Rumah Indonesia: Kaum Muda yang Gagal Bergerak

warga Amerika keturunan Indonesia

Berdasarkan sensus 2010, jumlah warga Amerika keturunan Indonesia kurang dari 100.000. Angka itu relatif kecil mengingat Indonesia menempati peringkat keempat negara terpadat di dunia. Apa yang menyebabkan sedikitnya imigran dari Indonesia ke Amerika Serikat?

Salah satu penyebabnya adalah kurangnya komunitas khusus bagi warga keturunan Indonesia di AS. Ratusan kelompok etnis tidak selalu berkumpul menjadi komunitas yang kohesif. Orang sulit memindahkan tradisi, keyakinan, jaringan sosial, dan bahasa antarnegara. Jarak geografis ke belahan dunia lain memperburuk hambatan tersebut.

Organisasi Rumah Indonesia menyediakan fasilitas pembelajaran bagi orang Indonesia di Amerika untuk menjaga keterikatan emosional, kemampuan berbahasa, dan warisan budaya. Programnya mencakup pendatang sementara untuk kerja atau studi serta mereka yang telah memilih kewarganegaraan Amerika Serikat.

Berkat bantuan Dr. Maya Soetoro-Ng, Rumah Indonesia tahun lalu mengadakan pertemuan remaja keturunan Indonesia-Amerika membahas identitas, budaya, dan komunitas. Ariel Santikarma, 17 tahun, lahir di Princeton, New Jersey; ayahnya dari Bali dan ibunya warga Amerika Serikat, menceritakan pengalamannya.

“Saya menerima keberagaman komunitas dan identitas, lalu berusaha menjadi anggota yang aktif, terlibat, dan memberi manfaat di setiap komunitas. Pengalaman itu meningkatkan empati, toleransi, dan pemahaman saya terhadap berbagai latar belakang, serta mendorong tindakan inklusif agar semua suara menjadi perhatian.”

Anastasia Putri lahir di Jakarta. Sebagai anak dari dua orang tua berkebangsaan Indonesia, ia pindah ke Amerika Serikat ketika berumur 14 tahun. Ia kemudian menceritakan makna perjalanan hidupnya:

Perjalanan Hidup

“Saya menikmati hidup di berbagai komunitas. Seperti banyak imigran dan anak-anaknya, saya harus menyesuaikan diri dengan perbedaan kode budaya, dan awalnya saya kesulitan memahami bahwa norma tak tertulis di satu komunitas belum tentu berlaku di komunitas lain. Seiring waktu saya menyadari bahwa berpikiran terbuka adalah cara terbaik untuk menghadapinya, dan kuliah serta studi saya membangun rasa percaya diri itu. Identitas budaya saya yang kompleks saya pandang sebagai kekuatan, bukan penghalang.”

“Hidup di berbagai komunitas bukan sekadar keadaan; pengalaman ini membentuk siapa saya sekarang. Saya menjadi lebih mudah beradaptasi dan memiliki kepekaan intuitif dalam menghadapi situasi menantang, karena terbiasa berada di lingkungan di mana penilaian saya sering dipertanyakan oleh beragam komunitas budaya.”

Anastasia, Ariel dan Rumah Indonesia akan mengajak remaja serta pengunjung dewasa muda untuk berbagi pengalaman imigrasi mereka pada 10 Juli di tenda On the Move: Migration and Immigration Today. Sebelumnya, pada 4 Juli, pengunjung dapat mencoba angklung, alat musik perkusi dari bambu yang hanya menghasilkan melodi bila dimainkan bersama, sambil mengikuti irama lagu-lagu populer Amerika.

Visited 7 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *