Kecelakaan Pesawat Ungkap Rapuhnya Sistem Militer Indonesia

Jatuhnya pesawat angkut Angkatan Udara Indonesia berusia 51 tahun pada pekan ini memperlihatkan masalah serius pada armada militer yang sudah tua. Kecelakaan tersebut juga memperbesar momentum bagi agenda presiden dalam menaikkan anggaran pertahanan. Hercules C-130 mengalami kecelakaan di kawasan hunian Kota Medan beberapa menit setelah tinggal landas pada Selasa. Pesawat tersebut meledak dan terbakar, menyebabkan 142 orang meninggal, dengan mayoritas korban berada di dalam pesawat. Menurut Aviation Safety Network, organisasi pemantau kecelakaan penerbangan, insiden ini menjadi kecelakaan fatal keenam dalam 10 tahun terakhir yang melibatkan pesawat Angkatan Udara Indonesia. Sebagai negara dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki kekuatan militer yang besar. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, anggaran pertahanannya masih di bawah 1% dari PDB, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga, karena pemerintah lebih memprioritaskan sektor pendidikan dan kesehatan.

Sejak jatuhnya Soeharto pada 1998, pengaruh angkatan bersenjata terus menurun. Pada masa pemerintahannya, mantan jenderal ini memberi militer peran penting dalam urusan publik. Kini, rencana penambahan dana pertahanan masih menghadapi keraguan karena kekhawatiran terhadap buruknya pengelolaan. Proses modernisasi militer juga tersendat akibat embargo senjata Amerika Serikat selama enam tahun hingga 2005. Embargo ini diberlakukan karena pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan militer di Timor Timur. Menurut pakar militer Al Araf, Indonesia masih menghadapi persoalan serius karena banyak sistem persenjataannya sudah berusia tua. Ia mengutip data pertahanan 2007 yang menyebut hampir 40% pesawat angkut militer tidak laik terbang. Sebagian besar sistem milik Angkatan Udara Indonesia berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Angkatan Udara menyatakan bahwa temuan awal mengarah pada kerusakan mesin sebagai penyebab kecelakaan. Mereka juga menolak tuduhan bahwa pesawat mengangkut warga sipil yang membayar untuk ikut terbang hingga mengalami kelebihan muatan. Pihak militer membantah menerima pembayaran dalam penerbangan tersebut.

Keterangan Saksi

Keterangan saksi mata mendukung analisis tersebut. Mereka menyebut pesawat sempat oleng dan mengeluarkan asap hitam sebelum menghantam tanah, menghancurkan sejumlah bangunan serta membakar mobil-mobil hingga tersisa rangkanya. Presiden Joko Widodo, yang mulai memimpin pada Oktober, sebelumnya menyampaikan rencana menaikkan anggaran militer menjadi 1,5% dari PDB, atau lebih dari Rp180 triliun, dalam beberapa tahun ke depan. Ia mengatakan kecelakaan ini memberi dorongan baru untuk melakukan pembenahan besar dalam pengelolaan dan pengadaan peralatan pertahanan. Meski demikian, ia berpendapat bahwa tambahan dana tidak akan cukup tanpa perubahan strategi. Ia menegaskan bahwa Indonesia harus beralih dari sekadar membeli senjata menuju modernisasi sistem persenjataan.

Editorial Jakarta Post turut menyerukan pergeseran fokus anggaran, dari pembelian jet tempur baru menuju pengadaan pesawat angkut yang kebutuhannya lebih mendesak. Kecelakaan ini meningkatkan dukungan politik terhadap modernisasi militer dan penambahan anggaran pertahanan. Seorang anggota parlemen bahkan mendesak pemerintah membeli pesawat yang lebih baru. “Tragis sekali pilot-pilot kita harus kehilangan nyawa karena pesawat tua, bukan saat menjalankan tugas di medan perang,” kata Tubagus Hasanuddin, anggota komisi pertahanan parlemen. Dua skuadron pesawat angkut Hercules Indonesia bertugas membawa personel militer dalam jumlah besar ke berbagai wilayah kepulauan. Pesawat-pesawat ini juga digunakan untuk menyalurkan bantuan ketika bencana alam melanda.

Momentum Baru

Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan bahwa Hercules paling baru yang dimiliki Angkatan Udara dibuat oleh Lockheed Martin pada 1980-an. Sementara itu, sebagian armada lainnya, termasuk pesawat yang mengalami kecelakaan pada Selasa, diproduksi pada 1960-an. Sejak tahun 1985, Angkatan Udara Indonesia telah kehilangan enam pesawat Hercules akibat kecelakaan. Bagi beberapa keluarga, musibah ini bukan yang pertama. Seorang perwira yang tewas dalam kecelakaan pekan ini pernah kehilangan kakak laki-lakinya dalam tragedi Hercules 1991 yang merenggut 135 nyawa prajurit. Kecelakaan pekan ini memang memberi momentum baru bagi agenda Jokowi untuk merombak militer dan meningkatkan anggaran.

Namun, para analis pertahanan mencatat bahwa mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga seorang jenderal, tidak berhasil melakukannya. Meski ekonomi Indonesia tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah tetap membutuhkan dana besar untuk program kesejahteraan sosial. Namun, sebagian dana tersebut kerap terserap oleh praktik korupsi yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia. “SBY tidak merealisasikan janji tersebut, jadi kita perlu melihat apakah Joko Widodo mampu melakukannya,” kata Jon Grevatt, analis industri pertahanan Asia-Pasifik di IHS Jane. Ia menambahkan bahwa menaikkan anggaran militer hingga 1,5% per tahun merupakan tantangan yang sangat berat. Namun, bila hal ini benar-benar terwujud, pengeluaran pertahanan Indonesia akan naik signifikan dalam beberapa tahun berikutnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *