Dengan dukungan Yagasu, warga pesisir Sumatra memulihkan hutan bakau sebagai pelindung pantai dan sumber penghasilan. Warga menanam 18 juta pohon di lebih dari 5.000 hektare lahan Medan dan Aceh yang terdampak tsunami 2004. Proyek ini melibatkan 125 desa.
Memulihkan Stok Ikan
Proyek Livelihoods di desa-desa itu membuktikan bahwa masyarakat mampu memulihkan lahan basah rusak, sekaligus mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan keluarga. Melalui rehabilitasi kebun bakau, Yagasu berhasil membangun kembali pelindung pantai serta menghidupkan habitat dengan keanekaragaman hayati tinggi. Langkah ini juga memberi kesempatan bagi warga untuk mengaktifkan kembali tambak ikan yang sempat terbengkalai, sehingga ketahanan pangan semakin kuat.
Pendekatan silvofishery menggabungkan penanaman mangrove dengan budidaya berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting. Petani menanam mangrove di sekitar maupun dalam tambak sehingga tercipta habitat alami yang mendukung perikanan. Keberagaman spesies ini memperluas sumber pendapatan nelayan sekaligus meningkatkan hasil tangkapan mereka. Saat ini, petani tambak membudidayakan kepiting cangkang lunak sebagai salah satu usaha paling menguntungkan yang kemudian menjadi komoditas ekspor.
Kolam ikan bersama ini berkontribusi pada peningkatan penghasilan serta keberlangsungan hidup 14 keluarga. Dalam setahun, setiap tambak mampu memproduksi sekitar 10 ton ikan, 700 kilogram udang dan 1,8 ton kepiting.
Yagasu menjalankan program dana bergulir yang memberi nelayan akses pinjaman untuk membangun tambak ikan dengan modal awal rata-rata Rp18 juta. Sebagai dampaknya, nelayan terdorong untuk terus menanam serta memelihara pohon bakau di sekitar area tambak.
Membuat Batik dari Hutan Bakau
Selain berfungsi untuk perikanan dan kehutanan, hutan bakau menyediakan berbagai produk bernilai yang dapat menjadi komoditas pasar. Yagasu membimbing masyarakat merawat pohon bakau yang baru mereka tanam sekaligus memanfaatkan akar, batang, dan daun untuk diolah menjadi produk seperti selai, kue, dan pewarna alami.
Pengrajin memanfaatkan pewarna alami untuk membuat syal batik tradisional yang mereka lukis dengan tangan secara artistik lalu pasarkan secara komersial. Bambang Suprayogi, pendiri Yagasu, mengatakan, “Kami kini memiliki 22 varian warna alami.” Ia menambahkan, “Saat ini kami menyempurnakan teknik dengan mencoba batik organik berbasis serat pisang yang menjadi kain tenun manual.”
Salah satu keunggulan Livelihoods Carbon Fund adalah perannya yang tidak hanya menyediakan pembiayaan bagi LSM mitra dalam menjalankan proyek, tetapi juga menjadi wadah penting untuk pertukaran pengetahuan dan sumber daya antara sektor publik dan swasta. Setiap perusahaan mitra memiliki peluang untuk berkontribusi lebih dari sekadar dana, yakni dengan memberikan dukungan teknis maupun operasional kepada LSM. Contohnya, Hermes—rumah mode asal Prancis yang terkenal dengan syal sutra ikoniknya—sering membagikan saran kepada Yagasu mengenai teknik terbaik dalam mengolah pewarna dari pohon bakau.
Syal batik hasil karya warga desa kini telah dipasarkan di terminal bandara utama Jakarta. Bulan ini, Yagasu juga akan meresmikan butik mandiri di Jawa Timur yang akan menawarkan berbagai produk dari komunitas pelaksana proyek restorasi hutan bakau, mencakup kain bordir hingga kain lukis tangan.

Memfasilitasi Akses ke Pasar
Bambang menuturkan bahwa bagian paling krusial sekaligus paling sulit dari proyek ini adalah mendukung warga desa dalam menemukan pasar yang sesuai bagi hasil produksinya. Ia menekankan bahwa setiap kegiatan dalam proyek selalu berlandaskan pendekatan ekonomi, sebab apa pun yang dilakukan seseorang seharusnya memberikan keuntungan nyata. Menurutnya, agar masyarakat terdorong untuk tidak menebang hutan bakau, mereka harus merasakan secara langsung bahwa pohon-pohon tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi.
Bambang menjelaskan bahwa hasil penjualan produk dari perkebunan mangrove yang baru dibangun telah mendorong kenaikan pendapatan warga desa hingga 57%. Rata-rata pendapatan rumah tangga yang sebelumnya sekitar Rp2,6 juta per bulan kini meningkat menjadi Rp4,2 juta per bulan.
Saat ini, Yagasu mendampingi 174 koperasi kelompok dengan memberikan arahan terkait strategi branding dan pemasaran, sekaligus membantu mereka memperoleh izin dari pemerintah daerah untuk memasarkan produk. Produk berupa selai dan kue hasil olahan mangrove dijual bukan atas nama Yagasu, melainkan atas nama koperasi masing-masing. Hal ini menjadi aspek penting karena memberikan kekuatan bagi warga desa serta menumbuhkan rasa bangga terhadap usaha yang mereka lakukan.
Setelah proyek rehabilitasi mangrove Livelihoods berhasil, Yagasu kini memperoleh dukungan dari pemerintah serta USAID. Inisiatif yang awalnya digagas karena kepedulian terhadap keanekaragaman hayati tersebut telah berkembang menjadi program yang juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam jangka panjang, Bambang bercita-cita agar proyek ini dapat turut menunjang pendidikan dan layanan kesehatan di daerah tersebut. Ia menambahkan, kebahagiaan terbesar baginya adalah melihat senyum warga desa dan menyaksikan perubahan nyata dalam kehidupannya.