Penahanan Monyet Daun Berakhir Tragis bagi Upaya Konservasi

konservasionis melepas monyet daun

Para konservasionis melepas kelompok terakhir monyet daun abu-abu yang terancam punah di luar Indonesia ke habitat alaminya.

Yayasan Aspinall pekan lalu mengumumkan pemindahan monyet dari Taman Satwa Liar Howletts, Kent, Inggris. Mereka membawa monyet itu ke Proyek Primata Jawa di Indonesia. Perjalanan berlangsung lebih dari 11.000 kilometer.

Damian Aspinall, Ketua Aspinall Foundation, menegaskan bahwa manusia hanya merawat satu monyet daun beruban di luar Indonesia.

“Program pengembangbiakan kami berhasil dengan baik dan menjadi langkah penting bagi kelangsungan hidup spesies ini. Saat ini, kami sangat gembira bisa melepasnya kembali ke alam liar, habitat yang memang seharusnya mereka tempati.”

Yayasan Aspinall memulai Proyek Primata Jawa pada 2009. Mereka bermitra dengan pemerintah dan organisasi lokal menyelamatkan primata dari perdagangan ilegal. Tim merehabilitasi primata yang diselamatkan. Setelah pulih, mereka melepas primata itu kembali ke hutan lindung.

Ketika tujuh monyet daun beruban yang baru tiba—lima jantan dan dua betina—mulai menyesuaikan diri dengan habitat alaminya, para penjaga dari Howletts bersama ahli primata Indonesia akan mengawasi proses adaptasinya.

Made Wedana, Direktur Proyek Indonesia di Aspinall Foundation, menyatakan bahwa tim akan mengawasi monyet-monyet itu dengan ketat selama beberapa bulan. Ia menegaskan bahwa setelah dinilai siap, tim akan melepas mereka secara bertahap ke wilayah yang lebih luas hingga mereka dapat hidup bebas di hutan. Wedana menambahkan bahwa tim tetap akan memantau mereka meski sudah sepenuhnya kembali ke alam liar.

Matt Ford, kepala primata di Howletts, mengatakan bahwa meski mereka akan merindukan hewan ini di taman, pihaknya sangat meyakini pentingnya mengembalikannya ke habitat asli.

“Pada tahun lalu, kami telah mengirim enam monyet daun beruban ke Jawa, dan sangat mengagumkan menyaksikannya hidup di alam liar. Kini, saya menantikan saat kelompok ini menjelajahi hutan untuk pertama kalinya dan merasakan kehidupan barunya.”

Visited 12 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *