Orang sering menjuluki pulau ini sebagai Alcatraz versi Indonesia. Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, dua anggota Bali Nine, terlibat dalam kasus penyelundupan narkoba di sana. Pemerintah menjadwalkan regu tembak mengeksekusi mereka bulan ini jika pengajuan grasi kembali pemerintah tolak.
Orang sering menyebut Nusakambangan pulau berpenjara berkeamanan tinggi yang menampung teroris, pembunuh, pengedar narkoba, dan tahanan politik. Pulau itu menyimpan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati; ia menjadi bahtera bagi flora dan fauna langka yang terancam punah dan rumah bagi 23 spesies burung yang pemerintah lindungi.
Petugas biasanya membawa terpidana mati ke hutan lebat pada tengah malam dengan mata tertutup. Petugas kemudian mengarahkan mereka berdiri, duduk, atau berlutut sebelum mereka eksekusi. Regu tembak beranggotakan 12 orang menembakkan senjata serentak ke arah dada.
Regu tembak terdiri dari personel pasukan paramiliter. Jika tahanan masih menunjukkan tanda kehidupan setelah tembakan, komandan memberi tembakan tambahan ke kepala dari jarak dekat. Tindakan itu memastikan hukuman selesai.
Pada hari Rabu, Jaksa Agung HM Prasetyo menyatakan pihak berwenang akan memindahkan Chan dan Sukumaran. Petugas akan menerbangkan mereka ke Yogyakarta. Setelah itu mereka akan petugas angkut darat selama lima jam menuju Cilacap. Selanjutnya petugas menyeberangkan mereka dengan feri ke pulau eksekusi. Pemindahan dapat pemerintah lakukan paling cepat pada hari Jumat.
Petugas mengeksekusi lima warga asing bulan lalu di pulau sepanjang 30 kilometer dan lebar 7 kilometer. Pulau itu terpisah dari pesisir selatan Jawa Tengah oleh selat sempit.
Petugas menahan sekitar 2.000 narapidana di kompleks tujuh penjara berpagar tinggi. Sebagian besar narapidana mengenakan seragam penjara berwarna biru. Pemerintah kolonial Belanda membangun kompleks itu pada tahun 1908.
Setiap penjara dengan tingkat pengamanan tinggi berada dalam jarak empat kilometer satu sama lain. Penjara-penjara itu meliputi LP Besi, LP Terbuka, LP Kembang Kuning, LP Permisan, LP Pasir Putih, dan LP Narkotik. Masyarakat paling mengenal LP Batu di antara fasilitas tersebut.
Rencana Pelaksanaan
Pemerintah telah menetapkan rencana pelaksanaan 20 hukuman mati sepanjang tahun ini, sementara Kepolisian Daerah Jawa Tengah telah menyiagakan sebanyak 84 anggota regu tembak untuk mendukung proses tersebut.
Berbeda dengan Alcatraz yang terbengkalai di Teluk San Francisco, laut yang tenang mengelilingi Nusakambangan dan vegetasi pulau yang subur serta hijau menutupi pulau itu.
Petugas mengeksekusi dua warga Nigeria, Samuel Iwachekwu Okoye dan Hansen Antonious Nwaolisa, karena penyelundupan heroin tahun 2008.
Menurut laporan, petugas membawa mereka ke hutan hujan tropis terpencil pada tengah malam, mengikat pada tiang kayu berbentuk salib, lalu menembak mereka.
Menurut sebuah laporan, petugas menempatkan lokasi eksekusi Nirbaya sekitar tiga kilometer di selatan kompleks penjara. Petugas dan pengunjung mengaksesnya melalui jalan tanah sempit dan berkelok. Kebun jeruk mandarin mengelilingi kawasan itu.
Petugas mengeksekusi Amrozi bin Nurhasyim, saudaranya Mukhlas yang juga terkenal sebagai Ali Ghufron, dan Imam Samudra yang bernama lain Abdul Aziz lewat regu tembak setelah tengah malam sebagai hukuman atas pengeboman Bali yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga Australia.
Pada tahun 1996, pemerintah membuka pulau tersebut bagi masyarakat sebagai destinasi wisata untuk meningkatkan pemasukan negara.
Menurut laporan wartawan Agus Maryono pada tahun 2002, puluhan narapidana di Nusakambangan terlihat menjajakan berbagai barang dagangan, seperti cincin berhias batu yang telah dipoles, dengan penampilan yang tampak mencolok dan mengintimidasi.
“Para narapidana tampak bebas berjalan-jalan di sepanjang pantai, meskipun tetap berada dalam pengawasan sejumlah petugas penjara.”
Dalam laporan mengenai kunjungan terbarunya ke pulau tersebut, jurnalis Jayne Azzopardi melukiskan salah satu bagian pulau ini sebagai destinasi wisata yang menyerupai surga.
Ia menceritakan bahwa perahu nelayan kecil yang ditumpangi bergerak menuju sisi lain pulau, namun hanya sampai batas wilayah terlarang, tempat sopirnya tidak diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh.
Kamera Pengawas
Kamera pengawas tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan, memantau area sekitar. Sementara itu, sebuah perahu yang mengangkut petugas penjara merapat di dermaga.
Mark Forbes, mantan koresponden dari Fairfax, melakukan kunjungan ke Nusakambangan pada tahun 2008 dalam rangka hari terbuka khusus, ketika tengah meliput proses eksekusi terhadap para pelaku pengeboman Bali.
Ia mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut terasa agak tidak nyata. Meskipun harus melewati sejumlah pintu berjeruji dan berada di bawah pengawasan ketat, suasananya justru menyerupai liburan—dengan perjalanan menggunakan perahu, cuaca yang cerah, serta interaksi hangat penuh canda dan tawa dari orang-orang di sekitarnya.
“Tempat ini sama sekali tidak memberi kesan sebagai titik akhir bagi yang menunggu eksekusi.”
Tidak seperti Alcatraz yang dikenal sebagai penjara dengan keamanan tinggi, Nusakambangan telah mengalami sejumlah kasus pelarian narapidana. Pada bulan September 2001, lebih dari 90 pengungsi asal Afghanistan berhasil kabur menggunakan perahu nelayan.
Pada bulan Mei 2013, seorang penyelundup narkoba asal Malawi berhasil kabur dari pulau tempat hukuman dijalankan, yang kemudian memicu pelaksanaan eksekusi mati terhadap tiga terpidana kasus pembunuhan secara langsung.
Selama bertahun-tahun, sejumlah laporan jurnalis mengungkapkan bahwa telepon seluler dan berbagai barang terlarang lainnya kerap berhasil diselundupkan ke dalam lingkungan tahanan dengan relatif mudah.
Dalam sebuah kasus yang terjadi sekitar 10 tahun lalu, seorang sipir bernama Benni Irawan terbukti bersalah karena memberikan akses laptop kepada Imam Samudra, terpidana mati dalam kasus bom Bali.