuh orang yang mereka selamatkan.

Pada pencarian terdahulu, para penyelamat menemukan jenazah ayahnya, Fernando Martin Carreras (44), yang berprofesi sebagai pelatih sepak bola, serta satu putri mereka.

Petugas lapangan mengonfirmasi menemukan jasad salah satu putranya bersama kapal tersebut pada Selasa.

Para petugas penyelamat menabur kelopak bunga di Selat Pulau Padar saat operasi pencarian mendekati penutupan.

Samuel Halundaka, Plt. Kepala BPBD setempat, menegaskan pihaknya melaksanakan tindakan ini sebagai penghormatan terakhir dan doa agar Tuhan menerimanya.

Dalam keterangan resmi Kamis malam, kepolisian setempat mengemukakan bahwa penyelidikan tengah berlangsung terhadap kapten kapal wisata dan seorang anggota awak atas kemungkinan perbuatan lalai yang mengakibatkan kematian.

Pengadilan dapat menjatuhkan hukuman penjara maksimal lima tahun kepada para terduga jika kesalahan terbukti sah.

Para penyidik menilai terdapat unsur perbuatan lalai dalam operasional kapal dimaksud, ungkap juru bicara Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur, Henry Novika Chandra.

Di Indonesia—negara kepulauan Asia Tenggara dengan estimasi 17.000 pulau—frekuensi kecelakaan maritim terbilang tinggi, yang lazimnya diatribusikan pada standar keselamatan yang tidak ketat atau kondisi meteorologis buruk.

Visited 11 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *