Maleo: Dari Keunikan ke Ancaman Kepunahan

Keberhasilan konservasi jarang terjadi

Keberhasilan konservasi jarang terjadi. Sering kita menemui kegagalan: kepunahan lokal dan hilangnya keanekaragaman akibat eksploitasi demi keuntungan sempit. Beruntung nasib maleo berbeda; kisahnya menjadi contoh langka keberhasilan konservasi.

Menurut semua keterangan, maleo adalah burung yang unik mirip ayam. Bulu mereka dua warna: hitam pekat di atas dan merah muda lembut di bawah. Kepalanya botak dan berwarna mencolok; tonjolan bulat atau jambul menghiasi kepalanya. Orang sering menggambarkan jambul itu seperti helm sepak bola, kenari, atau kutu yang membengkak.

Maleo termasuk kelompok megapoda, yaitu burung pembuat gundukan. Keluarganya memiliki 26 spesies darat yang tersebar di kepulauan Australasia, banyak bersifat endemik per pulau.

Macrocephalon maleo adalah megapoda endemik Sulawesi, pulau terbesar keempat di Indonesia dan kesebelas di dunia. Sulawesi berada di sebelah timur Kalimantan dan terdiri dari empat semenanjung berujung pasir. Pulau ini memiliki hutan pedalaman yang terhubung ke rangkaian pegunungan tinggi.

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah spesies terancam punah tertinggi di dunia, termasuk maleo. IUCN menaikkan status maleo dari Rentan pada 2000 menjadi Terancam Punah pada 2002, dan status ini masih berlaku hingga kini. Perkiraan terbaru IUCN menempatkan populasi sekitar 4.000–7.000 pasang yang berkembang biak (sekitar 12.000–21.000 individu).

Belakangan ini nasib mereka mulai membaik secara signifikan—terutama karena kebiasaan perkembangbiakan burung yang unik dan meningkatnya perhatian orang terhadapnya.

Maleo tampak gemuk dan lincah, bertumpu pada kaki kuat yang memudahkan mereka melesat di semak hutan. Kaki itu juga berperan selain untuk berlari, misalnya menggali dan menstabilkan tubuh saat bertelur.

Mengerami Telur

Berbeda dari banyak jenis burung, megapoda seperti maleo tidak mengerami telurnya dengan panas tubuh; mereka menyerahkan proses ini pada alam. Sesuai namanya, mereka membuat gundukan besar di lantai hutan. Gundukan itu terdiri dari lapisan bahan vegetasi yang membusuk di bagian bawah. Induk menutupnya dengan tanah atau pasir, lalu meletakkan telur di antara kedua lapisan itu. Pembusukan vegetasi menghasilkan panas yang terperangkap oleh penutup tanah, sehingga telur ikut terinkubasi.

Beberapa spesies megapoda secara telaten merawat gundukannya—menambah atau mengurangi isinya untuk mengatur suhu—sedangkan maleo mengadopsi strategi yang berbeda.

Maleo di Sulawesi memanfaatkan panas alami—baik dari lubang hidrotermal maupun pasir yang dipanaskan matahari—untuk menginkubasi telurnya. Alih-alih membuat gundukan seperti megapoda lain, maleo justru menggali lubang. Sepasang burung bekerja sama menggali di lokasi bersarang yang sama. Pasangan lain sering mengelilingi mereka sambil juga menggali di dekatnya. Saat banyak pasangan berkumpul, suasana riuh: pasir beterbangan dan burung saling bersuara. Pemandangan itu seperti belasan pesta pernikahan berlangsung sekaligus.

Meski tampak kacau, penggalian maleo berlangsung terencana dan penempatan telur tidak sembarangan. Saat menggali, satu dari pasangan bekerja sementara pasangannya berjaga terhadap predator atau maleo pengganggu. Mereka juga mengukur suhu substrat dengan mencicipi pasir atau tanah menggunakan paruh. Setelah menemukan kantong tanah bersuhu sekitar 33°C dengan toleransi sekitar satu derajat, mereka berhenti. Betina lalu bertelur satu butir besar, menempatkannya tegak di dalam lubang. Mereka kemudian menutup lubang kembali.

Telur maleo jauh lebih besar daripada telur ayam, sekitar lima kali lipat dan mengandung dua kali lebih banyak kuning telur. Kandungan protein melimpah penting bagi anak yang menetas karena induk meninggalkan telur dan tidak merawatnya lagi. Peran orang tua berakhir begitu telur tertutup. Dalam dua sampai tiga bulan, pasangan maleo sering kembali ke lokasi bersarang yang sama. Mereka mengulangi siklus menggali, bertelur, menutup, lalu pergi berulang hingga belasan kali.

Setelah Inkubasi

Begitu menetas setelah masa inkubasi 60–90 hari, anak maleo segera berlari—benar-benar berlari.

Langkah pertama bagi anak maleo adalah menggali ke permukaan. Kadang mereka menembus tanah atau pasir hingga sekitar satu meter, pekerjaan berat yang bisa memakan waktu sampai dua hari. Setelah berhasil keluar, anak ini secara naluriah bergegas menuju hutan, berlari dan pada akhirnya bahkan terbang.

Iwan Hunowu, konservasionis maleo dari WCS, menyebut momen anak maleo muncul lalu terbang sebagai pemandangan menakjubkan. Perilaku luar biasa pada usia sangat muda menjadikan anak maleo salah satu bayi vertebrata paling matang secara fisik di dunia.

Seorang rekan Iwan, Matt Leggett, menceritakan bahwa anak maleo yang baru menetas menunjukkan ketangguhan luar biasa: “Anak pertama yang saya saksikan terbang lalu mendarat di sungai, berenang sekitar 10 meter melewati jeram besar, memanjat tebing seberang, lalu terbang lagi.” Cukup mengesankan untuk burung yang baru berusia dua hari.

Siklus hidup maleo yang khas—terutama ketergantungan penuh pada lokasi sarang komunal yang terbuka—membuatnya sangat rentan terhadap tekanan manusia. Penduduk desa Sulawesi sejak lama memanen dan menjual telur-telur bernilai protein tinggi tersebut. Selain perburuan, kerusakan habitat juga menjadi ancaman; jarak antara lokasi bersarang di pesisir dan hutan tempat tinggal maleo semakin melebar.

Petani, yang memiliki sedikit pilihan penghidupan, menebangi hutan Sulawesi untuk membuka lahan pertanian, sementara pemerintah daerah yang kekurangan anggaran mengizinkan penebangan kayu. Seiring waktu, jarak antara lokasi bersarang di pesisir dan hutan tempat tinggal maleo semakin melebar sehingga maleo tidak lagi dapat mentolerirnya, kemungkinan karena anak berusia dua hari tidak mampu menyeberangi hambatan yang makin luas, sehingga pasangan maleo meninggalkan banyak situs sarang bersejarah.

Semakin Mendesak

Para konservasionis mulai melindungi maleo pada 1980-an, dan upaya itu menjadi semakin mendesak pada awal 2000-an. Survei menunjukkan lebih dari separuh lokasi sarang di Sulawesi Utara telah burung tinggalkan. Pada 2002, dari 142 lokasi sarang tercatat, petugas mencatat 48 lokasi burung tinggalkan, 51 sangat terancam, dan 32 berstatus terancam punah.

Pada 2001 WCS mulai melindungi situs bersarang di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone di ujung utara Semenanjung Minahasa, dan pada 2004 Aliansi Konservasi Tompotika membantu menerapkan larangan pengambilan telur di Semenanjung Timur. Di kedua lokasi tersebut, program perlindungan maleo mereka kembangkan bersama kelompok kepentingan lokal, dengan dasar bahwa penduduk desa di sekitar situs bersarang akan menjadi pihak yang paling beruntung dari upaya konservasi.

Para mantan pemburu liar serta warga desa setempat direkrut untuk mengawasi lokasi sarang maleo. Dengan demikian, mereka beralih dari aktivitas ilegal ke mata pencaharian yang lebih berkelanjutan. Selain menghentikan praktik perburuan liar, para pemantau ini juga memperkirakan ukuran populasi dengan mencatat jumlah maleo dewasa yang datang ke area peneluran. Mereka pun memindahkan sebagian telur ke lahan semi-alami berpagar agar lebih aman dari serangan predator.

Awalnya penjaga telur mungkin terdorong oleh insentif ekonomi—melindungi telur maleo memberi penghasilan lebih baik daripada mencurinya—namun kini semakin banyak warga desa bersatu mendukung pelestarian maleo dan menjadikan burung itu sumber kebanggaan lokal.

