Apakah mungkin pelukis dan cendekiawan Renaisans terkenal, Leonardo da Vinci, bertemu dengan pejuang Melayu legendaris Hang Tuah sekitar 1503–1506? Para peneliti dari The Notebooks of Leonardo da Vinci, kumpulan tulisan dan sketsa maestro Italia ini, mengungkap kemungkinan menarik ini. Peneliti lokal kini menelaah manuskrip ini. Mereka mungkin segera meminta kolega di Eropa membantu konfirmasi identitas bangsawan Malaka. Da Vinci menyebut bangsawan itu. Dalam catatannya, Da Vinci membuat sketsa kendaraan setelah bertemu bangsawan Malaka. Kata berikutnya dalam catatan itu tidak terbaca. Pertemuan mungkin terjadi karena keduanya hidup pada masa yang sama. Da Vinci lahir pada 1452; Hang Tuah lahir pada 1431. Peneliti belum memastikan tanggal dan lokasi pertemuan. Keduanya mencapai puncak ketenaran pada masa itu. Masyarakat mengenal Da Vinci sebagai pelukis ternama dan insinyur militer yang terhormat. Hang Tuah dikirim Sultan Malaka untuk misi luar negeri, termasuk Turki.
Dr Rohaidah Kamaruddin, dosen senior Departemen Bahasa Melayu, Fakultas Bahasa dan Komunikasi Modern, Universitas Putra Malaysia, menyampaikan penemuan tersebut. Ia mempresentasikan penelitiannya baru-baru ini pada Wacana Manuskrip Melayu bertajuk Hang Tuah: Dari Mitos ke Fakta Sejarah di Wisma Sejarah. Prof Emeritus Dr Hashim Musa, profesor Linguistik Melayu UPM, juga menyampaikan makalah pada acara itu. Dr Rohaidah mengatakan catatan da Vinci membuka kemungkinan Hang Tuah memang pernah ada. Ia menegaskan karena nama Hang Tuah muncul dalam tulisan asing, bukan hanya dalam Hikayat atau Sulalatus Salatin. Dr Rohaidah menambahkan ia telah mencoba memverifikasi kedua karya sejarah tersebut dengan sumber luar negeri. Ia menjelaskan bahwa jenis bahan ini biasanya mencantumkan tanggal peristiwa penting, berbeda dengan naskah Melayu lama yang hanya merekam kejadian.
Belum Pasti
Namun, ia mengatakan fakta penemuan terbaru belum pasti; penelitian lanjutan dan konsultasi dengan sejarawan diperlukan. Ia berencana mempelajari manuskrip kuno di Spanyol atau Portugal untuk verifikasi. Dr Rohaidah menyebut sumber tepercaya mengatakan da Vinci menyinggung nama Hang Tuah. Hal itu mengindikasikan Hang Tuah berperan sebagai diplomat Malaka yang dikirim ke berbagai negara. Hashim menyatakan ada 22 karya ulama yang menggambarkan Hang Tuah cerdas, berwibawa, dan pemberani. Karya-karya itu juga menyebutkan kemahirannya berbicara dalam beberapa bahasa. Catatan pribadi Afonso de Albuquerque menyebut seorang pria 80 tahun pindah ke Temasik setelah penaklukan Malaka 1511. Kedua dosen UPM menerbitkan buku Hang Tuah: Catatan Okinawa hasil penelitian di Okinawa, didukung Kementerian Pendidikan Jepang.
Penemuan pedang melengkung tanpa gagang dan sarung di kuil Enkakuji Shuriji, yang berada dekat kastil Shuriji, menjadi bukti kuat adanya hubungan erat antara Malaka dan Jepang pada masa lampau. Keris bermotif sembilan gelombang biasanya diberikan oleh Kesultanan Malaka kepada pemerintahan lain, sedangkan keris dengan lekukan lebih sedikit diperuntukkan bagi individu. Ditemukannya surat yang dikirim Hang Tuah kepada kaisar Kerajaan Ryukyu pada 1480–1481 turut menguatkan bukti adanya hubungan baik antara Kesultanan Malaka dan Jepang. Bukti hubungan diplomatik antara Malaka dan Kerajaan Ryukyu (Okinawa masa kini) tersaji secara gamblang dalam Rekidai Hoan, sebuah naskah sejarah yang telah diperiksa dan diverifikasi oleh cendekiawan. Dokumen ini juga menggambarkan Hang Tuah sebagai tokoh yang berpengaruh di panggung internasional dan sebagai diplomat Malaka yang pernah melakukan perjalanan ke India, Turki dan Pattani.