Indonesia Penyebab Utama Masalah di Malaysia

Najib Razak sedang menghadapi

Najib Razak sedang menghadapi krisis internasional. Loretta Lynch, Jaksa Agung AS, mengungkap korupsi pejabat Malaysia dan menyita aset lebih dari $1 miliar. Investor juga kecewa oleh sikap puas diri yang merusak ekonomi negara. Namun ancaman terbesar bagi perdana menteri yang tersangkut skandal ini berasal dari Indonesia.

Pemerintahan Najib berusaha melindungi pemimpinnya dari tekanan internasional, sementara Joko Widodo justru menyambut tekanan itu. Jokowi butuh waktu untuk membuktikan diri sebagai reformis. Setelah 641 hari menjabat, bukti menunjukkan ia bertindak berlawanan dengan Najib dalam banyak hal. Tindakan itu berpotensi menguntungkan rakyat Indonesia dan merugikan rakyat Malaysia.

Memang terasa aneh menyebut Jokowi masih baru setelah satu tahun sembilan bulan memimpin, tetapi karena politisi pendatang harus menghadapi kepentingan yang mengakar dan kemerdekaan yang 18 tahun lalu nyaris gagal, ia membutuhkan waktu untuk mengonsolidasikan kekuasaan dan menemukan pijakan; kini Jokowi mulai giat mengatasi hambatan pertumbuhan, dan perkembangan ini menggembirakan.

Hal itu sangat kontras dengan situasi mengecewakan di Malaysia. Dalam konferensi pers Rabu, Lynch tidak menyebut nama Najib (seorang sekutu penting AS di Asia). Meski begitu, menghubungkan Malaysian Official 1 di Washington dengan kantor perdana menteri tidak sulit. Jaksa AS menuduh Najib terkait penyalahgunaan sejumlah besar uang dari 1Malaysia Development Bhd., sehingga memperparah tahun yang sudah buruk bagi Malaysia.

Najib mendirikan 1MDB pada 2009 untuk mendorong perekonomian, tetapi korupsi dan disfungsi di sekitarnya justru menurunkan reputasinya. Tuduhan Departemen Kehakiman tentang penipuan senilai $3,4 miliar sangat memalukan; dana 1MDB dia gunakan untuk membeli lukisan Monet dan Van Gogh, properti mewah, jet pribadi bahkan mendanai film The Wolf of Wall Street tentang para investor curang yang menyembunyikan kekayaan di luar negeri. Pejabat kehakiman menyebut kasus ini sebagai contoh kehidupan yang meniru seni, dan salah satu tersangka adalah anak tiri Najib.

Potensi Menurun

Kontroversi ini memperlihatkan mengapa potensi Malaysia menurun sementara daya tarik Indonesia naik. Pada 2009, ketika Najib mengambil alih jabatan yang pernah diduduki ayahnya 39 tahun sebelumnya, ia berjanji meningkatkan daya saing Malaysia. Janji ini seharusnya berarti mengubah kebijakan afirmatif ayahnya yang menguntungkan mayoritas Melayu namun mengorbankan inovasi dan produktivitas. Namun kenyataannya Najib justru memperdalam kesenjangan ekonomi yang merusak prospek negara dan memperkuat isolasi di Putrajaya.

Dalam 12 bulan sejak laporan pemenang penghargaan Wall Street Journal yang melacak aliran uang—termasuk $700 juta di rekening pribadi Najib—kemajuan nyaris tidak terlihat. Enam tahun sebelumnya juga stagnan, tetapi tahun terakhir yang dipenuhi pembelaan diri, serangan terhadap media asing dan upaya tampil sebagai korban menandai perluasan modus operandi pengendalian kerusakan yang mengkhawatirkan di Malaysia.

Saat krisis keuangan 1997 mengguncang pasar dan mata uang, Mahathir tidak melakukan introspeksi; ia menyalahkan George Soros dan kelompok Yahudi yang misterius. Para penerusnya kemudian memakai teori konspirasi untuk membenarkan undang‑undang keamanan yang keras. Pada 2014 Najib menuduh media internasional menargetkan Malaysia setelah hilangnya Boeing 777 Malaysia Airlines, dan responsnya yang buruk memperlihatkan ketidaksiapan pemerintah menghadapi sorotan publik. Setahun setelah liputan 1MDB oleh The Wall Street Journal, Putrajaya lebih sibuk saling menyalahkan daripada melakukan evaluasi diri.

Situasi ini menciptakan jurang antara klaim Malaysia bahwa skandal telah usai dan meluasnya penyelidikan di luar negeri. Tim PR Najib seperti bermain whack‑a‑mole: saat mereka membantah satu laporan di Singapura, penyelidikan lain muncul di Australia, Prancis, China, Swiss, Inggris atau AS, tempat jaksa menangani kasus ini. Memalukan bahwa terobosan terbesar soal 1MDB justru datang dari luar negeri, sementara pendukung Najib berpura‑pura terkejut; mereka menolak semua tuduhan dan menuduh adanya konspirasi geopolitik untuk menjatuhkan pemimpinnya.

Suasana Kontras

Suasana di Indonesia sangat kontras. Berbeda dengan Najib yang dipandang sebagai orang dalam sejati, Jokowi adalah pemimpin pertama tanpa garis dinasti politik atau latar militer. Asal-usulnya yang sederhana, pengalamannya sebagai penggerak masyarakat dan sikapnya yang dekat dengan rakyat membuatnya sering dibandingkan dengan Presiden Barack Obama. Sejak awal, citra muda dan statusnya sebagai pendatang baru memicu perbincangan tentang pengaruh Jokowi di tingkat regional.

Antusiasme terhadap naiknya Jokowi ke tampuk kekuasaan—seperti yang diberitakan Time pada April 2014 sebelum kemenangannya—dinilai mengakhiri apatisme pemilih. Pertanyaannya, apakah fenomena serupa bisa terjadi di negara lain di kawasan—Malaysia, Filipina atau Thailand—di mana koneksi dan kekayaan menjadi jalan utama menuju kekuasaan. Untuk Malaysia, kemungkinan ini kecil karena UMNO masih menguasai politik sejak 1946 dan terus mengalihkan tanggung jawab.

Kecenderungan puas diri dan kurang fokus di Malaysia bisa membuat Indonesia melampaui dalam beberapa tahun ke depan. Jokowi mempercepat privatisasi BUMN agar perusahaan tidak lagi menjadi ATM bagi pejabat korup. Prioritasnya pada pembangunan infrastruktur diharapkan meningkatkan efisiensi ekonomi, produktivitas dan menarik lebih banyak investasi asing. Program amnesti pajak baru mendorong repatriasi miliaran dana tersembunyi ke dalam negeri, menambah penerimaan negara. Pemerintah juga mendukung ledakan startup di antara 250 juta penduduknya. Penunjukan Tito Karnavian sebagai Kapolri menunjukkan penguatan upaya pemberantasan korupsi dan penanggulangan terorisme.

Tahap Awal

Reformasi Jokowi masih di tahap awal, dan perlawanan dari kelompok berkepentingan kuat serta mengancam. Meski begitu, saat Jokowi berupaya menghapus stigma kleptokrasi yang lama melekat, Malaysia justru mendapat capnya sendiri. Ini mungkin menjelaskan kenaikan 14% Indeks Komposit Jakarta tahun ini sementara FTSE Bursa Malaysia KLCI turun 2%. Dalam 12 bulan terakhir, Indonesia bahkan menjadi bursa berkinerja terbaik di Asia Timur, dan obligasi berdenominasi rupiah melonjak karena optimisme bahwa Jokowi akan memperkuat neraca negara.

Pasar tak selalu mengajari para pemimpin, tetapi seperti wartawan asing yang menelusuri aliran uang dan menekan Malaysia, arus modal yang mengalir ke Indonesia mungkin mencerminkan perubahan yang lebih besar.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *