Maroko: Sahabat Lama yang Kini Mengecewakan Indonesia

Indonesia sebagai sahabat dekat

Tak banyak yang menyadari bahwa sebuah negara di Afrika Utara menganggap Indonesia sebagai sahabat dekat, bak saudara. Meski jarang menjadi sorotan internasional, hubungan hangat antara Indonesia dan Maroko telah terjalin lebih dari 50 tahun dan kini meluas ke berbagai bidang.

Meskipun kedua negara baru menjalin hubungan diplomatik resmi pada 1960, ikatan mereka sudah berakar sejak abad ke-14 ketika penjelajah Maroko Ibn Batuta mengunjungi istana Kesultanan Samudra Pasai di Sumatra Utara. Hubungan modern menguat sejak Konferensi Asia-Afrika 1955, ketika pemerintah memberikan dukungan penuh bagi kemerdekaan Maroko.

Setelah menjalin hubungan diplomatik resmi pada 1960, Presiden Soekarno mengunjungi Rabat pada tahun yang sama. Namun hubungan sempat terganggu ketika Indonesia menutup kedutaannya di Rabat pada 1967 karena memburuknya situasi politik dalam negeri; Indonesia baru membuka kembali kedutaan itu pada 1985. Setahun kemudian, Maroko membuka kedutaannya di Indonesia.

Kebijakan politik pemerintah yang sering sejalan dengan Rabat kini semakin memperkuat ikatan politik kedua negara. Bukti utamanya adalah dukungan pemerintah terhadap Maroko dalam sengketa Sahara Barat yang melibatkan gerakan separatis.

Pada 2008, kedua negara menggelar pertemuan tingkat tinggi yang Menteri Luar Negeri pimpin sebagai wujud hubungan politik. Dalam pertemuan itu, kedua negara menandatangani beberapa perjanjian dan nota kesepahaman, termasuk kerja sama ekonomi, ilmiah, teknis, serta nota tentang kerja sama bilateral.

Pemerintah kedua negara menikmati hubungan yang erat. Pada 1990, Jakarta dan Casablanca menandatangani perjanjian kota kembar. Sebagai simbol kedekatan, otoritas Jakarta menamai sebuah jalan perbelanjaan terkenal Jalan Casablanca. Di Rabat, pemerintah menamai sebuah jalan Sukarno untuk mengenang kunjungannya pada 1960. Pada 2014, Provinsi Sumatra Barat menandatangani perjanjian provinsi kembar dengan wilayah Fes-Boulemane.

Hubungan Perdagangan

Selain hubungan politik, perdagangan antara Indonesia dan Maroko meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Maroko mengekspor fosfat, pupuk, bahan kimia, besi dan batang baja. Indonesia mengekspor kopi, barang pecah belah, rempah, teh, minyak sawit, furnitur dan pakaian jadi ke Maroko. Penting bahwa Maroko menguasai 75% cadangan fosfat dunia, bahan baku penting bagi produksi pupuk Indonesia. Untuk memperkuat hubungan ekonomi, pada 2013 kedua pemerintah sepakat membentuk komisi bersama untuk meningkatkan perdagangan dan investasi. Nota kesepahaman tahun yang sama mendorong kerja sama peningkatan kapasitas, pertukaran pelatihan dan peningkatan konektivitas bilateral.

Sejak 2010, pelaku bisnis Maroko rutin mengunjungi Indonesia setiap tahun untuk menghadiri Jakarta Fair. Pada 2013, Rabat menyelenggarakan forum bertema Peluang dan Tantangan Memperkuat Hubungan Perdagangan Indonesia–Maroko. Forum ini dihadiri beberapa menteri dan politisi Maroko, yang memanfaatkan acara untuk memamerkan produk unggulannya.

Pada Mei 2014, Pusat Islam untuk Pembangunan dan Perdagangan Maroko menginisiasi pertemuan untuk membahas penguatan hubungan bilateral. Pertemuan menitikberatkan pada promosi produk Indonesia di Maroko, terutama kerajinan tangan, agroindustri, tekstil, semen dan minyak. Forum semacam ini menunjukkan kedua negara melihat keuntungan dari kerja sama. Pada April dan Oktober 2014, dibuka Kantor Perwakilan Rumah Perdagangan Provinsi Jawa Barat dan Dewan Bisnis Maroko‑Indonesia di Maroko untuk mendorong perdagangan.

Kebijakan bebas visa membuat warga Indonesia dan Maroko lebih mudah saling mengunjungi, sehingga jumlah wisatawan meningkat. Kedua pemerintah memperkuat kerja sama pariwisata dengan bertukar pengalaman dan keahlian. Mereka juga mendorong kolaborasi antar operator tur dan menyelenggarakan misi eksplorasi untuk memberi manfaat bagi operator serta investor swasta.

Hubungan Antarwarga

Kerja sama meluas pula ke hubungan antarwarga, mencakup bidang agama, pendidikan dan budaya. Simbol hubungan keagamaan terlihat dari keberadaan Masjid Indonesia di Kenitra, Maroko. Bentuk kerja sama keagamaan lainnya berupa beasiswa: setelah penandatanganan MoU bidang agama pada 1994, Maroko memberikan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk mempelajari sastra Arab dan studi Islam di sejumlah universitas Maroko. Setiap tahun Agence Marocaine de Cooperation Internationale menyediakan dana bagi 15 mahasiswa Indonesia. Kerja sama pendidikan juga tercermin dalam MoU antara Pusat Studi Al Quran di Indonesia dan beberapa lembaga Islam di Maroko.

Universitas Negeri Jakarta menandatangani perjanjian dengan Universitas Mohammed V di Maroko untuk mengajar Bahasa Indonesia; mata kuliah ini sudah diajarkan sejak 2012. Sementara itu, IAIN Imam Bonjol Padang menjalin kesepakatan dengan Universitas Sidi Mohammed Ben Abdellah Fez untuk program pengajaran Bahasa Arab.

Di bidang kebudayaan, Maroko menyelenggarakan kegiatan seperti Festival Makanan Indonesia dan Les Journees de la Culture Asiatique. Beberapa institusi di Maroko juga mengadakan Hari Kebudayaan Indonesia tahunan.

Hubungan terus berkembang secara diam-diam; telah ada kontak untuk mengeksplorasi perluasan kerja sama di bidang pertanian, terutama penelitian dan pertukaran ahli. Mengingat kekuatan sektor pertanian Indonesia, bidang ini sangat berpotensi untuk dikembangkan bersama.

Kerja Sama Infrastruktur

Ada juga peluang memperluas kerja sama di bidang infrastruktur. Pada awal 2015, perusahaan konstruksi BUMN Indonesia, PT Wijaya Karya, mengumumkan rencana kerja sama dengan Bank Pembangunan Islam untuk mengerjakan proyek pusat perbelanjaan di Maroko.

Karena kemitraan yang kian berkembang memberi keuntungan bagi kedua pihak, Indonesia dan Maroko diperkirakan akan memperkuat kerja sama jangka panjang dalam beberapa tahun ke depan. Kerja sama itu berpotensi meluas ke sektor lain seperti hubungan militer dan pembiayaan mikro. Bagi Maroko, ikatan erat dengan Indonesia membuka akses ke produk konsumen berbiaya rendah dan aliran investasi asing yang dibutuhkan. Sebaliknya, Maroko menjadi pintu bagi Indonesia untuk menjangkau pasar konsumen yang menjanjikan bagi ekspor dan investasi, sekaligus menjadi jalur bagi perluasan pengaruh politik dan ekonomi ke Eropa.

Visited 8 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *