Pada 19 April, Indonesia resmi membuka World Economic Forum ke-24 untuk Asia Timur. Salah satu agenda utamanya adalah diskusi berjudul Asia Timur dalam Konteks Global Baru. Diskusi itu menampilkan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dan Presiden Joko Widodo. Pidato utama Jokowi menarik perhatian karena ia tegas mengadvokasi perlunya reformasi di Indonesia yang menghadapi berbagai tantangan selama masa jabatannya. Pernyataan Hun Sen sebelumnya juga layak mendapat perhatian. Ketika Hun Sen membuka pidatonya, tak ada tanda bahwa ia akan tiba-tiba melontarkan kecaman keras. Ia membuka pidato dengan ucapan terima kasih yang sopan kepada Indonesia sebagai tuan rumah. Kemudian ia menguraikan beberapa poin singkat dan terduga tentang prioritas kawasan, termasuk penguatan kerja sama regional. Ia juga menyoroti upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Poin ketiga membahas integrasi kawasan dan memuji RCEP.
RCEP adalah zona perdagangan bebas yang melibatkan 10 negara ASEAN dan mitra FTA. Hun Sen menekankan negosiasi RCEP bermula di Kamboja pada 2012. Ia mengatakan RCEP mencakup sekitar setengah populasi dunia dan 30% PDB global. Menurutnya, RCEP akan membuka peluang investasi lebih besar dan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi serta perdagangan. Ia menyimpang dari teks pidato dan mengkritik singkat Trans Pacific Partnership (TPP) yang dipimpin AS. Ia mengatakan TPP dan RCEP harus saling melengkapi, serta menyoroti bahwa enam dari sepuluh negara ASEAN tidak termasuk. Hun Sen meminta dunia meninjau kembali alasan Trans‑Pacific Partnership tidak melibatkan seluruh anggota ASEAN.
Tujuan TPP
Ia mempertanyakan tujuan pembentukan TPP yang hanya memasukkan separuh anggota ASEAN sebagai mitra dan meminta World Economic Forum on Asia‑Pacific membahas masalah tersebut. Kecaman tajam Hun Sen terkesan membingungkan dan menyesatkan, meski bukan satu‑satunya pandangan serupa. Pertama, membandingkan RCEP dan TPP kurang relevan: RCEP pada dasarnya berupaya menyelaraskan dan mengintegrasikan perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang sudah ada antara ASEAN dan mitranya, sedangkan TPP adalah inisiatif AS dan mitra lain untuk merancang perjanjian perdagangan abad ke‑21 yang baru, lebih ambisius dan menerapkan standar jauh lebih tinggi. Kedua, TPP tidak sengaja mengecualikan negara tertentu, baik anggota ASEAN maupun China, seperti yang kadang orang salah pahami. Faktanya, negara-negara tersebut belum memenuhi standar tinggi yang perjanjian tetapkan sehingga belum bisa bergabung saat ini.
Pejabat AS berulang kali menyatakan bahwa negara lain bisa masuk ke TPP ketika sudah siap; ini bagian dari upaya AS menetapkan aturan kawasan dengan mendorong persaingan menuju standar tertinggi. Negara-negara ASEAN lainnya, bahkan China, setidaknya telah mempelajari langkah-langkah yang mereka perlukan jika kelak ingin bergabung, meskipun saat ini belum memungkinkan. Terakhir, tuduhan bahwa Amerika Serikat berusaha memecah belah ASEAN terdengar seperti klaim lama yang terus diulang dan kurang relevan. Meski kekhawatiran ini muncul pada tahap awal pembahasan TPP di era Obama, AS telah berupaya memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara ASEAN untuk meredam kekhawatiran tersebut. Contohnya adalah inisiatif U.S.-ASEAN Expanded Economic Engagement (E3) yang diluncurkan pada 2013. Meskipun inisiatif semacam ini memiliki keterbatasan, menyimpulkan bahwa AS bermaksud memecah belah ASEAN lewat dorongan terhadap TPP, seperti yang dituduhkan Hun Sen, adalah penilaian yang keliru.