Namun, kelompok konservasi menyadari bahwa skema penjaga—yang sebagian besar bergantung pada pendanaan berulang dari pengajuan hibah, penghargaan serta rangkaian laporan—belum tentu dapat bertahan dalam jangka panjang; kebanggaan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Para pegiat konservasi khawatir, suatu saat hibah besar tidak lagi tersedia dan para pelindung maleo tidak menerima upah. Kondisi ini bisa mendorong beberapa penjaga yang terdesak untuk kembali berburu liar demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Memberi Manfaat

Untungnya, maleo juga dapat memberi manfaat lebih bagi masyarakat sekitar. Para ahli memperkirakan Sulawesi menyimpan kekayaan burung endemik yang melebihi wilayah lain, dengan 41 spesies unik dan 12 genus endemik. Kenyataan ini menjadi daya tarik besar bagi para pengamat burung berkantong tebal yang mendambakan mengisi 41 kolom centang yang masih kosong dalam daftar pengamatannya.

Jon Riley, Manajer Program WCS pada masa awal inisiatif konservasi maleo, menuturkan bahwa penampilan maleo yang mencolok sekaligus nyentrik membuatnya memikat banyak orang, tidak hanya kalangan pengamat burung. Maleo bukanlah monyet makaka—yang wisatawan sukai, tetapi kerap warga desa benci karena merusak tanaman—dan juga bukan burung penyanyi yang tampak biasa saja, mudah lenyap di balik rimbun dedaunan, sehingga warga setempat sering tidak memahami mengapa ia mendapat perhatian besar. Sebaliknya, maleo, dengan kebiasaan menggali lubang yang sangat mencolok serta anakannya yang sudah lincah meski baru berusia dua hari, menjelma sebagai selebriti bagi siapa pun.

Kelompok konservasi yang berfokus pada maleo telah secara cerdas memanfaatkan ketertarikan luas terhadap burung ini. Kini, banyak lokasi sarang yang terlindungi juga menyediakan wisata ekologi sebagai upaya menambah sumber pemasukan yang lebih stabil dan dapat desa-desa setempat andalkan.

Menurut Riley, berkunjung ke lokasi sarang maleo memberikan pengalaman yang sangat memikat. “Ini spesies yang bisa benar-benar kita sentuh,” ujarnya. “Kita dapat melihat langsung, mendengar suaranya yang khas, mengamati liang sarangnya, bahkan memegang telurnya. Begitu pengunjung tertarik, pemandu bisa mengarahkan percakapan dari sekadar ekologi menuju isu konservasi. Para pemandu menjelaskan bahwa maleo adalah spesies endemik Sulawesi dan membutuhkan dukungan kita.”

Dukungan WCS

Pada tahun 2008, dengan dukungan WCS, sebuah LSM bernama Pelestari Alam Liar dan Satwa (PALS) membawa upaya konservasi maleo ke tahap yang lebih maju dengan membeli kawasan pantai tersebut. Pihak konservasi membeli lahan seluas 22 hektare, hamparan pasir dan pepohonan di area lokasi sarang maleo. Langkah ini kemudian melahirkan Cagar Alam Binerean. Para pemilik lahan sebelumnya—sekelompok petani kelapa—selanjutnya direkrut untuk mengelola kawasan ini di bawah pengawasan PALS. Kini, para petani tersebut tetap memanen kelapa, namun dengan cara yang lebih ramah terhadap maleo.

Para konservasionis merancang upaya ini untuk menyeimbangkan kebutuhan manusia dan kelestarian maleo. Program ini menjaga agar pendapatan pemilik lahan setempat tetap setara seperti sebelum kawasan dikelola sebagai taman atau cagar, sekaligus menyediakan dana untuk pengelolaan dan perlindungan cagar alam. Pada saat yang sama, program menjamin maleo memperoleh lokasi peneluran yang aman dan bebas gangguan. Model kerja sama seperti ini menguntungkan kedua pihak; konservasionis terus berupaya mewujudkannya meski tidak mudah.

Keberhasilan tersebut mendorong PALS memperluas programnya dengan membeli lahan tambahan. Saat ini hampir 150 hektare habitat maleo dikelola dengan praktik konservasi berkelanjutan, termasuk koridor hutan yang menghubungkan Cagar Alam Binerean ke taman nasional terdekat di Sulawesi.

Meski demikian, reproduksi maleo belum sepenuhnya berhasil. Meskipun ada upaya menghalau pemburu dan predator sarang, tingkat keberhasilan penetasan di alam liar hanya sekitar 50%. Untuk meningkatkan peluang tersebut dan membantu pemulihan spesies, para konservasionis mendapat dukungan dari Kebun Binatang Bronx milik WCS di New York City. Saat ini kebun binatang ini menjadi satu-satunya tempat di luar Sulawesi di mana pengamat burung dan pengunjung dapat melihat maleo.

Meniru Kondisi

Para staf ornitologi di kebun binatang berusaha meniru kondisi perkembangbiakan alami dengan cermat. Setiap dari dua pasang maleo dipasangi lubang berisi kotak pasir sedalam satu meter dan kantong pemanas yang dijaga pada 33ᵒC. Pengaturan yang sangat teliti ini penting karena tanpa suhu yang tepat burung akan menggali tetapi enggan bertelur. Petugas terus mengamati perilaku kawin dan segera mengambil telur untuk inkubasi buatan begitu telur diletakkan. Lalu, bagaimana para penjaga mengetahui bahwa bertelur akan segera terjadi?

Alana O’Sullivan menyebutkan bahwa tanda penentu adalah uji kacang. Maleo akan berusaha keras untuk mengambil lalu cepat-cepat memakan kacang; jika makanan ini ditawarkan namun ditolak, staf tahu betina sedang benar-benar fokus pada reproduksi dan diperkirakan akan bertelur dalam 24 jam berikutnya.

Setelah enam tahun percobaan intensif—di mana staf kebun binatang menguji pengaruh berbagai faktor seperti jenis substrat, suhu dan kelembapan terhadap perkembangan telur—Kebun Binatang Bronx kini mampu menetaskan telur maleo dengan keberhasilan mencapai 91%, hampir dua kali lipat dibandingkan di alam liar.

Telur diambil dengan cermat dari lubang pasir hangat lalu dimasukkan ke dalam gelas kimia berisi butiran plastik steril pada suhu terkontrol 32.5ᵒC dan kelembapan relatif 89–90%. Protokol penetasan ini dibagikan kepada penetas di Sulawesi yang berjarak hampir 17.000 km, sehingga meningkatkan keberhasilan penetasan di habitat asli dan menghasilkan lebih banyak anak maleo yang kemudian terbang menuju garis pepohonan.

Meskipun ada keberhasilan konservasi yang nyata dan terukur baik di alam maupun di penangkaran, dampaknya terhadap peningkatan populasi maleo masih belum pasti. Lebih dari 10.000 anak maleo berhasil menetas dan dilepasliarkan dari lokasi yang dikelola WCS selama 15 tahun terakhir, namun nasib burung-burung tersebut setelah dilepasliarkan sebagian besar belum diketahui. Tidak ada data yang jelas tentang berapa banyak yang benar-benar bertahan hingga dewasa dan mampu berkembang biak.

Program Translokasi

Tanda positif terlihat dari program translokasi: telur yang dipindahkan dari sarang aktif ke pasir di sarang yang ditinggalkan menghasilkan beberapa anak yang tumbuh dewasa dan kembali, sehingga mengembalikan siklus perkembangbiakan di pantai-pantai yang sebelumnya sepi.

Tanda positif lain muncul di desa Libuun: setelah 10 tahun perlindungan telur dan keterlibatan masyarakat yang dipimpin Aliansi untuk Konservasi Tompotika, jumlah maleo dewasa yang tercatat di lokasi sarang meningkat tiga kali lipat.

Namun, agar upaya konservasi maleo tetap berada di jalur yang baik, prioritas harus diberikan pada perlindungan dan pemulihan lokasi sarang serta habitat hutan, bukan semata-mata menambah lebih banyak fasilitas penetasan dan jumlah anak burung. Tanpa habitat yang memadai bagi anak-anak maleo untuk kembali, tempat penetasan ini sendiri kehilangan maknanya.

Meski kisah sukses konservasi maleo sangat mengesankan, biaya yang diperlukan untuk menyelamatkan spesies ini justru mengejutkan. Upaya tersebut relatif murah; setiap anak maleo yang berhasil terbang hanya membutuhkan investasi sekitar $4, dan keseluruhan lokasi yang dikelola WCS di Semenanjung Minahasa beroperasi dengan anggaran sekitar $40.000 per tahun. Namun para konservasionis mengeluhkan bahwa bahkan jumlah sekecil ini sulit dikumpulkan, padahal idealnya dibutuhkan sekitar $100.000 per tahun untuk menjamin perlindungan lokasi sarang, memperluas jangkauan komunitas, dan mendanai penelitian.

Di tengah banjir kabar buruk tentang satwa liar—dari foto tanduk badak yang terpotong hingga koper berisi sisik trenggiling—mudah sekali putus asa. Namun berkat kerja sama tim lintas latar yang melibatkan konservasionis, mantan pemburu telur, petani kelapa, pengamat burung internasional dan penjaga Kebun Binatang Bronx, harapan bagi maleo masih ada. Ini adalah keberhasilan konservasi yang layak diapresiasi dan dirayakan.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *