Tanda suatu negara mengalami kelebihan populasi dapat terlihat dari ketidakmampuan warganya dalam menjaga ketertiban, seperti saat mengantre. Fenomena ini tampak jelas setiap hari di berbagai stasiun bus dan kereta.
Sarana transportasi sudah sejak lama tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan masyarakat.
Ketika bus atau kereta tiba, bahkan individu yang biasanya bersikap sopan dapat berubah menjadi sangat tidak tertib. Antrean yang semula tampak teratur seketika bubar. Orang-orang paling kuat dan agresif segera berebut masuk. Mereka hanya berhenti jika seluruh ruang kendaraan sudah terisi penuh.
Sikap sopan sering kali membuat seseorang harus menunggu berjam-jam setiap minggunya. Sementara itu, antrean yang benar-benar konsisten hanyalah deretan panjang kendaraan yang sabar menunggu di hampir seluruh jalan utama kota-kota besar. Kondisinya memang seburuk ini.
Kondisi di dalam bus atau kereta tidak jauh berbeda—penuh sesak seperti sarden dalam kaleng. Para penumpang, yang tenggelam dalam ruang pribadi masing-masing, memperlihatkan ekspresi serupa: tatapan kosong yang mencerminkan usahanya untuk sejenak melepaskan diri dari realitas sosial.
Pemandangan ini mengingatkan pada suasana menjelang Idul Fitri, saat individu yang lebih mampu secara ekonomi membagikan uang kepada yang kurang beruntung, yang rela mengambil risiko demi memperoleh sejumlah kecil uang. Atau seperti anak-anak yang berebut permen, memperlihatkan ekspresi marah yang jarang muncul di wajah polosnya. Orang yang yakin semua orang akan mendapat bagian yang sama dapat bersikap sabar dan tertib saat menunggu giliran.
Para ahli demografi menegaskan bahwa situasi saat ini hanyalah awal dari tantangan yang lebih besar. Jika pertumbuhan penduduk tidak terkendali, negara akan menghadapi krisis jauh lebih serius daripada kemacetan parah atau kesulitan ekonomi.
Bergulat dengan Keterbatasan
Saat ini, pemerintah dan masyarakat Indonesia bergulat dengan keterbatasan penyediaan tempat tinggal, air bersih, dan bahan pangan serta kerusakan lingkungan yang signifikan. Selama bertahun-tahun, negara ini terpaksa mengimpor komoditas pangan utama seperti beras karena lahan pertanian yang tersedia tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 250 juta penduduk. Para pakar memprediksi bahwa krisis pangan ini kemungkinan besar akan semakin memburuk di masa mendatang.
Sebagian besar masyarakat tidak menganggap lonjakan populasi sebagai penyebab utama berbagai persoalan yang dihadapi. Mereka cenderung menyalahkan faktor lain seperti buruknya tata kelola pemerintahan, praktik korupsi, kekuatan Ilahi atau kondisi alam. Keyakinan tradisional bahwa memiliki banyak anak membawa keuntungan masih kuat tertanam. Anak-anak kerap dipandang sebagai jaminan masa tua yang paling aman. Seiring dengan proses demokratisasi, negara ini pun memberikan kebebasan penuh kepada warganya untuk menentukan jumlah anak yang ingin dimiliki.
Di sisi lain, pemerintah terus menonjolkan pencapaian melalui data statistik yang membanggakan. Indonesia disebut sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, demokrasi terbesar ketiga serta menempati peringkat kesepuluh dalam daftar ekonomi terbesar secara global.
Istilah “kelebihan populasi” kini telah bergeser menjadi ungkapan yang terdengar lebih positif: “bonus demografi.” Jumlah penduduk yang mencapai ratusan juta orang kini dipandang sebagai aset potensial, baik dalam menarik minat para investor maupun dalam memperkuat posisi negara dalam dinamika kekuasaan global.
Taraf Kehidupan
Namun, bagaimana dengan taraf kehidupan? Istilah ini kini semakin sering menjadi sorotan. Sampai kapan masyarakat Indonesia harus terus berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau sekadar berusaha agar bisa bekerja setiap harinya?
Seiring dengan pesatnya ekspansi kelas menengah, harapan terhadap peningkatan kualitas hidup semakin meluas di berbagai penjuru negeri. Keinginan akan udara yang sehat, akses terhadap air bersih, pendidikan yang memadai serta pelayanan publik yang optimal terus tumbuh. Namun, bagi sebagian besar masyarakat, semua itu masih sebatas angan-angan selama pandangan bahwa memiliki banyak anak membawa keuntungan tetap menjadi keyakinan yang dominan.