Perjuangan Lama, Perlindungan Hutan Sumatra Kurang

menyetujui izin restorasi ekosistem

Pemerintah pada Rabu menyetujui izin restorasi ekosistem untuk lebih dari 44.000 hektare hutan dataran rendah Sumatra. Kawasan itu berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan penting untuk melindungi keanekaragaman satwa serta hutan terancam.

Setelah lama bersengketa, pemerintah memberi izin pengelolaan kepada PT Alam Bukit Tigapuluh. Koalisi organisasi lingkungan seperti WWF, FZS, The Orangutan Project, dan Rainforest Trust membentuk perusahaan nirlaba itu. Leonardo D’Caprio Foundation dan sejumlah pihak lain memberikan dukungan kepada perusahaan tersebut. Izin itu memungkinkan perusahaan melindungi dan memulihkan hutan yang rusak akibat penebangan dan perambahan. WWF menyatakan bahwa kegiatan yang pemerintah izinkan meliputi pemanfaatan rotan, penyadapan karet hutan, pemanenan tanaman obat, dan pengembangan ekowisata.

Pemerintah berharap program ini memberi perlindungan lebih baik bagi habitat penting di Bukit Tigapuluh. Habitat itu menjadi rumah bagi gajah, harimau, orangutan, badak, dan tapir yang langka. Wilayah ini kini menjadi semacam pulau yang terisolasi di tengah maraknya deforestasi di Sumatra. Berdasarkan data citra satelit, lebih dari separuh hutan dataran rendah di Sumatra telah hilang sejak tahun 1985.

Para pegiat konservasi menyambut pengembangan ini sebagai langkah positif pelestarian lingkungan. Karena kondisi hutan Sumatra semakin memprihatinkan, pegiat konservasi menganggap inisiatif ini penting.

“Sumatra berada di ambang krisis dalam upaya menyelamatkan keanekaragaman satwa liarnya. Paul Salaman, CEO Rainforest Trust, mengatakan banyak spesies ikonik menghadapi risiko kepunahan tanpa perlindungan memadai. “Pembelian lahan ini merupakan langkah penting menuju arah yang benar. Langkah ini membuktikan pihak terkait dapat mewujudkan perlindungan kawasan di Sumatra secara efisien dan terjangkau.

Leonardo D’Caprio mengatakan wilayah luar biasa ini, tempat gajah, orangutan, dan harimau hidup berdampingan, sangat rentan terhadap ancaman. Ia menyatakan upaya perlindungan ini membuktikan kolaborasi organisasi, pemerintah, dan individu bisa menciptakan masa depan bagi alam dan manusia. D’Caprio merupakan anggota dewan WWF sekaligus pendiri yayasan yang menyandang namanya.

Membantu Pelestarian

Para aktivis konservasi menyatakan bahwa proyek ini memiliki potensi besar untuk membantu pelestarian spesies tertentu, seperti gajah Sumatra yang wilayah jelajahnya telah menyusut drastis, serta orangutan yang kini terpaksa tinggal di pusat rehabilitasi akibat rusaknya habitatnya karena ekspansi industri kelapa sawit dan pulp.

“Gajah tidak akan mampu bertahan hidup jika hanya tinggal di wilayah perbukitan dalam taman nasional, karena keterbatasan sumber makanan,” ujar Leif Cocks, Presiden Yayasan Konservasi Ekosistem Hutan Sumatra (KEHUS), merujuk pada kondisi Bukit Tigapuluh—atau Thirty Hill—yang sebagian besar merupakan daerah pegunungan dengan sumber daya yang minim bagi gajah. Jika kita tidak menyelamatkan habitat dataran rendah, gajah Sumatra akan punah.

“Konsesi konservasi yang baru ini memberikan ruang tambahan bagi lebih dari 300 orangutan,” ujar Peter Pratje dari Frankfurt Zoological Society (FZS), yang bersama The Orangutan Project telah berhasil melepasliarkan 160 orangutan ke kawasan Bukit Tigapuluh.

Masyarakat lokal juga berpotensi memperoleh manfaat dari program ini, baik melalui perlindungan hutan yang menyediakan layanan ekosistem penting seperti akses terhadap air bersih, maupun lewat peluang ekonomi berkelanjutan. WWF mengatakan pada tahap kedua proyek perusahaan akan mengajak warga desa menjadi pemegang saham. Organisasi itu menyebut pendekatan ini sebagai model baru yang bisa pemerintah terapkan dalam upaya konservasi mendatang.

“Kita perlu menciptakan solusi yang cepat dan berskala besar untuk menghasilkan perubahan nyata. Proyek Bukit Tigapuluh memenuhi syarat tersebut,” kata Carter Roberts, Presiden dan CEO WWF-AS. “Inisiatif ini membawa kami dan para mitra ke wilayah baru, di mana kami menguji pendekatan berbasis bisnis untuk mengatasi masalah yang dipicu oleh mekanisme pasar. Meskipun ada risiko, inovasi seperti ini sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan kawasan seperti Bukit Tigapuluh, yang berisiko hilang jika kita tidak mencoba pendekatan baru.”

Menyelamatkan Hutan

Perubahan pendekatan dari metode konservasi tradisional menjadi sangat penting untuk menyelamatkan sisa hutan Sumatra, yang bahkan di dalam kawasan lindung pun telah mengalami kerusakan akibat aktivitas ilegal seperti penebangan liar, perambahan serta pertanian karet dan kelapa sawit. Sebagai contoh, kawasan Tesso Nilo yang berdekatan telah kehilangan lebih dari separuh tutupan hutannya, sebagian besar karena kebakaran yang disengaja untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit.

Masalah serupa tidak hanya terjadi di Sumatra—penelitian menunjukkan bahwa banyak kawasan lindung berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, terutama di daerah yang memiliki potensi tinggi untuk dijadikan lahan pertanian skala besar.

Visited 12 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *