Sebagai bentuk toleransi beragama, 28 tokoh dari enam agama utama Indonesia mengikuti dialog dengan Raja Salman. Keenam agama itu adalah Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, Protestan, dan Katolik; pertemuan berlangsung pada hari Jumat. Dalam pertemuan tertutup sekitar 30 menit, sang raja memuji kehidupan beragama di Indonesia. Ia meminta para pemimpin untuk saling merangkul agar menghormati hak setiap pemeluk agama. Raja mengatakan stabilitas Indonesia berasal dari semangat toleransi dan hidup berdampingan antarwarga. Kita harus terus merangkul semua pemeluk agama untuk memperkuat nilai-nilai toleransi di masyarakat. Raja Salman, pemimpin salah satu negara paling konservatif, menekankan pentingnya setiap agama membela dan melindungi hak penganutnya. Ia mengatakan langkah tersebut krusial untuk menahan pengaruh radikalisme dan ekstremisme. Raja menyampaikan pernyataannya pada momen yang krusial bagi Indonesia. Negara ini belakangan menghadapi lonjakan intoleransi dan meningkatnya sentimen sektarian yang mengkhawatirkan banyak pihak.
Pemerintahan Presiden Joko Widodo tampak memanfaatkan kunjungan Raja Salman—penjaga situs suci Islam—untuk menegaskan pesan toleransi di dalam negeri. Forum lintas agama tersebut berlangsung pada Jumat dengan Presiden sebagai tuan rumah, sementara sang raja menyampaikan pidato pembuka. Yang Mulia Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud dan para tokoh agama yang hadir adalah aset penting bagi Indonesia. Mereka mendukung terciptanya perdamaian di Indonesia dan di tingkat global. Acara itu menghadirkan sembilan cendekiawan yang mewakili umat Islam. Empat tokoh mewakili masing-masing agama Protestan, Buddha, Hindu, dan Katolik, sedangkan tiga orang mewakili Konghucu. Sejak Rabu, Raja yang berusia 80 tahun ini berada di Jakarta dalam rangka kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Beliau mengakhiri agendanya di ibu kota pada Jumat, lalu terbang ke Bali pada Sabtu untuk berlibur hingga 9 Maret. Pada Kamis, ia menyampaikan pidato di hadapan ratusan anggota parlemen dan sejumlah tokoh terkemuka di Dewan Perwakilan Rakyat.
Perdamaian Dunia
Dalam pidatonya, ia menyerukan pembentukan kekuatan bersama untuk menghadapi benturan peradaban dan terorisme demi memelihara perdamaian dunia. Pada hari yang sama, ia menyampaikan pidato di hadapan 38 ulama di Istana Negara. Dalam kesempatan itu, ia mengajak para pemimpin Islam di Indonesia mengembangkan ajaran Islam moderat. Pemerintah mengambil langkah ini untuk menangkal terorisme dan radikalisme. Ketua PGI Pendeta Henriette Lebang berharap forum lintas agama itu bisa meredakan ketegangan sektarian yang meningkat. Ketegangan itu timbul setelah demonstrasi besar menuntut agar Gubernur Jakarta Ahok menjalani proses atas dugaan penistaan Al-Qur’an. Henriette, yang sempat berdialog dengan Raja Salman, menyatakan bahwa momentum tersebut sangat tepat untuk memperkuat toleransi dan perdamaian. Ia juga menyampaikan penghargaan atas inisiatif presiden yang mengundang para pemuka agama untuk mengikuti forum tersebut. Menurutnya, sikap toleran sang raja tercermin dari kesediaannya bertemu dan berdialog dengan pemimpin lintas agama.
Sikap itu layak menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia untuk menjaga persatuan tanpa memandang perbedaan agama. Cendekiawan Azyumardi Azra mengatakan Indonesia dan Arab Saudi harus aktif menyuarakan perdamaian dunia sebagai negara mayoritas Muslim. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajak Raja bekerja sama memperkenalkan gagasan Islam Nusantara di Pusat Dialog Wina. Azyumardi mengusulkan Arab Saudi dan Indonesia bersama menciptakan kondisi yang mendukung Islam sebagai rahmatan lil alamin. Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi menyatakan bahwa kehadiran para tokoh agama dalam acara tersebut mencerminkan kemajemukan masyarakat Indonesia. Retno menyatakan bahwa keberagaman merupakan salah satu modal penting dalam diplomasi Indonesia.
Menggandeng Tangan
Warga media sosial ramai memperbincangkan foto dan rekaman video yang memperlihatkan Presiden Joko Widodo menggandeng tangan Raja Arab Saudi saat membantu sang pemimpin berusia 80 tahun berjalan di Istana Kepresidenan Bogor dan menaiki tangga Istana Negara Jakarta pekan ini. Kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud yang menghiasi pemberitaan sepanjang pekan lalu tampaknya memberikan keuntungan tersendiri bagi Jokowi. Kehadiran sang raja turut memperkuat citra publik Jokowi, terutama di kalangan umat Muslim Indonesia. Pengamat memperkirakan kondisi itu akan sangat memengaruhi peta politik nasional, karena Islam menjadi unsur penting dan berpotensi menentukan arah politik Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari posisi Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia sekaligus demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat. Bahkan, muncul kabar bahwa Indonesia berpeluang segera menempati posisi kedua sebagai negara demokrasi terbesar di dunia.
Publikasi besar-besaran kunjungan Raja Salman memberi keuntungan bagi Jokowi dengan memperkuat citra keislamannya; kelompok muslim konservatif dan rival politiknya sering mempertanyakan citra itu sebelumnya. Menjelang kunjungan, pemerintah dan media mempromosikan potensi keuntungan ekonomi dari kedatangan pemimpin kerajaan kaya minyak itu, namun mereka mengabaikan fakta bahwa perekonomian Arab Saudi terpukul oleh harga minyak dunia yang rendah beberapa tahun terakhir. Ketika kedua pemerintah menandatangani 11 perjanjian pada Rabu, kedua pihak hanya menghasilkan komitmen sebesar $1 miliar. Sebagai pembanding, pada kunjungan sebelumnya ke Malaysia Raja Arab Saudi menjanjikan $7 miliar. Publisitas besar menyertai kunjungan sang raja karena ia datang dengan rombongan 1.500 orang, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran, serta melakukan perjalanan dengan tujuh pesawat khusus.
Berlibur di Bali
Pada hari Sabtu rombongan ini akan berangkat ke Bali, pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan merupakan destinasi liburan terkenal di Indonesia, untuk berlibur selama lima hari. Tindakan Presiden Jokowi dinilai melanggar aturan penyambutan kepala negara dengan menjemput Raja Salman di bandara daripada di Istana Negara, serta membawa rombongan ke Bogor bukan ke ibu kota Jakarta. Sangat jelas bahwa sang raja bukan tamu biasa; Presiden Jokowi memberikan perlakuan istimewa yang menunjukkan penghormatan setinggi-tingginya layaknya seorang raja. Jokowi menemani sang raja berkeliling taman Istana Bogor yang luas. Saat hujan deras, ia memegang payung untuk melindungi tamu kehormatan agar tidak basah, sehingga dirinya sendiri basah kuyup. Di Jakarta, Jokowi secara pribadi mengemudikan mobil golf untuk mengantar sang raja dari Istana Presiden ke Istana Negara. Jokowi membuat kunjungan ini terasa lebih akrab. Saat jamuan makan siang di Bogor, ia menyalakan ponsel untuk merekam sambutannya sendiri dan meminta sang raja mengucapkan beberapa kata.
Potongan video tersebut diunggah ke vlog Jokowi dan langsung menjadi viral. Raja Salman menjadi raja Arab Saudi pertama yang mengunjungi Indonesia setelah 47 tahun. Kunjungan terakhir dilakukan Raja Faisal pada 1969 saat era Presiden Soeharto. Baik Soeharto hingga akhir masa jabatannya pada 1998 maupun empat presiden berikutnya—BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono—gagal meyakinkan raja Arab Saudi untuk kembali berkunjung, meskipun Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar. Meskipun Presiden Jokowi gagal meraih kesepakatan ekonomi besar, ia tetap mempromosikan keberhasilan mengembalikan kuota haji tahunan Indonesia sebesar 211.000 yang disetujui Raja Arab Saudi dan mulai berlaku tahun ini. Kuota ini sebelumnya dipangkas 20% pada 2014 karena renovasi Masjidil Haram di Mekkah. Presiden Jokowi mendapat tekanan hebat dari sejumlah kelompok muslim konservatif dan lawan politik yang terus-menerus menyerang serta meragukan keseriusan dan kredibilitasnya dalam ber-Islam.
Mencalonkan Diri
Masalah ini berulang sejak ia mencalonkan diri sebagai presiden pada 2014, ketika lawan-lawan politiknya menuduhnya secara keliru sebagai seorang Kristen, keturunan China dan komunis. Tuduhan bahwa ia tidak Islami kembali mencuat pada Oktober tahun lalu setelah ia membela Basuki Tjahaja Purnama, yang menggantikannya sebagai Gubernur Jakarta ketika ia terpilih menjadi presiden pada 2014. Gubernur ini, seorang Kristen keturunan China, kini sedang diadili atas tuduhan penistaan agama Islam. Ahok berencana mencalonkan diri lagi pada pemilihan kepala daerah bulan depan. Seolah mengabaikan para pengkritiknya, ia menjemput Raja Salman di bandara dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Jakarta. Waktu yang akan menentukan apakah kunjungan Raja Arab Saudi tersebut berdampak signifikan dan bertahan lama pada hubungan kedua negara, tetapi sebagaimana kata pepatah, dalam politik apa yang dipersepsikan sering kali lebih menentukan.
Hal ini terlihat di Asia, di mana pertemuan tatap muka dipandang penting untuk membangun hubungan, dan juga selaras dengan tradisi Islam yang sangat menganjurkan serta menghargai silaturahmi atau pertemuan langsung. Kedatangan Raja Arab Saudi setelah 47 tahun ini berpotensi menjadi awal baru bagi hubungan kedua negara—satu berperan sebagai tuan rumah dan penjaga situs-situs suci Islam, sementara yang lain adalah negara dengan jumlah umat muslim terbanyak. Dalam menjalin hubungan dengan Arab Saudi, Jokowi mungkin mengambil langkah yang belum pernah dilakukan oleh pemimpin Indonesia sebelumnya; langkah ini berpotensi memperkuat kredibilitasnya sebagai pemimpin negara demokrasi terbesar di antara negara-negara berpenduduk mayoritas muslim.